Jamais Deux Sans Trois

Jamais Deux Sans Trois

Suamiku yang sedang terbaring sakit memberitahuku sebuah berita duka, “Suaminya BCL meninggal”. Aku yang sedang sibuk dengan rutinitas pagi menyiapkan sarapan anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah dan kuliah, sempat tercengang dan terdiam beberapa saat mendengar berita duka itu. Tapi kemudian waktu yang mepet membuatku kembali berkutat dengan segala tetek bengek sarapan pagi dan urusan sekolah.

Setelah anak-anak berangkat biasanya aku akan lanjut dengan bebenah. Tapi pagi itu rasanya penat sekali, jadi kuputuskan untuk duduk selonjoran, leyeh-leyeh sebentar. Kunyalakan televisi. Aku kembali tertegun. Semua kanal televisi lokal menayangkan berita duka yang tadi disampaikan suamiku. Tapi bukan itu yang membuatku terhanyut. Bukan pilu membayangkan kesedihan BCL dan Noah. Bukan. Aku terpana karena satu persatu terpapar betapa Ashraf memuliakan anak yatim semasa hidupnya yang patut kita teladani. “Pantas Tuhan memanggilnya begitu cepat,” aku bergumam sendiri.

Pikiranku kembali melayang pada kejadian dua minggu sebelumnya. Tiga kali aku menerima berita duka tentang kepergian tiga orang teman menghadap Sang Maha Pencipta. Sesak rasanya dada mendapat berita duka yang bertubi-tubi.

“Assalamualaikum. Bu, Bu Siti meninggal tadi jam 4an, jatuh di kamar mandi,” begitu pesan WA dari Bu Khadijah yang kubaca.

“Ngga sakit Bu… siang kita abis ngobrol pas anak-anak sholat Jumat,” jawabnya ketika aku tanya apa Bu Siti sedang sakit.

Ingatanku kembali pada saat aku berdagang di kantin dimana anakku bersekolah. Saat anak-anak belajar, kantin sepi, jadi para pengelola kantin sering ngobrol bersama sehingga kami jadi akrab. Sering aku mendengar cerita bagaimana perjuangan Bu Siti mengurus mertuanya yang sakit. Bagaimana dia membantu keponakan-keponakannya yang membutuhkan. Bagaimana perannya sebagai tulang punggung keluarga. Luar biasa.

“Pantas Tuhan memanggilnya di hari Jumat yang mulia,” itu yang terlintas di pikiranku saat itu.

Empat hari kemudian, di salah satu WAG aku dikejutkan oleh info tentang kepergian Yuli, seorang teman masa kecilku. Yuli memang terkena kanker serviks walau tak banyak yang aku ketahui tentang perkembangan kesehatannya karena kami hanya berkomunikasi sesekali saja. Tapi dalam sakitnya, wanita yang berprofesi sebagai dokter ini tak henti-hentinya bersedekah. Melalui kliniknya Yuli selalu memberikan makanan gratis bagi yang membutuhkan.

“Pantas dia pergi begitu cepat,” ini lagi yang terlintas di benakku.

Dan ketika banyak orang merayakan hari valentine, sekali lagi aku mendapat berita duka. Anto, teman semasa Sekolah Menengah Atas berpulang. Aku benar-benar terhenyak pagi itu ketika kubaca pemberitahuan tentang kepergiannya. Ini yang ketiga kalinya aku mendapat berita duka dalam satu minggu ini.

Jamais deux sans trois, begitu kata orang Prancis. Aku belum mendapatkan padanan yang pas untuk peribahasa ini. Kira-kira maksudnya begini; kalau satu hal baik atau buruk terjadi dua kali biasanya akan diikuti kejadian yang ketiga. Ah sudah, lupakan ungkapan Prancis ini.

Aku memang tak akrab dengan Anto. Tapi setelah kepergiannya ini banyak sekali teman-teman yang mengungkapkan berbagai kebaikan yang dilakukan Anto semasa hidupnya. Anto yang baik, Anto yang soleh, Anto yang suka menolong, banyak pokoknya. Sekali lagi bergelimang dalam benakku, “Pantas Sang Maha Pencipta ingin segera menemuinya.”

Pagi ini sebelum mulai dengan rutinitas pagi, aku nyalakan televisi untuk menemani kesibukan pagiku. Aku siapkan pemanggang roti di atas kompor, kemudian kuoles roti dengan selai kacang kesukaan anak-anakku. Sayup-sayup kudengar suara voice over dari televisi:

“Kematian seorang Mukmin merupakan istirahat baginya. Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Sang Maha Pencipta.”

“Dan apa yang di sisiNya adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.”

Aku tertegun sejenak. Semua lembaran berita duka yang aku terima kembali terbuka satu per satu. Sang Maha Pencipta telah memberikan ‘istirahat’ bagi mereka. Bakti mereka memberikan jalan menuju SisiNya dengan segera tanpa susah payah.

Roti sudah kuletakkan di atas pemanggang sambil menyeka rembesan air mata yang mengalir tak terasa. Sudah siapkah hamba menuju jalanNya?

Bassura, 24 Februari 2020