Semangkuk Rindu

Semangkuk Rindu

Hujan, dingin, sendiri, dan rindu. Lengkap sudah aku terperangkap dalam kenangan pagi ini, secangkir kopi hitam tak mampu menghalau gelisah. Membayangkan seharian akan diam di apartemen mungilku dengan suasana syahdu karena hujan.

Tegukan terakhir kopi aku resapi dengan nikmat. Hari ini akan kuisi dengan memasak, balas dendam seminggu kerja keras. Liburan hari ini harus diisi dengan kegiatan yang seru. 

"Baiklah, Ibu temani Dara masak soto ya. Rasanya harus seperti buatan Ibu. Pokoknya harus enak kaya rasa masakan Ibu!" teriakku. Di hadapanku Ibu pun tersenyum melihat tingkahku yang berdiri sambil mengepalkan tangan tanda semangat membara.

Kubuka kulkas, yang sebenarnya aku tahu tak ada satupun isinya sesuai dengan menu soto yang akan aku buat hari ini. Maka dengan sigap aku berjalan ke arah kamar, menyisir rambut dengan cepat, mengambil jaket dan dompet serta ponsel. 

Mobil putih yang kupesan melalui aplikasi sudah siap di depan, setengah berlari aku menghampiri lalu membuka pintu belakang dan duduk nyaman menikmati hujan menuju pasar terdekat.

Aku memilih pasar tradisional, karena aku tahu Ibu anti berbelanja di supermarket.

"Siapa yang akan berbagi rejeki pada pedagang di pasar? Kalau semua orang berbelanja di supermarket?" 

Terngiang omelan Ibu tiap kali mendapati tas kresek bertuliskan nama supermarket tempat aku berbelanja. Maka aku akan selalu berusaha untuk berbelanja di pasar tradisional, berdesakan dengan banyak pengunjung, mendengarkan tawar menawar khas pejual dan pembeli di pasar, melihat para kuli mengangkat beras dengan otot yang kuat, sapa ramah penjual ikan saat menawarkan dagangannya, bahkan tanpa ragu mencoba buah yang akan dibeli, untuk memastikan buah itu manis lalu terjadi transaksi. Menikmati semua pemandangan unik tapi asik begitulah pasar tradisional.

Setelah semua belanjaan dalam daftar terbeli, aku menuju pojok kiri pasar karena penjual kelapa parut langganan ada di sana, barulah kemudian aku bisa langsung jalan melalui pintu belakang untuk keluar dari pasar.

"Santan tuh yang seger, dari kelapa asli jangan pakai yang kemasan instan ya. Kunci makanan sehat itu semua pakai bahan kualitas bagus, fresh dan asli."

Begitulah pesan Ibu tentang menjaga kualitas rasa masakan, semua harus sesuai standar Ibu. Bila sudah seperti ini siapapun tak ada yang bisa membantah, maka kami semua bisa memaklumi mengapa pilihan Ibu selalu berbelanja di pasar tradisional.

Urusan kelapa itu memiliki bab pembelajaran tersendiri jenis kelapa harus disesuaikan dengan menu masakan yang akan kita olah, sedikit rumit tapi penting. Kata Ibu untuk masak urap dan pepes dibutuhkan kelapa yang sangat muda hingga cita rasa bumbu yang tersaji akan balance dengan kelembutan kelapanya. Untuk masak rendang dibutuhkan kelapa yang sedang, dengan daging yang tebal hingga kualitas santan perasnya kualitas bagus dan menghasilkan bumbu khas rendang yang lezat. Lain lagi untuk membuat serundeng dibutuhkan kelapa yang sedang tidak terlalu tua tetapi kulit dalamnya harus dikikis bersih dan kita memarutnya dengan posisi berdiri memanjang. 

Benar saja, dengan mengikuti cara Ibu hasil serundeng tampak cantik sekali dipadu dengan bawang goreng yang berwarna kuning gading. Beda lagi saat kita memasak gulai dan opor, dibutuhkan kelapa yang sedikit lebih tua, agar santan yang dihasilkan pun memiliki kekentalan yang paling maksimal ini dikarenakan banyak santan yang dibutuhkan tidak terlalu banyak hingga dengan satu kelapa saja kita sudah bisa menghasilkan santan yang kita butuhkan.

"Cuci dagingnya di air mengalir, pastikan semua bersih ya?" Ucapan Ibu yang lebih galak daripada kalimat perintah dengan tanda seru berjajar tiga. Tanpa menoleh aku langsung membuka plastik daging yang ada di depannya, mencuci dengan bersih, memastikan tak ada kotoran sedikitpun yang menempel pada daging. 

Daging yang bersih diletakkan pada panci, diisi air  memastikan semua bagian daging terendam air, lalu merebusnya dengan api kecil. 

"Daun salam dan daun jeruk dicuci bersih, lalu jangan lupa daun jeruk, hilangkan batang tengahnya lalu masukkan ke dalam rebusan daging. Ini agar dagingnya tidak amis, jadi ingat ya ini kunci rahasia agar daging tidak amis." Suara Ibu sudah agak melembut terdengar di telinga.

"Jangan lupa kau tutup kembali, sesekali kau tengok rebusan daging itu, ambil semua buih yang ada di permukaan air dagingnya," ucap Ibu lagi.

Dengan patuh semua petunjuk yang Ibu ucapkan, kulakukan tetap dengan senyum di bibir.

"Sepi sekali, bolehlah kita memasak ditemani alunan musik," sahutku sambil mencari playlist lagu dari ponselnya.

"Naahh ini lagu kesukaan Ibu, "Kopral Djono" musiknya rancak bikin Dara semangat memasak," ujarku kali ini sambil bergoyang mendengarkan lagu kopral Djono karya maestro Ismail Marzuki yang didendangkan oleh penyanyi lawas Henny Purwonegoro.

"Kupas bawang merah lalu iris, sisihkan alam mangkok. Ingat kulitnya jangan dibuang itu bisa di gunakan untuk merebus telur kalau kau mau membuat telur pindang. Tapi kalau kau belum mau membuat telur pindang, bungkus pakai tissue lalu simpan dalam kulkas bisa digunakan kapan saja," ujar Ibu mengingatkanku untuk selalu memanfaatkan apapun menjadi sesuatu yang berguna dan berbahan alami termasuk kulit bawang merah.

Selesai mengupas dan mengiris bawang merah, sesekali aku membuka tutup panci memastikan daging masak dengan sempurna. Aroma rebusan daging saja sudah wangi karena perpaduan daun jeruk dan daun salam. Aku tersenyum puas membatin bahwa resep Ibu memang luar biasa.

"Sekarang siapkan rempah untuk kuahnya. Pala, cengkih, kayu manis, merica dan sedikit jahe. Kecuali jahe semua bahan rempah itu disangrai. Ingat, tanpa minyak ya! Cukup dengan api kecil saja," ujar Ibu sambil memperhatikan aku yang menyiapkan bumbu dan mengaduk semuanha dalam penggorengan di atas kompor dengan api kecil.

"Harum ya, rempah ini," ucapku sambil menghirup sepuasnya aroma wangi rempah yang disangrai.

"Tumbuk semua rempah yang sudah disangrai juga jahe, lalu masukkan irisan bawang merah ke dalam kuah, lalu rempah yang sudah ditumbuk, aduk rata ya," ucap Ibu memastikan semua tahapan aku lakukan sesuai perintahnya.

"Ingat memasukkan bumbu pada rebusan daging kalau sudah empuk. Jangan di awal karena akan mengubah rasa. Biarkan kaldu daging menjadi sempurna baru masukkan bumbu rempah. Setelah empuk matikan kompor lalu saring dalam panci bersih. Itu bahan dasar kaldu soto Betawi," ucap Ibu memberi arahan.

Aku dengan sigap mematikan kompor lalu mengangkat daging yang sudah direbus. Kaldu rebusan daging aku saring dengan hati-hati. Aroma wangi menyeruak memenuhi ruangan. 
Ada kepuasan yang aku rasakan, sepertinya kali ini aku akan merasakan rasa soto Betawi buatan Ibu yang sempurna karena dari aromanya sudah tercium rasa yang aku kenal.

"Ini bagian terpenting dari rahasia soto Betawi resep Ibu," ujarku sambil tertawa.

"Tuangkan santan sebanyak 500 mili, lalu campurkan dengan satu sendok susu Dancow bubuk, dan juga 60 mili susu kental manis karena kau tak ingin terlalu manis. Aduk rata pastikan tak ada yang menggumpal," ucapku mengingat perkataan Ibu tiap kali aku membantunya mencampurkan tiga macam bahan rahasia ini.

"Di tahapan ini kamu harus sangat berhati-hati. Saat menuangkan campuran susu ke dalam kuah, pastikan kamu terus mengaduknya serta ditarik ke atas lalu tuangkan kembali ke dalam panci agar santannya tidak pecah. Tuangkan tipis-tipis campuran santan susunya, jangan sekaligus. Kunci kedua saat menuangkan campuran santannya pastikan kaldu tidak saat mendidih, cukup kondisi kuah panas berasap saja. Ini adalah rahasia agar kuah tidak pecah juga." 

Aku melakukan semua perintah Ibu dengan konsentrasi penuh, karena Ibu mengawasi dari kejauhan dengan mata yang awas. Seolah siap berteriak bila aku melakukan kesalahan. Hingga akhirnya aku merasa lega, aroma soto Betawi khas Ibu sudah aku cium, memenuhi otakku hingga memanggil seluruh cacing di perut yang tak sabar ingin menikmatinya.

Terus mengaduk kuah soto Betawi, sambil tersenyum akhirnya aku bisa membuat sendiri soto Betawi resep Ibu.
Kuah yang sempurna tanpa pecah adalah sebuah keberhasilan untukku karena dulu beberapa kali aku mencoba membuatnya selalu saja mendapatkan kuah yang pecah. Karena berbahan dasar santan maka ada trik dan rahasia agar mendapatkan hasil yang sempurna. 

"Baiklah Ibu, saatnya Dara makan, ya," ucapku kegirangan.

"Kentang ayo masuk ke dalam mangkok! Irisan daging, kamu sudah siap? Sini cemplung di mangkok, tomat ayo jangan malu-malu ikut sini, daun bawang dan sledri kamu juga harus ikut ya." 

"Naah semua sudah siap? Kamu semua harus mandi berendam dengan kuah lezat ini. Eeh jangan lupa kasih kecap dan garam sesuai selera."

"Nyiram kuahnya dari samping dong, biar penyajiannya cantik kaya di restoran. Jangan asal guyur aja! Biar buat dimakan sendiri tetap harus cantik." Aku tertawa sendiri mengingat omelan Ibu bila aku mengerjakan sesuatu dengan terburu-buru.

Di meja makan sudah tersedia semangkuk soto Betawi lengkap dengan sepiring nasi putih, sambal, jeruk nipis dan setoples emping. Tak sabar aku mencicipi kuah soto Betawi, menyantapnya perlahan dengan hati bergetar bahagia.

Asap dari kuah panas yang mengepul ke wajahku, mengantarkan aroma khas yang sangat kurindu. Aroma yang ingin kupeluk, yang ingin kudekap erat-erat. Aroma yang aku ingin selamanya menetap dalam ingatanku.

Ketika sendok menyentuh bibir, lidahku bahkan sudah lebih dahulu menyapa. Rasa yang sama, yang tak pernah berubah. Soto Betawi dengan resep milik Ibu, aku berhasil membuatnya. 

"Ibu, Dara sudah bisa masak soto yang rasanya seperti buatan Ibu."

"Beneran, Dara bikinnya pakai resep Ibu."

"Dara ikutin semua tahap yang Ibu ajarkan, tadi pas nuang santannya Dara deg-degan lho takut salah."

"Ibu ... Dara kangen Ibu."

Banyak obrolan dalam hati yang mewakili rasa rinduku pada Ibu. Banyak doa yang terselip setiap hari untuk Ibu.
Dua tahun terasa sunyi, dingin dan penuh rindu untuk Ibu.

Hari ini Ibu kembali datang dengan cara yang sangat spesial, menemani aku memasak makanan kesukaan Ibu dan aku. Menuntunku tahap demi tahap agar aku bisa memasak soto Betawi seperti masakan Ibu. Karena sejak kepergian Ibu, tak pernah ada soto Betawi yang enak di lidahku. Mungkin karena aku tak ingin menyantapnya dengan hunjaman duka.

Semangkuk soto yang harusnya kumakan dengan lahap, bahkan mungkin terburu-buru, karena lapar seharian menunda makan—justru sekarang kunikmati dengan perlahan. Dengan senyum menghiasi wajahku setiap kali rasa kaldunya menyentuh lidahku. Hari ini benar-benar hari milikku dan Ibu.

Hari ini semua kerinduanku terbayar sudah. Tak ada air mata, hanya senyum bahagia menatap piring dan mangkuk kosong di meja makan.

Aku merasakan Ibu tersenyum bahagia dari tempatnya, melihat aku anak perempuannya telah berdamai dengan keadaan, mau memasak makanan kesukaan kami berdua dengan senyum. Mengingat Ibu serta mengisi kerinduan dengan cara yang sangat berbeda yaitu memasak soto Betawi dengan resep rahasia Ibu.