Kesiangan Sahur dan Kesabaran

Kesiangan Sahur dan Kesabaran

Hari ini akhirnya saya kesiangan sahur juga. Walaupun saya agak tidak setuju dengan istilah itu. Dibilang kesiangan, toh masih subuh, ya sudahlah, pokoknya saya tidak sempat sedikitpun makan sahur.

Padahal, Alarm sudah diset dengan benar. Hampir tidak ada persiapan yang luput, termasuk menu sahur yang sudah dibeli saat pasar ramadhan. Tinggal dipanaskan saja.

Tapi, ternyata luput juga. Saya baru terjaga di pukul 06.00, saat sayup-sayur terdengar suara khotib kuliah subuh. Menu sahur akhirnya kembali masuk kulkas untuk coba dipanaskan lagi sore ini. 

Tapi, tentu saja, walaupun tak sempat mencicipi makanan sahur, toh kita tetap tetap bisa mengambil hikmahnya. Ingat, sebesar apapun masalahnya, jangan lupa ambil hikmahnya. Begitu kata pepatah kekinian.

Kesiangan sahur ini mengajarkan soal hal-hal yang diluar kuasa kita. Soal tidur lelap yang butuh ruang waktunya juga. Tidak bisa dipaksa. Ya termasuk soal persiapan-persiapan sahur yang telah disiapkan sedemikian rupa. Kalo udah terlelap ya terlelap aja, mau gimana lagi.

Nah, saat ini udah terjadi, dan diluar kendali kita, saat itulah peran sabar jadi penting. Sabar itu menurut saya adalah berusaha sadar bahwa ada hal-hal yang di luar kuasa kita, dan sekuat apapun kita berusaha, kita tak tak tahu hasil akhirnya sampai hal apapun terjadi. 

Saat saya sadar saya kesiangan, saya sabar, karena tentu tak bisa diulang. Kita tidak bisa memutar waktu. Penyesalan berlarut tak membuahkan apa-apa. 

Tapi, sebelum sabar itu respon akhir atas setiap kejadian, ada keputusan-keputusan yang bisa kita ambil untuk sedikit banyak dapat berpotensi mengubah hasil akhir sesuai keinginan kita, walaupun tidak absolut tentunya.

Keputusan soal kapan akan tidur malam, salah satunya.

Dan saya kini bersabar, menunggu waktunya berbuka. Tentu saja.