Lukiskan Sendiri Kisahmu

“A girl should be two things: who and what she wants.” (Coco Chanel)

Lukiskan Sendiri Kisahmu
Watercolor painting by Elisabeth Hetty

September di Bali

Charlotte tiba-tiba berjalan cepat ke meja admin di salah satu art gallery kecil tanpa nama di dekat Pantai Sanur, Bali, setelah sekitar 15 menit ia berdiri mematung memandangi lukisan cat air  berjudul “HOPE” yang tergantung di atas pintu masuk bagian dalam. Ia heran kenapa lukisan sebagus itu diletakkan di sana, terpisah dari lukisan lainnya yang berderet di dinding.

Hari ini adalah hari ketiga ia berada di Bali bersama 11 wanita lain dari beberapa negara yang mengikuti program retret dari Wanderlust Wellness Retreats Australia; program ideal untuk para wanita yang ‘ingin melarikan diri’, melepas stres dan kekhawatiran lalu belajar fokus pada kasih sayang, cinta diri, kelembutan dan kebahagiaan, sampai mereka bisa menemukan kedamaian.

 “Who made that painting?” tanyanya sambil menunjuk lukisan yang tadi dilihatnya.

“Elina. Ni Luh Elina. She’s my wife,” jawab Nyoman, pria Bali berkulit gelap yang selalu memakai ‘udeng’ berhias sekuntum bunga kamboja kuning di kuping kanannya.

Nyoman lalu menelepon istrinya setelah wanita bule itu ingin sekali bertemu Elina. Beruntung istrinya baru selesai menyusui Putu, bayi pertama mereka yang berumur 2 bulan, sehingga bisa datang ke galeri mereka secepatnya. Seperti biasa, bayi Putu yang sudah terlelap akan dijaga oleh ‘tuniang’-nya, mertua Elina.

Setelah memarkir motor ‘scoopy' di depan galeri suaminya, ia menyapa Charlotte yang berdiri beberapa langkah dari pintu masuk dengan wajah mendongak ke atas melihat ke arah lukisannya.

Setelah saling menyapa dan berkenalan, Charlotte kemudian bertanya kepada Elina.

“I really really love that painting. I felt this painting bewitched me. If you don’t mind, could you please tell me the story behind of your painting?”

Tanpa keberatan, Elina pun bercerita.

Tiga tahun lalu, pulang dari hotel tempatnya bekerja, Gede Mahardika dan motor yang dikendarainya terpental sejauh empat ratus meter karena tertabrak mobil yang melaju sangat kencang. Nyawanya tak bisa diselamatkan.

Hati Elina yang hancur beberapa kali mencoba 'menyusul' pria yang sangat dicintainya itu tetapi rumah sakit selalu menyelamatkannya. Lalu ia menjadi gadis pemurung bahkan tetap berada dalam 'dunia diam'nya ketika mengikuti upacara-upacara rutin di Pura. Semua orang yang tahu cerita tentangnya, hanya memandang iba dan tak pernah mengganggunya. Ia juga menjadi sangat jarang berbicara dengan kedua orang tuanya, ajik dan memeknya.

Setahun kemudian, tanpa disangka-sangka, sebatang pohon menyadarkannya.

Pohon biasa dan bukan pohon ajaib yang bisa mengabulkan permintaan seperti dalam dongeng. Hampir seluruh daunnya mengering. Setiap kali memandang pohon itu, ia seperti melihat dirinya. Hidup tapi mati.

Entah kenapa, Elina bertekad tak akan membiarkan pohon itu mati. Ia putuskan untuk  menyiram rutin pohon yang tertanam sekitar lima ratus meter dari rumahnya itu dengan air yang sudah dicampur pupuk organik agar ia bisa hidup kembali. Sebulan lebih sudah berlalu. Pohon itu telah menjadi sahabatnya, teman ‘curhat’-nya.

Hingga suatu pagi, ia terkejut dan senang bukan kepalang melihat ada tunas sangat kecil tumbuh menyempil di batangnya. Tanpa sadar ia langsung melompat kegirangan sambil menjerit, lalu tertawa. Tawa yang sempat hilang dari garis bibirnya sejak kepergian Gede.

Seperti terbangun dari hipnotis panjang, Elina tiba-tiba sadar, orang tuanya juga pasti menginginkan ia ‘kembali hidup’. Ia sudah mengabaikan perasaan mereka dan hanya mementingkan perasaannya sendiri.

Dengan menenteng ember merah kosong, Elina lari pontang-panting ke arah rumahnya, lalu memeluk ajik dan memeknya, dua orang yang juga sangat dicintainya. Ia bersimpuh dan meminta maaf sambil menangis.

Ia sudah bisa ikhlas sekarang. Sang Hyang Widhi mengambil Gede-nya karena Dia sangat mencintainya.

Hari berikutnya, Elina tetap mendatangi pohon itu. Seperti biasa ia  membawa ember merah berisi air yang sudah dicampur pupuk. Bedanya adalah, kali ini ia juga membawa peralatan painting-nya. Ia lalu mengambil jarak sekitar lima meter dari pohon itu, duduk di atas rumput, mengeluarkan kertas, pensil, kuas dan pad cat air, lalu mulai melukis.

Memilih suasana winter yang mewakili ‘dingin’ di hatinya, ternyata bukan hanya satu pohon yang dilukisnya, tapi banyak.

Sebagai penutup cerita, ia menjelaskan kepada Charlotte kalau pohon-pohon yang terlihat samar di belakang pohon utama itu melambangkan harapan. Hope.  Masih banyak harapan untuk meraih kebahagiaan meski masa depan terlihat samar, menakutkan, bahkan tak terlihat sama sekali.

Betapa kagetnya Elina karena tiba-tiba Charlotte memeluknya sambil menangis. Nyoman yang melihat itu tak kalah kaget dan bertanya dalam bahasa Bali kepada istrinya apakah mungkin ia salah bicara. Elina hanya menggelengkan kepala lalu balas memeluk Charlotte.

Dengan kedua mata masih merah basah, Charlotte mengatakan bahwa ia sebenarnya punya cerita yang mirip dengan Elina.

Lalu ia mohon kepada Elina untuk menjual lukisan itu kepadanya. Ia akan membayar berapapun harga yang Elina minta. Ia ingin menggantung lukisan itu di dinding rumahnya agar bisa melihatnya setiap saat, terutama saat ia sedang merasa tidak bahagia.

Mata Nyoman langsung membelalak. Elina langsung mengangguk setuju ‘melepas’ lukisan kesayangannya itu. Elina juga mengatakan bahwa ia tidak menjual lukisan itu tetapi akan memberikannya kepada Charlotte sebagai hadiah.

Mulut Nyoman pun menyusul ternganga karena selama ini ia menolak banyak orang yang ingin membayar lukisan itu dengan harga pantas tapi Elina tidak pernah mau menjualnya. Dengan alasan itulah ia lalu menggantung lukisan itu di atas pintu masuk agar pengunjung yang datang ke galeri itu mengabaikannya.

Melihat ekspresi bingung suaminya, Elina tersenyum lembut sambil berkata, “Aku ingin Charlotte mengalami hal yang sama seperti aku. Selalu memiliki harapan setiap kali melihat lukisan pohon itu. Harapan akan datangnya kebahagiaan. Kebahagiaan itu kini telah kudapatkan darimu, dan dari anak kita. Mungkin sekarang adalah gilirannya.”

Dari hati, ia sangat berterima kasih kepada 'Artland Bali', studio seni yang berlokasi di Canggu, tempat ia dan Gede dulu pernah mengisi liburan dengan belajar menggambar dan melukis.

Salah satu keunikan art studio yang sering jadi pembicaraan bule-bule di kafe tempatnya bekerja dibandingkan dengan studio-studio serupa di Bali yang kebanyakan milik pelukis adalah gurunya.

Mr. Darius Leki, laki-laki asal Timor, pemilik sekaligus art teacher di sana, menolak disebut pelukis. 

"Istri saya pelukis tapi saya bukan. Saya guru lukis," begitulah format jawabannya ketika menjawab pertanyaan hampir semua orang yang datang ke sana.

Profesi guru seni yang dijalaninya selama hampir delapan belas tahun membuatnya bisa mengajarkan banyak teknik gambar dan lukis kepada murid-muridnya yang sangat beragam, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, yang berasal dari Indonesia maupun mancanegara, dan yang stay maupun yang hanya berlibur ke pulau dewata.

Malah ada juga bule yang cerita ke teman-temannya kalau dua anak laki-lakinya yang sangat aktif dan pemarah menjadi lebih tenang setelah belajar menggambar dan melukis di sana.

Keunikan lain adalah suasana belajar yang santai dan menyenangkan. Beberapa murid remaja yang datang ke sana sering menjadikan Mr. Darius sebagai teman curhat mereka. 

Elina yang kini bekerja paruh waktu sebagai tour guide, akan merekomendasikan studio seni ARTLAND BALI  kepada tamu-tamunya setelah Bali dinyatakan siap menerima kedatangan turis mancanegara.

Hmm.... masih ada nggak ya studio itu sekarang?