Apa yang Telah Kukorbankan?

Sebuah renungan di hari raya Idul Adha

Apa yang Telah Kukorbankan?
Salat Idul Adha (koleksi pribadi)

Aku turun dari sepeda motor, menunggu suamiku memarkir motor, lalu berjalan bersama menuju pelataran masjid dekat rumah untuk salat Idul Adha. Agak gamang sebenarnya. Ini pertama kalinya aku salat di masjid semenjak rumah ibadah sudah diperbolehkan kembali menyelenggarakan kegiatan ibadah dengan protokol yang ketat. Tiba-tiba ada rasa sedih menyelimutiku karena ini pertama kalinya aku salat Ied di masjid tanpa satupun dari anakku…

Seorang petugas mengarahkan kami untuk mengantri dengan jarak aman melewati bagian pendaftaran. Petugas pendaftaran memberi nomor, memastikan pengenaan masker, mengecek suhu badan, dan meyediakan hand sanitizer untuk digunakan semua jemaah. Setelah lolos screening, seraya berjalan menuju masjid, kami memperhatikan ada spanduk yang bertuliskan tata tertib jemaah selama berada di kawasan masjid. Tidak boleh wudhu di masjid, tidak boleh bersalaman, tidak boleh… tidak boleh… Rasanya seperti memasuki kawasan terlarang!

Sampai di dalam, ternyata masjid masih lengang karena kami berangkat cukup pagi. Dengan nomor urut 10, aku memperoleh spot di baris paling depan di bagian wanita. Spot nomor 9 dan nomor 11 tidak langsung bersebelahan denganku. Ada jarak satu spot kosong dengan tanda silang. Baris di belakangku masih kosong. Aku perhatikan spot-spot bernomor disisipi spot bertanda silang secara rapi telah disiapkan. Spot tepat dibelakangku merupakan spot bertanda silang. Jadi tiap jemaah dipastikan berjarak sekitar 1,5 meter dari jemaah lainnya. Ada rasa kagum dan apresiatif atas kerja keras panitia Idul Adha dan takmir masjid. Semua demi keamanan dan kenyamanan jemaah.

Aku tak dapat mengenali wajah-wajah yang mulai memasuki masjid. Bukan saja karena aku duduk di saf terdepan, tetapi semua orang mengenakan masker yang menyulitkanku mengenali mereka. Kami pun berjarak sehingga kurang nyaman untuk bertegur sapa. Sungguh aku merasakan suasana yang sangat berbeda. Tidak ada tegur sapa, senyum, jabat tangan, apalagi cipika cipiki. Padahal biasanya di bagian wanita, ini lazim terjadi. Ibu-ibu menggunakan acara salat Ied bersama di masjid untuk menyambung silaturahmi, menanyakan kabar anak-anak, menginfokan tempat belanja baru yang murah, dan sebagainya. Tapi kali ini… sepi… sunyi…

Aku duduk sendiri… merasa sendiri… benar-benar sendiri…  Anak-anakku tak ada yang dapat pulang mengunjungi kami. Walaupun situasi di beberapa tempat sudah aman dan memungkinkan melakukan perjalanan, anak-anak memang tidak kami sarankan untuk keluar dari daerahnya masing-masing. Semua demi keamanan dan menjaga segala resiko yang mungkin terjadi. Kalau tidak benar-benar urgent, tidak perlulah untuk bepergian jauh. Terutama bila harus menggunakan transportasi umum. Aku tahu mereka rindu… aku apalagi…! Ibu mana yang tidak ingin berkumpul dengan anak-anaknya?

Dalam kesendirianku aku sungguh-sungguh merasakan arti pengorbanan. Bukankah Idul Adha memperingati peristiwa pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS, yang bersedia mengorbankan putranya Ismail untuk Allah? Beliau ikhlas mengorbankan anak tercintanya demi menunjukkan taqwa, setia, dan cinta sejatinya kepada Allah SWT. Apalah arti pengorbanan kita untuk sedikit bersabar, membatasi kegiatan dan pergerakan, saling menjaga jarak demi keselamatan bersama. Apalah arti pengorbananku dalam menahan rasa rinduku pada anak-anakku, dibandingkan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Bahkan dibandingkan dengan banyak orang lain yang harus kehilangan pekerjaan, kerepotan dengan anak-anaknya yang harus belajar di rumah, mencari extra income untuk membeli pulsa internet agar anak-anaknya dapat mengikuti pelajaran on-line.

Ah… aku jadi tersadar. Apa yang telah kukorbankan? Aku justru harus bersyukur masih dapat menikmati segala kemudahan, kesehatan, dan keselamatan. Aku mengikuti takbir dengan suara lirih di balik masker.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar... Allaahu akbar walillaahil hamd.

Selamat hari raya Idul Adha!