Kenapa Kita Perlu Endorser?

Endorser Bayaran dan Gratisan

Kenapa Kita Perlu Endorser?

.

.

Karena saya bergerak di bidang tulisan dan buku, maka kita kerucutkan ke sana biar fokus.

Kenapa kita perlu endorser? Atau reviewer?

Karena rasa malas.
Malas mencoba hal baru. Kecuali kita termasuk ke dalam kelompok Innovators, atau Early Adopters, dalam Product Adoption Curve, yang orang-orang di sana memang menyukai hal-hal baru.

Orang-orang dalam kelompok ini tidak peduli dengan tren. Mereka justru menyukai sesuatu yang baru, yang belum menjadi tren. Kepuasan kelompok ini adalah justru dengan kekhususannya. Dan saat sesuatu itu menjadi tren, menjadi bahannya kelompok Early Majority, si kelompok ini sedang menunggu hal baru berikutnya.

Makanya produk baru itu perlu endorser, atau reviewer, atau tukang menilai, dan merekomendasikannya.

Buku contohnya, atau tulisan. Sudah bukan rahasia kalau mayoritas manusia di negara ini malas baca. Lebih suka mendengar dan diceritakan. Kalau ada reviewer yang bilang, "Itu buku bagus!" atau "Tulisannya bagus banget!", yang gak suka baca minimal tergerak untuk mengintip seperti apa buku itu. Walau belum tentu baca dan beli juga.

Si Innovator atau Early Adopter ini saat menemukan buku baru, akan tergerak hatinya untuk menceritakan pengalamannya. Berkesan baik atau buruk.

Jika baik, hal itu menguntungkan si pembuat produk. Jika buruk, si pembuat produk tetap bisa membuatnya jadi baik... dengan membayar. 

Maka endorser kemudian identik dengan bayaran. Coba intip IG para artis, atau selebgram. Perhatikan feednya. Di Facebook pun sama. Amati timelinenya.

Dalam sehari, bisa muncul beberapa postingan. Atau seminggu sekian kali. Dan beragam produk. Memang aslinya dia mengonsumsi semua dalam kesehariannya? Ada yang benar, ada yang tidak.

Saya pernah melihat artis mengendorse sepatu. Dari kalimat yang diucapkannya, sangat terdengar tidak dari hati. Ah, yang penting jadi duit baginya. Yang penting produknya diviralkan artis.

Saya juga sering melihat timeline yang isinya produk, dan dia melakukan endorse. Komentarnya, reviewnya, sangat terbaca standar dan bukan dari hati. Ah, yang penting ada duit masuk ke endorser. Produk diblast, like & comments ramai. Produsen senang.

Kalau endorser atau tukang review gratisan, yang murni dari hati, biasanya jarang-jarang postingannya. Kecuali dia memang pengamat brand, atau bergelut di bidang brand untuk mengamati perilaku atau value produk.

Salahkah endorser bayaran? Tidak juga. 

Karena produsen memang perlu endorser, perlu tukang review, perlu tukang cerita. Perlu pihak ketiga untuk menceritakan ulang produk buatannya.

Dan konsumen butuh rekomendasi. Mana yang bagus, mana yang viral. 

Coba lihat grafik itu. Ada 68% Early dan Late Majority. Mereka itulah yang suka dengan produk-produk yang sudah terjamin. Malas mencoba hal baru. Mereka adalah makanan empuk endorser. Sedangkan Innovators dan Early Adopters biasanya tidak akan terpengaruh ucapan orang lain, sebelum dia mencobanya sendiri. Kelompok ini tangguh dan independent. Lihat saja jumlahnya, sangat sedikit.

Tapi jika yang endorse, atau review, pengikutnya sedikit, produk itu tidak jadi ramai diperbincangkan juga.

Jadi produsen itu butuh endorser yang followernya banyak, yang berkomentar dengan kesan baik, dan yang bayarannya terjangkau.

* Namun ada juga tukang review, yang bukan endorser, yang menceritakan produk itu murni dari hati. Tanpa bayaran. Kesan baik dan buruk diceritakan. Kesan baik diumbar ke publik. Kesan buruk dijapri ke produsen.

Dan saya lebih menyukai endorser/ reviewer/ tukang cerita, yang disebut di paragraf berbintang di atas.