Watashinoie (Bagian Ketiga)

Seharian ini Amalia disibukkan oleh urusan kampus, lalu pulang ke rumah untuk melihat kondisi ibu sembari istirahat siang. Betapa lelahnya, sore itu ia harus ke kampus lagi untuk berjumpa dengan beberapa mahasiswa yang ingin berdiskusi tentang materi kuliah, membuat tubuh Amalia menjadi kaku. Yang dibutuhkan malam ini hanya mandi air hangat lalu bergelung di ruang tengah dengan segelas teh tawar panas.
Mobil memasuki halaman rumah, tampak lampu teras menyala redup dan benar saja tante Karin sudah keluar membukakan pintu pagar, karena sudah menjadi kebiasaan bila pagar rumah selalu terkunci. Sambil menurunkan semua buku yang dibawanya tadi, Amalia menyodorkan kotak yang berisi singkong keju hangat pada tantenya.
"Ibu sudah tidur? Aku lelah sekali Tante, pengen cepat mandi terus minum teh panas," ujarnya manja, karena hanya dengan tantenya ini dia bisa bermanja dan berkeluh kesah tentang semua hal.
"Iya, Tante buatkan teh jahe ya, Sayangku. Tadi dua kali Dokter Danu menelepon menanyakanmu, mungkin ada hal penting tentang Ibumu?" Penjelasan tante membuat kening Amalia berkerut.
"Duh, apa lagi ini? baru saja mau istirahat nyaman, masa sudah harus mikir lagi?" sahutnya lesu.
"Jangan suuzon, nanti kau telepon Dokter Danu ya, Tante jadi gelisah," pinta tante seperti biasa tak akan mampu membuat Amalia menghindar.
"Baiklah, setelah mandi nanti ya, Tante," ujarnya sambil berlalu melewati ruang tidur ibu. Amalia masuk lalu merapikan selimut ibu, menyetel AC agar ibu nyaman tidur, mengambil gelas plastik yang ada di meja kecil samping tempat tidur ibu, serta mengecek piring kecil khusus tempat obat ibu yang tersisa hanya bungkus kosong. Berarti ibu sudah meminum jatah obatnya malam ini. Memandangi wajah ibu yang tertidur dengan damai, dalam hati Amalia berdoa untuk ibu semoga bisa terus sehat walau apa pun kondisinya.
Kembali ke rumah adalah sebuah kebahagian lain, mandi dengan nyaman di kamar mandi pribadinya, mengoleskan lotion ke seluruh tubuhnya demi relaksasi agar ia bisa tidur dengan nyaman. Setelah segala urusan mandi dan kesegaran tubuhnya selesai, ia memutuskan memakai daster ternyaman, menggelung rambutnya sederhana, menyajikan bingkai wajahnya yang sangat cantik dan anggun. Amalia melangkahkan kaki ke ruang tengah, tante Karin sudah menunggunya dengan dua cangkir teh jehe hangat serta sepiring singkong keju sebagai bekal mengobrol mereka berdua. Ada dua bantal kesayangan untuk mereka berdua.
"Tante, tehnya enak sekali. Ini teh terenak yang hanya master yang bisa meraciknya," sanjung Amalia.
"Sudahlah minum saja tak usah menyanjung Tante," sahut tante Karin pura-pura kesal.
"Hahaha, Tante cantik kalau ngambek," ujarnya sambil menyeruput teh jahe kesukaannya.
"Ingat telepon Dokter Danu ya, Nak, mungkin ada yang penting tentang Ibumu."
"Kemarin kata dia kondisi Ibu sudah lebih baik, bisa komunikatif lalu ada masalah apa lagi?" tutur Amalia kesal.
"Sudahlah telpon saja biar jelas," sahut tante sedikit mendesak.
Tanpa bisa membantah akhirnya menekan nomor telepon pribadi dokter Danu. Sambil menunggu nada sambung Lia sempat mencomot singkong keju dan mengunyahnya dengan cepat. Nada sambung di seberang masih berdering, Lia melirik jam yang di dinding, sepintas terpikirkan kalau saat ini dokter Danu tidak bisa mengangkat telpon karena sedang sibuk praktek, baru saja hendak meletakkan gagang telepon ternyata sebuah suara menyapanya.
"Halo selamat malam, ini pasti Amalia Kartika?" ujar si penerima telepon di seberang sana.
"Iya, Selamat malam, benar saya Amalia, ini Dokter Danu?" balas Lia kaku.
"Senang akhirnya Lia bisa menelepon, dari tadi saya tunggu, lho! Baru pulang, ya?" Nada santai membuat kening Amalia berkerut.
"Ada apa, Dok? Apakah ini tentang Ibu?" sahut Lia agak tegang.
"Lho, memang harus tentang Ibu baru saya boleh menelepon? Kalau tentang Lia gak boleh?" tanya penelepon di seberang, yang justru kata-kata itu membuat hatinya lega, berarti bukan tentang ibu.
"Bukan begitu, tapi Lia kaget kalau Dokter telepon ke rumah," ujar Lia polos.
"Makanya, kasih nomer telepon ponselnya Lia, biar saya bisa hubungi langsung. Jadi Lia gak kaget kalau saya hubungi," ujarnya masih dengan nada santai.
"Hahahaha, Lia lupa nomor handphone, ingatnya cuma nomer telepon rumah sakit dan kantor polisi," sahutnya santai.
"Bolehlah, kalau begitu yang penting bisa hubungi Lia."
"Ih, Dokter bercanda aja, kirain ada yang penting," sahut Lia memotong pembicaraan.
"Ini justru paling penting, saya mau bilang kacang gorengnya enak," tutur penelepon di seberang dengan nada berbisik.
"Lho, itu buat Dokter Rizal, kenapa dimakan?" Lia diam-diam menggoda sambil tersenyum.
"Udah ijin kok, sama Dokter Rizal buat makan kacang goreng bawaan Ibu dan juga ijin mau ajak Lia nonton, kata Dokter Rizal boleh, asal dijaga dengan baik Lia-nya," kata dokter Danu, yang membuat Lia terkejut.
"Lah, kok ijin jauh banget? Gak mungkin Dokter Rizal kasih ijin," balas Lia sambil tertawa.
Sementara itu, tante Karin masih tegang menanti apa inti pembicaraan dua orang yang sedang menelepon itu. Tetapi karena melihat situasi malah mencair dan Lia yang tertawa maka, diputuskannya bahwa ini bukan soal ibu tetapi entah soal apa. Maka tante melangkah mengecek seluruh pintu dan jendela agar ia bisa segera tidur, meninggalkan Lia yang masih asik mendengar celoteh dokter Danu.
***
Begitulah, sejak telepon pertama mereka malam itu maka keduanya berlanjut ke telepon kedua, ketiga dan menjadi ke-seratus kali. Lalu ada saja episode saling jemput untuk sekedar makan bakso, kemudian obrolan panjang bila sedang mengantar ibu kontrol, hingga menjadi rutinitas mobil dokter Danu sering terparkir di rumah Amalia. Teras menjadi tempat favorit mereka untuk mengobrol, ada tawa berderai dan juga rangkaian cerita tentang keseharian mereka masing-masing.
Amalia sangat tahu bagaimana keluarga besar dokter Danu, mereka adalah keluarga terpandang di daerahnya, ayahnya seorang politikus dari sebuah partai yang besar, ibunya juga seorang pegawai BUMN terkemuka hingga adiknya yang terkenal sebagai seorang model. Maka tak pernah terbesit dalam khayalan bahwa hubungan mereka akan serius, Amalia pun sangat tahu bagaimana sepak terjang dokter Danu karena banyak sekali info yang dia dapatkan secara tidak sengaja. Amalia cuma ingin menikmati rasa lain yang baru pertama kali dia rasakan dan alami, rasa bahagia yang membuatnya bersemangat. Hingga malam ini semua menjadi runtuh, semua menjadi kelam bagai bangunan yang luluh hancur hingga tak tersisa.
Pagi tadi baru saja Amalia dibangunkan dengan pesan singkat yang membuatnya melayang.
"Amalia Kartika maukah kau menikah denganku?"
"Amalia Kartika maukan kau menjadi istriku?"
"Amalia Kartika tolong jawab, sebelum kamu berangkat ke kampus!!"
Dan Lia hanya bisa tertawa bahagia. Hingga malam pesan itu tak dijawab Amalia. Maka selepas maghrib, dokter Danu datang dengan membawa seikat mawar, sepelastik besar snack kesukaan Amalia, dan juga lima kotak martabak aneka rasa kesukaan ibu dan tante Karin. Melihat tingkah dokter Danu maka Lia sontak tertawa bahagia dan langsung mengatakan bahwa ini bentuk dari sogokan tak bermoral hingga dokter Danu ikut tertawa.
Tapi Tuhan tak ingin melihat Amalia tertawa lebih lama, di hari yang sama, semua menjadi runtuh. Ketika ide dokter Danu tentang ibu terkatakan, maka Lia sudah tahu bahwa lelaki baik yang duduk di sampingnya ini bukanlah sosok yang dia inginkan. Karena syarat mutlak menjadi pendampingnya adalah lelaki yang bisa menerima keberadaan ibu dan bisa menghormati ibu walaupun kondisi ibu sakit jiwa. Bila syarat itu tak bisa dipenuhi, maka Lia akan memilih untuk tidak menikah dan lebih baik dia mengabdi mengurus ibu sepenuh hati.
Tak ada yang harus disesali dari sebuah hubungan, karena memiliki ibu dengan kondisi sakit jiwa adalah anugerah walaupun itu membuat Amalia terisolasi secara pergaulan. Bukankah ini sudah ia hadapi sejak lama? Bukankan air matanya sudah kering untuk menangisi bagaimana ejekan teman sekolahnya tentang kondisi ibu? Bukankah ia sudah berjanji akan tetap tersenyum tanpa menghiraukan apa pun omongan orang? Termasuk menghindar dari keluarga yang tidak bisa menerima kondisi ibu yang sakit jiwa, menjauh dengan keluarga yang merasa kondisi ibu adalah aib keluarga semua akan ditepisnya.
Amalia memilih berjuang merawat ibu dengan segala kemampuannya, dan juga berusaha bangkit, bertekad menjadi yang terbaik agar orang yang menghinanya bisa menunduk suatu hari nanti. Kini langkahnya sudah tinggal di ujung, menjadi asisten dosen sudah ia raih, nilai akademis yang terbaik akan diraihnya pula, tinggal sedikit lagi ia akan menjadi sarjana dan semua itu ia persembahkan untuk ibu. Maka tak rela dia bila harus menukar semuanya dengan pernikahan dengan seorang lelaki yang justru tidak mengakui ibunya.
Dengan isak tangis yang tertahan, Amalia berjongkok mengambil pecahan vas bunga yang jatuh tersenggol ibu, untung saja ibu tidak terluka. Dengan sigap Amalia menggandeng ibu ke kamar lalu merebahkan tubuhnya dan menenangkannya dengan pelukan sambil berbisik itu tak apa, besok kita beli lagi vas bunga yang lebih cantik, yang penting ibu sehat dan tidak terluka.
Pelukan ibu mengendur tanda ibu sudah tenang, maka Lia pamit untuk membereskan pecahan kaca. Tante Karin datang dengan plastik sampah di tangan, sambil memunguti pecahan kaca tante berkata, "sudah biar Tante yang beresin, kamu temui Dokter Danu saja, dia masih di depan, Lia," ujarnya.
"Sudah, biar dia pulang Tante, semoga tidak kembali lagi," ujarnya dingin.
Sontak Tante berhenti membersihkan pecahan kaca, lalu terdiam menatap Amalia. Amalia yang ditatap sedemikian rupa tak kuasa menahan tangis. Maka tumpahlah semua, runtuhlah semua pertahanan dirinya. Dibimbingnya keponakannya itu ke sofa lalu mereka berpelukan dengan derai air mata yang bersamaan. Isak serta cerita yang sepotong-sepotong menemani mereka melalui malam itu. Tak tahan mendengar cerita Amalia maka tante berkata, "kamu berhak bahagia, Nak."
"Tapi aku tak akan pernah menukar Ibu dengan kebahagiaanku."
"Cukup aku yang merasakan, aku ingin Ibu bahagia dengan kondisinya yang sekarang, aku ingin menjadi anak berbakti. Biarkan aku merawat Ibu, Tante" ujarnya tersedu.
Cukuplah malam ini menjadi cerita sedih untuk Amalia dan tante Karin. Sudah tak ada lagi nama dokter Danu dalam pembicaraan mereka, karena tante Karin sangat paham akan sifat keras dan keteguhan hati Amalia. Sudah dipastikan ini tidak akan menjadikan Amalia terpuruk, justru ini akan menjadikan dirinya terpicu untuk melakukan entah apa. Namun Karin memanjatkan doa tulus dalam hati agar ini semua menjadikannya lebih dewasa.
***
Sejak kejadian malam itu tak ada yang berubah. Amalia bisa menyembunyikan luka hatinya di hadapan ibu dan tante Karin. Semua berjalan normal. Amalia tetap ke kampus, tetap sibuk dengan dosen dan mahasiswa serta teman kuliahnya, bolak-balik untuk urusan penelitian, mengajar membantu dosennya serta lembur mengerjakan skripsi.
Satu-satunya yang membuatnya risau adalah jadwal kontrol ibu dengan dokter Danu karena pertemuan itu tak bisa dihindari. Walau agak kaku, mereka berdua bisa menutupi semua dihadapan ibu, berusaha mengobrol walau itu lebih banyak basa-basi, menghindari tatapan karena itu hanya akan membuat luka hati. Ujian yang paling sulit adalah bila berhadapan langsung dengan dokter Danu, tetapi sekali lagi demi baktinya pada ibu semua dia hadapi, dan berhasil semua dapat dilaluinya dengan tenang. Pelukan hangat tante Karin seolah memberinya kekuatan dan mengatakan bahwa kamu adalah wanita tegar. Itu saja sudah lebih dari dukungan yang tak ternilai.
Amalia terus-menerus mengingatkan dirinya, bahwa ia tak akan pernah menukar ibunya dengan kebahagiaannya.
--Bersambung
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.