TANPA BATAS

Be yourself no matter what they say...

TANPA BATAS
Tanpa Batas

 

Be yourself no matter what they say…

Masih terngiang sampai saat ini bagian dari lirik lagu "English Man in New York" yang menjadi salah satu lagu yang dibawakan Sting saat tour Back To Bass beberapa tahun silam di Jakarta.

Dengan mendengarkan syair lagu tersebut, kita bisa merasakan makna yang tersirat jelas, bagaimana tantangan untuk menjadi diri sendiri terkadang harus menjadikan kita teralienasi dari masyarakat dan lingkungan kita. Karena sistem yang ada umumnya sudah terlanjur mengarahkan kita kepada keseragaman. Akan tetapi, menjadi diri sendiri juga berarti mengamalkan nilai-nilai yang kita yakini, dan bertatakrama akan menjadikan kita unik sebagai manusia dewasa.

 

Kekuatan Kata-Kata

 

Bagaimana sebuah kekuatan kata-kata dalam lirik sebuah lagu dan buku bisa memberikan motivasi yang luar biasa bagi pendengarnya.

Pada saat itu, saya sangat menikmati musik walau hanya menjadi pendengar, tidak ada satupun alat musik yang bisa saya mainkan. Saya yang sudah kadung meyakini sebuah asumsi umum yang mengatakan bahwa waktu yang tepat untuk belajar alat musik atau bahasa itu adalah sewaktu kita masih anak-anak, mulai umur enam sampai dua belas tahun. Sementara saat itu umur saya sudah kepala empat. Usia di mana setiap bangun tidur lebih sering mengeluarkan suara yang bukan nyanyian, dan membeli minyak angin sudah menjadi kelumrahan. Oleh karena itu keinginan untuk bisa memainkan alat musik hampir tidak pernah timbul.

Sampai suatu saat ketika saya dan istri sedang mengunjungi sebuah toko buku di Singapura,

“Sayang, coba lihat! Buku ini kayanya bagus deh..”, kata istri saya sambil menunjukan sebuah buku yang berjudul Guitar Zero.

Segera saya ambil buku tersebut, dan saya baca bagian cover belakangnya.

“Menjelang ulang tahunnya yang ke-40, Gary Markus, si penulis, seorang ilmuwan terkenal yang tidak memiliki bakat musik yang jelas, memulai belajar bermain gitar dan mempelajari bagaimana seseorang dalam usia berapapun dapat menjadi musikal..”

“Menarik sekali.. di usia berapapun!”, saya mengulang apa yang tertulis di buku itu.

Setelah membaca ulasan dan bagian pengantarnya, segera saya beli bukunya. Buku tersebut menerangkan pemikiran penulis yang bertolak belakang dengan asumsi yang selama ini kebanyakan dari kita yakini tentang periode waktu yang tepat untuk belajar sesuatu. Intinya buku ini menelurusi perjalanan si penulis dalam mempelajari cara bermain gitar dan bagaimana agar orang lain bisa mempelajarinya juga di usia berapapun.

Bayangkan kamu bisa mempelajari apapun kapanpun kamu mau. Suatu pemikiran yang disampaikan melalui rangkaian kata-kata yang sangat memotivasi.

Tidak berapa lama setelah itu, suatu hari saya pergi ke sebuah sekolah musik di tanah air untuk mendaftarkan diri belajar bermain gitar. Sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati, saya mengambil kelas pada hari Sabtu, supaya lebih bebas. Sebagai seorang pembelajar dewasa, biasanya kita sangat mudah terganggu konsentrasinya oleh hal-hal lain, seperti urusan rumah ataupun pekerjaan yang membuat kita tidak mudah menyerap pengetahuan baru dengan mudah.

Hari Sabtu itu dengan semangat menggebu saya bergegas ke tempat kursus sambil menenteng sebuah gitar yang sudah saya beli, sebuah gitar bermerk Taylor hasil berselancar di internet. Katanya gitar ini bisa mengghasilkan suara yang bagus dan juga nyaman saat kita memainkannya, sebuah alasan yang saya buat-buat saja biar belajarnya tambah semangat.

Akhirnya saya sampai di depan pintu kelas, kemudian saya ketuk pintunya.

“Selamat siang!,” salam saya pada orang muda yang saya intip melalui jendela kecil yang ada di pintu kelas, sepertinya dia orang yang akan mengajar saya.

“Selamat siang…”, balasnya “Silahkan masuk.. mana anaknya yang mau belajar om?”, lanjutnya.

“Apa? anaknya…?” kata saya sambil sedikit kikuk, tapi saya berusaha untuk biasa aja.

“Hmm… sebenarnya saya yang mau belajar kok, bukan anak saya”, saya dengan tenang berusaha melanjutkan percakapan.

“Ohhh Maaaf ooom…!” kata anak muda yang mukanya memerah sambil menyatukan kedua telapak tangannya, menunjukan salam untuk meminta maaf, mungkin karena dia merasa tidak enak hati.

“Ha ha ha.. gak papa, saya Irvan, siapa mas namanya?” saya bertanya.

“Andri..”, jawabnya lagi.

Pendek cerita akhirnya saya mulai belajar bersama mas Andri ini. Walaupun diawali dengan suasana canggung, tapi lama-kelamaan berubah menjadi kelas yang menyenangkan dan tidak berasa sudah lebih dari satu tahun saya belajar. Pada akhirnya, saya bisa menguasai satu alat musik yang selama ini saya pikir mustahil. Walau tentunya belum pada tahap mahir, tapi secara teknis mulai memahami bagaimana alat musik tersebut harus dimainkan.

Jadi saya berkeyakinan, mengenai periode waktu yang tepat untuk belajar tidak hanya hadir ketika kita masih anak-anak atau masih muda. Periode tersebut bisa diciptakan, syaratnya kita harus bisa mengatur waktu agar bisa memiliki momen untuk lebih fokus. Seperti saat masih anak-anak, tidak terlalu banyak hal yang harus dipikirkan, dan bisa lebih bebas untuk menjadi diri sendiri. Walau bagaimanapun, kecerdasan intelektual dan emosional seseorang biasanya akan bertambah seiring bertambahnya umur dan pengalaman hidup mereka. Jadi seharusnya kita bisa lebih baik dalam melihat masalah dan mendapatkan pemecahannya, begitupun dalam proses belajar.

 

Menciptakan Momen

 

Saya jadi teringat proses pembelajaran saya jauh sebelum saya memahami hal tersebut. Saat saya mulai berkenalan dengan buku-buku masak, salah satu buku masak yang pertama kali menarik perhatian saya dan menjadikan memasak salah satu hobi saya adalah “The Naked Chef” yang ditulis oleh Jamie Oliver.

Buku ini ditulis dengan tujuan untuk menginspirasi orang agar mau ke dapur untuk memasak. Kita diajak untuk memasak tanpa beban. Sesuai dengan nama panggilannya “The Naked Chef”, nama panggilan yang bukan ditujukan pada dirinya, tapi pada makanan yang dibuatnya. Apabila kita membaca buku atau menonton acara televisinya, dia bisa menunjukan seakan memasak itu terlihat begitu mudah dan menyenangkan, dan untuk membuat makanan yang enak kita tidak perlu menggunakan bahan-bahan yang mewah dan mahal, tetapi bisa menggunakan bahan-bahan yang “apa adanya” dan mudah didapat disekitar kita.

Buku itu sukses menginspirasi saya juga, banyak hal baru yang saya pelajari dan temukan kemudian. Sesederhana memahami bahwa cairan yang keluar saat steak disajikan ternyata adalah protein. Cairan itu keluar dari jaringan saat daging bersentuhan dengan panas, dan itu bukan darah seperti yang orang kira selama ini. Ketika saya menjadikan memasak sebagai hobi, tanpa sadar ketika di dapur saya ternyata berhasil menciptakan momen tersebut, saya bisa lebih rileks dan fokus dengan bahan makanan yang akan saya masak. Saya sangat menikmati dan termotivasi saat berada di dapur, saya mulai menguasai prinsip-prinsip dasar memasak dengan mudah dan mulai bisa melakukan improvisasi ketika memasak, sesuai dengan bahan makanan yang bisa dan mudah saya dapatkan.

Seiring waktu, perkenalan saya dengan dunia kuliner juga mulai melebar. Dari kesukaan saya pada buku-buku masak, kemudian saya mulai berbisnis restoran. Ketika saya sedang mempersiapkan restoran kedua saya di Bali, saya bertemu dengan seorang petani penggiat kopi, Ray Bangsawan namanya. Saya ingat, pada waktu itu saya sudah tidak minum kopi, karena meminumnya selalu menyebabkan perut saya bermasalah.

“Irvan, kamu coba kopi saya!” pintanya di Kedai Kopi Kultur yang dirintisnya bersama almarhum Ayip Budiman teman saya yang juga seorang desainer.

“Wah enggaklah Pak Ray, males nih lagi di Bali, nanti gue sakit perut.. ntar kalau harus masuk rumah sakit gak bisa jalan-jalan di sini” jawab saya.

“Kalo kamu nanti sakit karena minum kopi saya, kamu saya bayarkan deh biaya rumah sakitnya”’ sedikit memaksa

Karena tidak enak menolak, sambil sedikit was-was saya coba juga kopi hitam yang diseduh menggunakan french press tersebut. Lima menit, lima belas menit, dan akhirnya sudah lebih dari tiga puluh menit tidak terasa apapun di perut saya, sambil terus asyik mengobrol tak terasa sudah dua jam lebih, dan saya tidak merasakan sakit apapun. Perut saya baik-baik saja.

“Kopi yang baik itu, dibuat dari biji kopi yang diroasting dengan baik, dan hanya diambil dari cherry buah kopi yang sudah merah warnanya..”, bang Ray mencoba menjelaskan kenapa perut saya selama ini sakit kalau minum kopi.

Dia berasumsi bahwa kopi yang selama ini saya konsumsi, adalah jenis kopi yang dipasarkan dan dikonsumsi oleh kebanyakan orang di negeri kita selama ini, yang dipanen tidak sebagaimana mestinya dan diolah dengan serampangan hanya untuk mengejar keuntungan semata.

Pertemuan bersama almarhum ini, oh ya, dua tahun kemudian beliau meninggal dunia, meninggalkan kesan yang mendalam buat saya. Sebuah perjumpaan yang mengubah pandangan dan memotivasi saya untuk mempelajari kopi lebih jauh, terutama kopi Indonesia. Keseriusan saya belajar menarik perhatian seorang teman yang sering melakukan promosi tentang Indonesia di luar negeri. Akhirnya kopi membawa saya sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat, dari ujung selatan Afrika, ke pantai barat Amerika, sampai ke sisi utara benua Eropa.

 

Bisa Karena Biasa

 

Suatu hari, ketika sedang melakukan perjalanan, saya duduk di balkon sebuah kamar hotel dengan pemandangan ke arah kolam renang. Di kolam renang berukuran olympic tersebut, saya lihat ada seorang paruh baya yang berenang gaya bebas bolak balik tanpa berhenti, dari mulai saat saya menyadarinya sudah lebih dari 50 putaran dia lakukan, berarti sudah 1000an meter lebih dia berenang. Ini adalah suatu momen lain yang menginspirasi juga buat saya. Pasti Anda pun pernah melihat orang yang bisa berenang begitu lama seperti tanpa beban dan tanpa henti.

“Bagaimana orang seumur itu bisa kuat berenang sejauh dan selama itu?” saya penasaran.

Sampai saya kembali ke Jakarta, kejadian itu tetap membekas dipikiran saya. Akhirnya saya menghubungi temen saya, dia seorang penggemar olah raga endurance triathlon.

“Hallo Andro apakabar?”

“Baik Van, gimana ada yang bisa gue bantu?”

“Gue mau tanya dong, lo punya kenalan pelatih yang bisa ngajarin berenang?”

“Ada.. buat siapa, anak lo?” ditanya seperti jadi teringat sama guru gitar saya.

“Ha ha ha.. bukan, buat gue?”

“Oh ok, ada nih teleponnya, nanti lo bilang aja tahu dari gue.”

“Ok thanks ya”, seperti biasa, saya langsung telepon pelatih tersebut.

Suatu hari, saya janjian di kolam renang Pondok Indah dengan mas Sonny pelatih renang yang dikenalkan oleh Andro.

“Halo mas Irvan, gimana udah mau langsung latihan sekarang?” tanyanya penuh semangat, “wah boleh nih..,” pikir saya pelatihnya semangat, saya suka nih.

“Gimana, sebelumnya mas Irvan sudah bisa berenang?” tanyanya lanjut

“Saya rasa sih sudah.., saya cuma pengen benerin teknik aja”, jawab saya yakin, karena memang kadang saya suka berenang walau hanya di kolam renang rumah yang panjangnya cuma 10 meter.

“Coba kita test dulu ya… nanti mas irvan coba berenang gaya dada dari ujung satu ke ujung lainnya, jaraknya kurang lebih 50 meter”, kata mas Sonny memberikan instruksi

Dengan sangat percaya diri saya langsung berganti pakaian renang, langsung nyebur dan langsung ambil ancang-ancang untuk berenang gaya dada. Saya kayuh kaki dan tangan saya secepat dan sekuat saya bisa, belum sampai lima puluh meter akhirnya saya berhenti dengan napas yang masih tersengal-sengal.

“Waduh coach.. gak kuat. heh!”, kata saya dengan nafas masih tersengal sambil bersusah payah jalan ke ujung kolam.

“Hahaha… itu sih namanya belum bisa berenang mas, tapi it's ok mas Irvan.., kita lanjutkan setelah saya lakukan koreksi ya, bisa ke pinggir sebentar!” ucap coach Sonny sambil berjalan menuju pinggir kolam. Kemudian saya berjalan ke pinggir kolam sambil sedikit malu juga untuk mendengarkan arahan yang akan diberikan oleh si Coach.

Dengan sabar coach Sonny memberikan arahan, dia menjelaskan kenapa saya kecapekan, dan tidak berhasil menyelesaikan lap pertama saya. Badan saya yang kurang rileks dan teknis bernafas saya yang belum bener yang menjadi penyebabnya. Setelah kurang lebih tiga puluh menit dia memberikan arahan dan latihan, akhirnya saya diminta untuk melakukan test lagi. Kemudian saya kembali keujung kolam untuk mempraktikkan apa yang diarahkan tadi.

Satu lap…, dua lap.., tiga lap.., dan saya berhasil menyelesaikan empat lap gaya dada tanpa kesulitan. Bum! Luar biasa sesi belajar ini, bayangkan hanya dalam waktu tiga puluh menit saya bisa berenang tanpa henti selama 200 meter. Wow! ini sebuah momen yang sangat memotivasi, tidak cuma buat saya, tapi juga bagi istri saya dan beberapa teman yang akhirnya mulai belajar berenang sejak itu.

Setelah hari itu saya rajin berlatih, saya berlatih tiga kali dalam seminggu bersama coach Sonny, selama hampir tiga bulan, pada akhirnya saya bisa berenang 1000 meter gaya dada tanpa banyak kesulitan. Betapa girangnya saya, karena di umur 46 saya baru bisa menyebut diri saya bisa berenang tanpa keraguan.

Setelah itu saya mulai latihan gaya bebas. Tahap selanjutnya dalam mengejar target semula saya untuk bisa berenang gaya bebas dengan waktu dan jarak lebih dari 1000 meter tanpa berhenti. Tapi ternyata gaya bebas tidak semudah itu, karena selain teknik juga perlu endurance yang baik. Dengan susah payah dan hampir menyerah, akhirnya setelah hampir setahun saya berlatih, saya bisa berenang 1000 meter dengan gaya bebas tapi masih harus dengan effort yang luar biasa.

Penasaran dengan hasil yang saya capai, saya coba melakukan pencarian di internet mengenai sebuah teknik berenang yang diinformasikan oleh sahabat saya Nilam pada suatu sore ketika kami bertemu untuk minum kopi.

“Ko, lo kan lagi seneng berenang, lo pernah denger metode berenang Total Immersion gak?”, tanyanya, entah sejak kapan dia selalu memanggil saya dengan panggilan Koko.

“Belum tahu gue Ci”, sayapun selalu memanggilnya Cici, walaupun dia bukan orang Cina.

“Lo cari gih, katanya keren banget.”

“Ok, gue cari deh… penasaran juga” saya menyahutinya, sambil mengambil telepon genggam saya dan langsung googling “Total Immersion Swimming”.

Dari hasil pencarian di google, ternyata ada dua orang Master Coach di Asia, yang mungkin bisa melatih saya. Yang pertama ada di jepang, namanya Master Coach Shinji Takeuchi. Videonya di Youtube ditonton lebih dari sembilan juta orang. Kalau kamu nonton videonya gak salah kalo Master Coach Shinji dijuluki “The most Graceful Free Style Swimmer”, perenang gaya bebas paling anggun, karena dia bisa berenang dengan lembut saat melaju dengan gerakan yang sangat anggun.

Yang kedua adalah Master Coach Tang Siew Kwan dari Singapura. Sebelumnya saya juga telah menonton video-video tentang Metode TI ini, metode ini diciptakan oleh foundernya yang bernama Terry Laughlin di Amerika Serikat. Dengan prinsip dasar keseimbangan, streamline dan propulsion, sambil mengurangi friksi dengan air serta memanfaatkan gravitasi untuk melaju, menjadikan kita berenang dengan lebih mudah dan efisien.

Metode TI ini bertujuan untuk mengajari siapa pun cara berenang dengan anggun dan mudah tanpa memandang kemampuan, kekuatan fisik, ataupun usia mereka.

Lagi-lagi saya ketemu dengan rangkaian kata yang bisa membius, memotivasi kita untuk terus belajar.

“Ini dia yang saya cari!”

Kemudian saya menghubungi Coach Tang di Singapura, dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat, dengan harapan biayanya bisa lebih terjangkau kalau nanti harus pergi belajar di sana. Saya segera mendaftarkan diri masuk program pelatihan yang dia buat. Saya ajak juga istri saya untuk ikut berlatih.

Setelah kami berlatih secara rutin, karena untuk menghemat biaya, program untuk kami dibuat lebih padat, dilakukan beberapa hari di setiap akhir pekan, kemudian kami harus mempelajari dan melatihnya sendiri di Indonesia. Setelah bolak-balik dan menyelesaikan beberapa level dan modul tiba saatnya kami berdua bisa berenang gaya bebas dengan mudah dan efisien sepanjang 1000 meter di kolam olympic.

Dahsyatnya energi yang terdapat dalam rangkaian kata-kata dan dengan latihan rutin, akhirnya saya tidak hanya bisa mewujudkan mimpi untuk bisa berenang gaya bebas 1000 meter dengan mudah di kolam renang, sekarang saya dan istri juga mulai memiliki hobi baru berenang di laut lepas. Kami sangat bahagia ketika kami bisa berenang bebas sejauh 2000 meter di laut lepas dengan lebih efisien.

Entah kenapa kesenangan belajar sesuatu selalu membawa kepada kesenangan untuk belajar hal lainnya. Kesenangan berenang ini akhirnya membawa kesenangan saya pada lautan. Ketika kita berbicara tentang lautan, saya jadi teringat dengan salah satu pengalaman saya ketika berkesempatan untuk mengunjungi kampung Ara, kampung para pembuat perahu tradisional di sebelah tenggara propinsi Sulawesi Selatan. Kampung Ara ini berada dipesisir pantai yang berbatasan dengan teluk bone di sebelah timur.

Selain pantainya yang indah berpasir putih, di pantai ini juga kita bisa melihat jejeran perahu phinisi yang sedang dibuat. Tempat ini memang dikenal juga sebagai sentra pembuatan perahu-perahu besar. Penduduk yang tinggal di sini disebut dengan Orang Ara yang diyakini sebagai pewaris turun temurun keahlian untuk membuat kapal phinisi.

“Menurut hikayat, dulu lunas perahu Sawerigading pernah terdampar di pantai ini, dan lunasnya itu menjadi acuan orang Ara dalam membuat phinisi, sedangkan layarnya terdampar di Pantai Bira, makanya yang bawa berlayar adalah orang Bira,” kata seorang bapak bernama Deppagalla salah satu tokoh orang Ara keturunan keluarga tertua para pembuat phinisi.

Kemampuan mereka dalam membuat perahu secara manual memang mengagumkan. Setiap komponen dibuat secara teliti agar kapal bisa tahan lama saat dibawa berlayar. Perahu tersebut dibangun dengan menggunakan kayu ulin yang sangat keras sebagai lunas, dan memiliki berat jenis yang lebih berat dari air. Dan juga kayu bitti, jati dan pude untuk bagian kapal lainnya. Kapal phinisi ini dibangun dengan craftmanship yang luar biasa, dan yang mengherankan, kapal phisnisi ini biasanya dibangun tanpa menggunakan gambar rancang bangun seperti pembuatan kapal pada umumnya. Luar biasa!

Adapun kedatangan saya di kampung Ara adalah untuk melakukan pembuatan video dokumentasi pembuatan kapal phinisi, yang akan dipresentasikan di salah satu pameran kapal terbesar Boot di Messe Dusserdolf, Jerman. Tentu seperti yang sudah kita duga sebelumnya, video dokumentasi ini mencenggangkan bagi para pencinta kapal dari seluruh dunia yang menontonnya, salah satunya Channel Sailing Yach TV yang membagikan video facebook kami di kanalnya yang saat itu menjadi viral dan ditonton lebih dari 400 ribu viewer seminggu sebelum pameran dimulai.

 

Para Penulis

 

Terkadang disetiap momen yang saya lewati saya suka membuat postingan di media sosial, kebetulan saya juga menyenangi fotografi, dan bisa membuat foto yang lumayan bagus, akan tetapi sayangnya caption yang saya tulis seringnya seadanya karena saya belum bisa menulis dengan baik.

Sampai belum lama ini, seorang teman baik saya, Tony Siahaan, merekomendasikan kelas menulis The Writers. Mungkin karena dia sebal lihat tulisan saya yang nggak jelas, hahaha.

“Bro caption lo toh kurang banget!” suatu hari pesannya terbaca di whatsapp saya.

“Lo ikut ini deh kelasnya om Bud”, sambil mengirimkan e-flyer The Writers Batch 12.

“Gimana caranya?”

“Ini ada infonya, lo kontak aja nomor yang ada disitu,”

“Kapan kelasnya dan bagaimana? ribet gue ngatur waktunya nanti.”

“Kelasnya pake WA dan bayarnya sukarela..” lanjut Bang Tony, saya biasa memanggilnya

“Sukarela, belajar via WA?”, tanya saya lagi

“Seru bro! lo harus ikut”

Seperti biasa, saya langsung gerak cepat. Saya langsung mengontak Kak Devina dan akhirnya bergabung dengan kelas menulis The Writers Batch 12 yang ternyata memang seru. Om Bud dan Kang Asep entah kenapa menurut saya telah memberikan bimbingan yang membius dan memotivasi, menjadikan menulis itu sepertinya mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan di usia berapun juga.

Pada salah satu sesi, kita mendapatkan tugas menulis dengan enam kata ajaib. Keenam kata ajaib itu adalah perahu, alien, telanjang, darah, ranjang, dan kopi. Tugasnya adalah diminta membuat cerita berdasarkan semua kata yang om Bud kasih. Keenam kata tersebut harus ada dan berhubungan satu sama lainnya dan membentuk cerita yang menarik.

Dari enam kata yang memang ajaib itu, saya baru memakai lima kata. Akan tetapi, saya sudah menulis 2972 kata yang dengan mudah mengalir di ruang imajinasi saya. Saya mulai agak tertahan untuk menulis ketika berusaha berimajinasi dengan kata ranjang, walaupun tentu banyak momen emosional yang berhubungan dengan kata tersebut. Dikarenakan dari sejak awal tulisan ini lebih banyak bercerita tentang momen-momen luar biasa yang saya alami sendiri, jadi saya mungkin belum siap berbagi hal yang terlalu pribadi dengan pembaca.

Akan tetapi kalau dipikir-pikir, dalam kurang dari dua belas sesi pertemuan, bisa mengembangkan enam buah kata ajaib menjadi lebih lebih dari 3200 kata dalam satu tulisan adalah suatu yang luar biasa yang patut saya syukuri. Kekuatan rangkaian kata itu telah mendorong saya untuk merangkai untaian kata lainnya. Menjadikannya salah satu tulisan terpanjang yang pernah saya buat selain skripsi, di luar tulisan ini sudah bagus ataupun belum. 

Dalam proses belajar menulis ini, saya menyadari bahwa selain harus memiliki creative attitude, motivasi dan fokus, ternyata tantangan terbesarnya adalah bagaimana agar kita dapat lebih bisa menjadi diri sendiri. Karena katanya sebuah cerita itu akan menegaskan siapa diri kita sebagai penulisnya.

Salah satu cara untuk bisa menjadi diri sendiri adalah belajar lebih mengenalnya. Dengan berani mencoba pengalaman baru ternyata kita bisa dengan mudah mulai memahami apa yang kita suka dan tidak suka. Kita akan lebih mengetahui potensi dan passion kita. Terkadang kita tidak akan menyangka ternyata banyak hal yang bisa kita lakukan, sesuatu yang kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya.