Maaf Mak...

Maaf Mak...
sumber : rebanas.com


Meski hanya sementara, tinggal bersamamu di awal pernikahan, kurasakan berat. Sikap sayang kepada putramu yang telah menjadi suamiku, ku anggap berlebihan dan membuatku tidak nyaman. Semua yang kulakukan untuknya selalu ada cela. Hingga ku katakan pada suamiku, "aku ga mau tinggal sama mertua."

Hingga akhirnya karena tugas kerja, putramu membawaku ke kota, meninggalkanmu hanya berdua dengan suamimu. Meski tidak tinggal bersama, perlahan kau tahu aku menjaga satu-satunya putra di antara 5 anakmu, dengan baik.

Namun tiga tahun lalu keadaan membuat kita tinggal bersama lagi.  Kali ini dirumahku, bersama putramu. Sakit membuatmu harus berobat ke kota. Dan ketika salah satu putrimu memintamu memilih mau tinggal bersama siapa selama di kota, dengan yakin kau menyebut namaku, menantumu.

Kedatanganmu kerumah kami, membuat hidupku berubah. Tak lagi kunikmati bangun siang sesuka hati, jalan-jalan tanpa batas waktu, tak ada lagi hidup bebas berdua bersama suami. Karena ada jadwal mandi, makan, minum obat, yang harus di taati. Lelah fisik dan psikis yang kurasakan, sering ku tuangkan dalam tangisan di tengah malam. 

Kurus badan dan lemah tubuhmu membuatku sadar, aku tak punya pilihan lain, akhirnya kuputuskan sepenuh hati merawat dan menjagamu. Seperti saat kondisimu memburuk yang membuat kami harus membawamu ke rumah sakit. Aku memelukmu ketika tubuhmu gemetar menahan dingin, di ruangan pemeriksaan yang  berisi alat-alat yang tak satupun pernah kulihat sebelumnya. Ku pegang erat tanganmu dan kugelengkan kepala pelan ketika dengan lirih kau bilang, "ayo pulang saja". Aku melihat tatapan ragumu ketika giliran putrimu yang menjagamu, aku juga tau kau terus mencariku ketika aku pergi sebentar membeli makan. Kaupun selalu menyebut namaku disetiap ceritamu hingga membuat putri-putrimu cemburu. Tapi kau  mebiarkan aku ketiduran dan menahan risi karena popokmu belum ku ganti.

Sehari setelah pulang dari rumah sakit, dalam keadaan lemah kau terus menatapku lekat saat kusuapi makan atau ku bantu minum. 

Pagi-pagi di hari kedua kau memintaku membersihkan tubuhmu, yang biasanya kulakukan agak siang karena kau selalu mengeluh dingin jika ku lakukan terlalu pagi. Setelah itu kau memintaku mengelus punggungmu, kau bilang gatal. Ku lalukan sebentar karena harus segera masak untuk sarapanmu. Setelah sarapan dan minum susu, kau tidur dengan lelap. Akupun melanjutkan pekerjaan rumah hingga menjelang dhuhur. 

Setelah urusan rumah beres, aku masuk kamar hendak menawarimu susu, ku lihat kau sudah bangun dengan nafas tersengal-sengal, aku panik, bingung. Ku tinggalkan kau di kamar, untuk mencari handphone. Ku berlari kembali ke kamar sambil menelepon putramu. Nafasmu masih tersengal dengan badan mulai kaku. Ya Allah...dalam kepanikan ku tuntun kau semampuku menyebut namaNYA. Tepat saat adzan dhuhur tak kurasakan lagi nafasmu. Adzan dhuhur yang terus berkumandang mengiringi kepergiamu dalam pelukanku, di sabtu siang itu. Hanya ada aku dan kamu, Mak...