Hari Ibu, Kesaksian Alam Semesta

Hari Ibu, Kesaksian Alam Semesta
Ilustrasi: Pixabay.com

Hari ibu, hari segala ruang dalam kehidupan. Agaknya kita semua mafhum bahwa ibu dalam agama apapun adalah sosok yang dimuliakan. Di samping karena mengandung anak selama 9 bulan plus menyusui selama satu tahun lebih, seorang ibu juga memberikan ruang sadar bahwa manusia tumbuh atas dasar kasih sayang.

Kasih sayang tidak hanya bermuara pada jenis kelamin tertentu, pun tidak hanya pada manusia sebenarnya, agaknya semua makhluk memiliki pancaran sifat kasih dan sayangNya.

Kemanusiaan, akan melonggarkan diri untuk tidak membatasi perasaan dan perilaku kasih sayang itu. Karena kemanusiaan adalah kesadaran manusiawi atas cipta rasa dan karsanya.

Hubungan sesama manusia, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan Tuhan adalah rangkaian cipta rasa dan karsa untuk menuju cinta kasih. Bahkan bisa jadi kasih sayang justru mengiringi perjalanan olah rasa tersebut.

Artinya, ketika kasih sayang itu dialamatkan dari ibu kepada anak dan suami, atau sebaliknya, maka ibu adalah objek sekaligus subjek olah rasa tersebut. Oleh karena itu, baik ibu ataupun bapak, mereka adalah ruas jalan yang luas, lebar dan panjang untuk mengarungi tujuan, lebih-lebih sangkan paraning dumadi.

Karena dari merekalah kita mengerti bagaimana berkomunikasi yang arif dengan sesama, dengan alam semesta (baik mikro maupun makro), pun jalan atau tarekat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tadabbur alam, tadabbur rasa, tadabbur cinta adalah bagian dari perjalanan cinta kasih yang diayomkan kepada kita oleh ibu dan bapak. Maka, tiada ungkapan yang mampu mewakili cinta kasihnya selain upaya berbakti kepada mereka.

Nabi Muhammad memberi gambaran atas siapa yang harus dimulyakan, dengan menyebut sebanyak tiga kali "Ibu" lalu bapak. Artinya tidak hanya ibu kandung, melainkan mertua dan guru. Karena mereka bertigalah orang tua sejati.

Agaknya puisi yang mengibaratkan ibu sebagai matahari dan bapak sebagai rembulan, tiada cukup untuk mewakili cinta kasihnya. Bahkan dalam tradisi jawa sering dikatakan bahwa "wong tuwo kuwi koyo kuran" artinya mulianya orang tua itu seperti al quran.

Dalam sebuah novel gubahan Daoed Joesoef yang berjudul "emak" digambarkan bahwa seorang ibu itu multi ruang. Ruang sosial, budaya, pengetahuan dan keberagamaan.

Di novel tersebut peran emak sangat besar bahkan one girl show. Gubahan tersebut ingin mewakili ungkapan cinta kasih seorang ibu kepada anaknya. Pun seorang bapak di sisi lainnya.

Hari ibu adalah hari-hari yang selagi masih hidup maka kita wajib mikul duwur mendem jero. Wajib berbakti, mendoakan dan berbalas cinta kasih dengan ibu, pun bapak. Semoga orang tua kita semua dalam naungan cinta kasih Tuhan. Amin.[]