Cerdas Menyusun Skala Prioritas

Habit ke3 dari Stephen R. Covey dalam Bukunya 'The seven habits of highly effective people, dinyatakan bahwa orang harus pandai-pandai menyusun skala prioritas dalam menjalani hidupnya.

Cerdas Menyusun Skala Prioritas
Stephen Covey

 

 

            Waktu berputar begitu cepatnya, ia menggelinding tak menunggu apa/siapa saja.  Oleh karena itu, orang cerdas harus pandai menyusun skala prioritas dalam mengisi kesehariannya. Hidup ini seolah berpacu dengan waktu, bagi mereka yang super sibuk tentu sudah merancangkan/menjadualkan seluruh aktivitas yang akan dijalaninya. Andai saja ada sepuluh agenda yang akan dikerjakan hari ini, kalau bisa terealisir semua dan bagus hasilnya.

            Namun, bukanlah DKI Jakarta itu terkenal sebagai unpredictable city atau kota yang tidak dapat diprediksi. Terkadang ada kendala macet, ada acara tiba-tiba dan urgen sifatnya, jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain sekalipun sudah menggunakan jalan tol, yang diperkirakan cukup makan waktu satu jam, ternyata bisa dua atau tiga jam. Usaha mengurangi kemacetan seperti pemberlakuan ga-ge (ganjil – genap) untuk kendaraan roda empat pada jam-jam tertentu di wilayah yang rawan kemacetan, penggunaan kartu e-tol, dan lain-lain.

            Sementara realitas kehidupan seseorang tak selamanya manis, kadang-kadang ada asam, getir dan bahkan pahit. Tak mungkin senang/gembira selamanya, akan tetapi juga tidak harus sedih berkepanjangan. Siklus hidup manusia terbatas, syukur-syukur dianugerahi panjang usia, sekalipun ada yang ingin hIdup seribu tahun. Sadar bahwa hidup ini adalah kesempatan, bahkan penulis berani mengatakan sebagai kesempatan yang sangat berharga, karenanya jangan sampai kita sia-siakan. Jarum jam saja tak bisa diputar mundur (sebab bisa rusak).

            Begitu juga dengan hidup manusia, biarlah masa lalu menjadi kenangan dan esok jadikanlah harapan, maka hadapilah hari ini dengan berpikir, bertindak dan berkaryalah seoptimal mungkin, supaya tidak menyesal nanti. Salah satu caranya ialah dengan belajar dan terus mengasah kompetensi di bidangnya masing-masing. Contoh: di bidang olah raga sudah bangkit, banyak kemenangan diraih atlet Indonesia diberbagai cabang olah raga, di bidang ekonomi pun sudah menggeliat, bertumbuh dan berkembang menghidupi berbagai sektor, begitu juga hendaknya di bidang pendidikan.

            Bangsa yang maju adalah bangsa yang menaruh kepeduliannya di bidang pendidikan. Kini sekolah-sekolah sudah digelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100%, pasti Perguruan Tinggi segera akan menyusul. Semoga di tahun pembelajaran baru bulan Agustus atau September 2022 yang akan datang sudah bisa kembali normal. Sebagai mahasiswa tentu Anda harus pandai-pandai menyusun skala prioritas dalam menempuh studi. Sebagai pendidik dan peserta didik Anda wajib menerapkan 7 kebiasaan (habit) sebagaimana dikemukakan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya ‘The 7 Habits of Highly Effective People’.

            Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia itu saat terlahir sangat tergantung (dependent), kemudian ia bertumbuh dan berkembang menjadi independen, dan seterusnya kodrat manusia adalah interdependensi (kesalingtergantungan). Untuk itu Stephen R. Covey menyusun teorinya yang dikenal dengan tujuh kebiasaan manusia yang paling efektif (mangkus): (1) Pro-aktif; (2) Berorientasi pada tujuan; (3) Skala prioritas; (4) Berpikir menang-menang; (5) Memahami dulu baru dipahami; (6) Sinergi; dan (7) Asah gergaji (Sharpen the saw). Apabila nomor 1,2,3 sudah berhasil dilakukan maka manusia itu sudah mengalami kemenangan pribadi (privat victory) dan selanjutnya nomor 4,5,6 adalah manusia yang sudah mengalami kemenangan umum (public victory). Namun, sebagaimana disebutkan pada kebiasaan yang ke 7, bahwa manusia itu harus terus mengasah kompetensinya artinya siap belajar terus (lifelong learning) dan continuous improvement.

Tiada Hari Tanpa Prestasi

            Mengukir prestasi baik dan benar adalah cita-cita dan harapan semua orang, sekalipun ekspektasi kadang-kadang berbanding terbalik dengan kenyataan. Contoh: orang menikah pasti harapannya berbahagia sampai akhir hayat, sehidup-semati, se-ia-se kata. Dalam perjalanannya ternyata ada bukit yang harus didaki, ada lembah yang harus dilalui, tidak selamanya mulus dan aman-aman saja.

            Kini pandemi covid-19 sudah melandai, bahkan dinyatakan menuju endemi, kembali bergairahlah mengukir prestasi. Di bidang apapun juga yang Anda tekuni, raihlah prestasi-prestasi hebat yang pernah Anda alami atau Anda inginkan. Pada kesempatan ini penulis fokuskan pada kebiasaan ke 3 yaitu skala prioritas. Adapun makna dari skala prioritas adalah mengurutkan peruntukkan berdasarkan tingkat kepentingan dari kebutuhan, agar paham mana yang harus dipenuhi terlebih dahulu berdasarkan urutan kebutuhan seseorang. Misalnya: kuliah dulu atau nikah dulu; punya rumah dulu atau punya mobil dulu, dan sebagainya.

            Menyusun skala prioritas artinya Anda harus membuat urutan kebutuhan dari yang paling mendesak hingga yang bisa kita tunda dulu karena tidak begitu mendesak. Sebuah pertanyaan untuk pembaca yang budiman, yang harus dijawab (sekalipun dalam hati masing-masing). Setiap orang tentu mempunyai skala prioritasnya yang berbeda-beda. Berikut adalah gambaran singkat yang dapat penulis sajikan: (1) Tingkat kepentingan; (2) Penghasilan; (3) Kesempatan; (4) Proyeksi masa depan. Adapun cara menyusun skala prioritas, cobalah mulai dengan: (1) Menyusun daftar kebutuhan; (2) Mengelompokkan urgensi kebutuhan berdasarkan periode waktu; (3) Menghitung kapasitas keuangan; (4) Memperhitungkan anggaran; buatlah urutan prioritasnya.

            Untuk mengakhiri tulisan ini, ijinkan penulis menyajikan sebuah cerita, sebagai berikut: Ada sebuah danau yang banyak batu-batuannya, didekatnya ada sebuah papan bertuliskan, yang mengambil batu akan menyesal – yang tidak mengambil batu juga akan menyesal. Heran dengan kalimat itu? Rupanya ada yang tertarik untuk mengambil beberapa butir batu itu, untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Sedang beberapa yang lain tidak terlalu peduli, mereka lebih tertarik untuk menikmati indahnya air di danau itu. Setelah kembali ke negaranya mereka meminta ahli batu permata untuk memeriksa batu-batu yang mereka bawa. Ternyata batu-batuan itu adalah sejenis SAFIR, yang dari luar tampaknya jelek tapi di dalamnya merupakan permata yang sangat indah dan mahal. Ia yang tidak membawa batu itu menyesal karena tidak mengambilnya, tapi yang membawanyapun akhirnya menyesal karena tidak membawa lebih banyak.

            Itulah pesan kehidupan, bukankah hidup manusia seperti cerita di atas? Kita diberi kehidupan yang sangat berharga namun, bukankah kita seringkali kurang menghargai hidup ini. Hidup ini begitu bernilai, jauh lebih bernilai daripada batu permata. Itulah sebabnya agar kita tidak menyesal di kemudian hari, maka kita harus menjalani hidup dengan maksimal, bekerja dengan maksimal, berkarya bagi sesama dengan maksimal, mengasihi keluarga juga  dengan sepenuh hati. Intinya  kita wajib  mengusahakan yang terbaik dengan kesadaran penuh akan pentingnya membuat skala prioritas.

 

Jakarta, 26 Mei 2022

Salam penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.