Susah Melihat Orang Lain Senang

Berbahagialah dengan cara kita masing-masing.

Susah Melihat Orang Lain Senang

Sejak lahir manusia sudah dikaruniai naluri kebahagiaan oleh Tuhan. Bayi bahagia kalau diberi air susu ibu, anak kecil bahagia kalau diberi mainan baru, anak remaja bahagia kalau pesan WhatsApp-nya dibalas oleh gebetan, orang dewasa bahagia kalau punya banyak duit, iya kan? Setiap manusia mempunyai naluri kebahagiaan, oleh karena itu mencari kebahagiaan memang sudah menjadi tujuan hidup manusia.

Menurut filsuf Yunani Kuno, Aristoteles, beliau mengatakan bahwa tidak ada ukuran kebahagiaan yang sama bagi setiap individu. Dengan kata lain, kadar kebahagiaan setiap orang itu berbeda.

Di zaman modern seperti sekarang ini, semua orang sangat mudah dalam menggunakan teknologi untuk mendapatkan atau membagikan suatu informasi. Dengan adanya media sosial kita lebih mudah untuk saling terhubung dengan orang lain. Tak sedikit pertemanan yang dimulai dari ruang terbuka yang oleh banyak orang sering disebut medsos.

Dengan maraknya penggunaan media sosial, rasanya tidak lengkap kalau sesuatu yang membuat hati bahagia tidak diunggah di medsos, seakan-akan semua orang harus tahu kalau dirinya sedang bahagia. Tetapi sialnya selalu ada saja orang yang nyinyir terhadap unggahan orang tersebut.

Ya, selalu ada saja orang yang nyinyir terhadap unggahan orang lain, kadang orang seperti ini beraninya cuma ngomentarin dari belakang lalu diolah jadi bahan pergibahan dengan orang yang satu sirkel, huh cupu! Orang-orang seperti ini bisa disebut SMS, yaitu Susah Melihat orang lain Senang.

Usut punya usut, setelah melakukan observasi kecil-kecilan ternyata alasan mereka nyinyir yaitu karena menganggap apa yang orang lain unggah di medsos itu adalah suatu hal yang norak bagi si penyinyir ini. Hasil observasi saya menyatakan ada dua alasan kenapa mereka menganggap norak, pertama karena mereka sudah mengalami hal yang diunggah oleh orang lain tersebut, kedua karena mereka iri dengan hal yang diunggah oleh orang lain tersebut. Iri? Bilang bosss.

Mungkin orang-orang seperti ini belum paham bahwa kadar kebahagiaan setiap orang itu  berbeda. Ada orang yang bahagia dengan mengunggah foto kulinerannya di Facebook, ada orang yang bahagia dengan curhat di Twitter, ada orang yang bahagia dengan mengunggah Instastory sampe titik-titiknya panjang di instagram, dan ada juga orang yang bahagia dengan membuat konten joget di TikTok. Yang tidak bahagia adalah orang-orang yang tidak toleran terhadap kebahagiaan orang lain.

Hanya karena orang lain mencapai kebahagiaan dengan hal yang kau anggap norak, bukan berarti kau bisa seenaknya menggunjing orang itu, Ferguso. Kadar kebahagiaan setiap manusia berbeda. Lagian, kalau enggak bisa memberi kebahagiaan kepada orang lain, seenggaknya jangan mengusik kebahagiaan orang lain.

Hal ini kadang dipengaruhi oleh rasa suka atau tidak suka kepada orang lain. Jika pada dasarnya memiliki rasa tidak suka kepada orang yang bersangkutan, maka hal sebaik apapun yang dilakukan orang itu akan tetap salah di mata mereka dan akan tetap menjadi bahan pergibahan.

Sebenarnya, dalam media sosial, kalau memang kita merasa terganggu dengan unggahan orang lain yang sering mengakibatkan iri dan dengki, ya, bukankah di media sosial ada fitur unfollow dan block? Pake, dong, sayang. Kalau masih enggan untuk unfollow dan block, ya, tinggal di-skip aja, cari unggahan atau konten lain yang lebih bermanfaat.

Tapi pada realitanya, sayang seribu sayang, orang-orang seperti ini justru malah mencari penyakit dengan terus mengikuti setiap unggahan orang yang menjadi target gibahnya. Setiap unggahan targetnya tersebut seakan-akan menjadi materi giibah untuk dirinya dan teman satu sirkel.

Namun, kalau memang mereka bahagia dengan mengusik kebahagiaan orang lain, ya, biarlah. Kita tidak bisa menutup mulut orang lain, tetapi kita bisa menutup telinga kita untuk tidak menghiraukan ucapan orang lain. Walaupun hal tersebut tidak bisa dibenarkan, ya, biarlah.

Memangnya, apakah mungkin mereka benar-benar bahagia setelah nyinyir dan menggibahkan kebahagiaan orang lain? Saya rasa tidak, itu bukan kebahagiaan. Karena menurut Aristoteles (lagi), orang akan mendapat kebahagiaan apabila selalu menghadirkan pilihan-pilihan yang baik dalam perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam intelektualitasnya. Dengan kata lain, kebahagiaan didapatkan dari hal-hal yang baik, bukan dari hal-hal yang buruk.

Selalu ada orang yang tidak bahagia dibalik kebahagiaan kita. Sudah seharusnya kita saling toleransi terhadap kebahagiaan orang lain. Berbahagialah dengan cara kita masing-masing. Selamat berbahagia.