Untuk Sebuah Janji

Untuk Sebuah Janji

Cerita ini diawali dari sebuah pengakuan jujur dari saya, Zifa Faradila. Saya adalah seorang gadis berusia 26 tahun yang sudah malang-melintang di dunia malam. Maaf, saya mengatakan diri saya gadis, itu sebab status saya di KTP tertulis belum menikah walaupun secara harfiah saya bukan gadis lagi. Saya lupa sudah berapa lelaki yang tidur dengan saya. Yang saya ingat cuma saat tidur dengan Ardian, pacar pertama saya.

Sialan! Setiap mengingat Ardian, hati saya selalu marah, mendidih rasanya ingin mengutuk diri sendiri karena kebodohan saya. Tolong, jangan tanya sudah berapa kali saya mengugurkan kandungan. Saya sendiri lupa.

Saya bukan gadis baik-baik. Sejujurnya, saya menyadari itu dan bahkan saya selalu takut bila menjalin hubungan yang serius dengan siapapun. Mungkin saya takut akan dicampakkan setelah pasangan saya mengetahui kehidupan masa lalu saya.

Pengakuan saya tidak cukup sampai di sini, saya juga seorang pemakai narkoba, atau tepatnya mantan pemakai. Lama saya bergelut dalam dunian hitam yang mengerikan itu, lama juga saya berjuang untuk keluar dan bebas sepenuhnya. Apa yang ingin kalian tanyakan pada saya? Narkotika jenis apa yang ingin kalian tanyakan? Hampir semua sudah saya coba dan itu membuat saya jijik pada diri saya saat ini.

Saya menjadi budak narkotika sejak masuk SMA. Ya, benar, sejak saya mengenal lelaki pengecut yang bernama Ardian itu. Dasar anjing! Dia lelaki laknat yang harus menjadi orang pertama yang masuk neraka. Semoga saya bisa melihatnya menjerit kesakitan saat terpanggang di api.

Ada benci yang mendarah daging dengan mahluk yang bernama Ardian itu. Ah, jangan tanya soal dia lagi, saya muak! Jujur saya lupa kenapa saya bisa sampai terjerumus dalam dunia hitam, mungkin karena saya patah hati kemudian saya tak bisa mengendalikan emosi saya saat menerima kenyataan saya ditinggalkan oleh Ardian. Ya Tuhan, sudah saya bilang jangan tanyakan apapun yang berhubungan dengan lelaki itu!

Oh, iya … saya ingat, saya ikut mengonsumsi narkoba saat Ardian dan teman-temannya sedang memakai. Saya dengan bodohnya ikut-ikutan demi cinta. Cuiih! Bodohnya saya merusak diri sendiri demi cinta.

Tapi bagaimana saya tidak menyebut namanya? Seluruh hidup saya selalu terhubung dengan bajingan tengik itu. Dialah penyebab utama saya seperti ini tetapi dia juga yang membuat saya ingin keluar dari dunia gelap itu. Kebencian saya padanya, dendam saya pada keluarganya, membuat saya berusaha keluar dari semua keterpurukan saya, semua sudah lewat saya dan sudah bersih sekarang.

Saya sudah bisa menikmati sinar matahari pagi, sudah bisa tersenyum pada orang, sudah bisa menatap masa depan walau banyak sekali yang tertinggal di belakang, bahkan saya seperti orang bodoh yang baru tersadar bahwa selama ini saya tertidur hidup dalam dunia mimpi. Ya, mimpi yang sangat buruk.

Baiklah, hari ini saya akan bercerita tentang bagaimana saya bisa keluar dari dunia kelam itu. Jujur, saya lelah bercerita sebab itu membuat saya harus menyiapkan energi ekstra untuk kuat. Saya ingin melupakan semuanya dan ingin menghapus semua jejak masa lalu saya.  Saya ingin jangan pernah ada yang mengungkitnya kembali karena saya menyesal pernah melakukan hal bodoh.

Klasik sekali, ya? Tapi itulah yang sebenarnya terjadi.

Hari itu saya melihat ibu saya menagis dalam gelap di ruang tengah, pada tengah malam saat saya baru pulang dari pesta bersama teman-teman. Saya benci melihat ibu menangis. Entahlah, saya merasa ibu adalah wanita lemah yang selalu menurut pada ayah yang sangat jahat.

Ups, maaf. Saya mengatakan ayah jahat karena ayah sangat keras, galak dan juga suka memukul. Terlebih saat ayah mengetahui kelakuan nakal saya. Dia sangat marah, mengamuk setiap berjumpa dengan saya bahkan menyumpahi saya dengan semua kata kotor dan saat itu saya puas telah membuatnya tersiksa dengan kelakuan saya.

Tetapi melihat ibu menangis adalah siksaan buat saya. Dia wanita yang sangat menyayangi saya,dan itu  tidak pernah berubah, dari saya menjadi anak baik hingga anak yang kotor perlakuan ibu tetap sama. Selalu ada senyum dan pelukan hangat untuk saya. Selalu ada sarapan enak untuk saya walau sarapan itu akan menjadi makan sore karena saya memiliki dunia berbada dengan orang normal. Bahkan ibu tidak pernah marah dengan cacian walau dia tahu uang, perhiasan bahkan barang berharganya hilang saya curi untuk membeli narkoba.

Selalu ada bisikan bahwa ibu menunggu saya untuk kembali menjadi Zee yang dahulu ataupun Zee yang baru, ibu selalu menunggu itu. Maka malam itu saat saya melihat ibu menangis dalam gelap saya datang dan duduk disampingnya dengan mata sedikit terpejam karena pengaruh alkohol.

“Ibu kenapa?” tanya saya.

“Ibu dipukul Ayah lagi?” saya masih mencoba bertanya walau saat itu saya yakin saya bicara dengan suara yang menjijikkan karena pengaruh mabuk.

“Bu, kita pergi saja dari rumah ini, kita tinggal berdua di tempat yang jauh hingga Ayah tak bisa mencari kita. Di desa … iya, di desa yang jauh. Cuma ada Ibu dan Zee, dan kita bisa bahagia di sana”

Saya meracau tak jelas, tetapi malam itu saya bisa merasakan belaian sayang ibu di kepala saya dan saya sangat yakin ibu pasti merasa sangat sedih melihat kondisi saya yang sangat kacau.

“Ibu cuma mau Zee sehat, kembali seperti dulu. Zee yang sayang Ibu,” sahut ibu dengan suara isak tangis tertahan.

“Zee masih sayang Ibu, kok,” sahut saya dengan suara parau.

Ibu menggeleng sambil berusaha tersenyum. Saya ingat, itu membuat dada saya terasa sesak. “Ibu mau Zee yang dulu. Mau ya, Zee berobat? Ibu temani biar Zee betah di tempat rehab.  Ibu janji tidak akan meninggalkan Zee di sana.” 

Saya tertohok. Permintaan ibu sangat sulit untuk diterima.

“Ibuuuuu, Zee mau dipeluk,”  pinta saya tiba-tiba pada wanita itu. Saya tidak mengerti, tapi saya rasa ibu pasti mengerti bahwa itulah cara saya mengatakan ‘ya’.

Bagaimana menurut kalian? Gila, kan? Apa yang akan saya katakan bila yang meminta hal mustahil itu adalah seorang ibu yang sangat saya sayangi? Seandainya yang meminta itu orang lain, mungkin saya akan memberikannya umpatan atau mungkin tawa paling hina yang saya miliki.

Entahlah, saya lupa, atau tepatnya berusaha melupakan bagaimana saya bisa sampai di tempat rehabilitasi. Untuk keberapa kalinya saya lupa, tetapi kali ini saya berjanji, ini akan menjadi kali terakhir saya berada di sini. Tiap hari saya menjalani terapi yang sangat membosankan dan menyakitkan, tetapi demi melihat senyum ibu, saya kuatkan diri sendiri dan berusaha mengikuti semua program.

Jangan tanya bagaimana rasanya. Semua menyakitkan, semua bagai siksaan untuk tubuh dan jiwa saya. Mendengar semua arahan dokter pendamping , mengikuti setiap langkah yang selalu ditolak oleh akal dan tubuh saya. Tetapi saya berusaha melawan semuanya, mengadirkan sosok yang paling saya benci sebagai motivasi saya keluar dari dunia hitam ini.

Saya ingin menjadi  Zee yang baru, menghadapi hidup dengan bahagia, bisa menemani ibu berkebun, menikmati masakan ibu dengan tawa, menemani ibu ke pasar, mengantarkan ibu arisan dan juga menikmati duduk di teras sambil minum teh hangat buatan ibu. Itu semua motivasi saya untuk sembuh. Saya tak ingin lagi membuat ibu menagis, saya tidak ingin melihat air mata ibu karena kelakuan saya.

Sampai hari ini saya belum tahu apa yang akan saya lakukan untuk masa depan. Otak saya belum kuat untuk berpikir jauh, dan yang terdekat adalah saya ingin berbagi mentari pagi bersama ibu.

Saya tak ingat berapa lama saya direhabilitasi. Yang saya rasakan semua tubuh saya berangsur normal, saya ingin melupakan proses rehab yang  sangat menyiksa itu. Bagaimana saya ingin lari keluar, bagaimana saya ingin bunuh diri karena  frustasi  dan sakau. Sekarang semua sudah lewat, tubuh saya bersih dari pengaruh narkoba, tugas saya bagaimana menjaga agar tubuh ini tetap sehat, bagaimana saya harus mengisi hari saya dengan bahagia.

Semua pertemanan saya hapus, saya menjauh dari semua teman lama saya. Tak jarang masih saja ada yang menghubungi saya mengajak saya untuk berjumpa tetapi semua, bisa saya tolak dengan halus. Karena hampir setiap waktu saya berada di rumah, di samping ibu.

Semua kegiatan kami lakukan berdua. Kami berkebun menanam tomat, cabai, buah dan banyak lagi. Ini kegiatan paling konyol yang pernah saya lakukan bahwa saya bahagia memegang cangkul, dan juga bernafsu menggali tanah lalu menabur benih. Setiap hari melihat pertumbuhannya dengan hati berdebar seperti menanti kelahiran bayi yang sangat diharapkan. Lalu ada rasa bahagia saat melihat tanaman itu tumbuh subur dengan batang yang semakin tinggi serta daun yang selalu bertambah. Ya Tuhan, ini adalah kebahagiaan saya yang baru, dan semua saya lakukan bersama ibu.

Ada pula saat saya sibuk di dapur membantu ibu memasak. Walau tugas saya hanyalah mengupas kulit bawang dengan bonus boleh memotong sayur sesuai arahan ibu, tetapi itu sangat mendebarkan saat semangkuk sayur tersaji saya merasa sudah menjadi koki terhebat yang pantas disejajarkan dengan chef hotel berbintang  lima.

Saya juga lupa bagaimana tiba-tiba hidup saya menjadi sangat sempurna. Ayah bisa menjadi lelaki sabar dan penyayang di mata saya, dan kami bisa saling berbagi cerita lucu hingga tertawa bersama. Saya bisa duduk lama menemaninya membaca koran hingga ibu harus menyuruhnya beranjak untuk pergi ke kantor bila tidak ingin terlambat, dan selalu ada pelukan setiap ayah akan berangkat pergi.

Tatapan matanya  seolah berkata ‘jaga dirimu, ya, Nak, jangan keluar rumah, di luar banyak bahaya’  dan saya menyakinkan ayah bahwa saya ingin sehat terus dan tak ingin kembali ke dunia hitam itu.

Itulah cerita saya.

Ah, tetapi ada satu hal yang saya ingkari, yang ingin saya sembunyikan sebagai rahasia saya sendiri tetapi tidak! Saya harus jujur bahwa motivasi terbesar saya ingin terbebas dari narkoba adalah saya ingin membuktikan pada Adrian bahwa saya adalah wanita kuat, wanita yang bisa hidup bahagia tanpa dirinya, bahwa saya juga bisa membahagiakan orang tua saya dengan kembali menjadi anak baik.

Bahwa saya bisa keluar dari dunia yang sudah dia wariskan sebagai malapetaka untuk saya dan keluarga, bahwa saya adalah wanita kuat yang bisa menjadi sehat demi bisa memperlihatkan senyum kemenangan padanya suatu hari nanti.

Bertemu dengan dia? Tentu saja tidak! Saya tidak akan pernah ingin berjumpa dengannya. Jadi saya tak akan pernah bisa memberikannya senyum kemenagan ini. Saya tidak ingin menemuinya dalam kondisi apapun, dan itu membuktikan bahwa saya sudah mengubur ingatan tentangnya sangat dalam. Saya tak ingin membuatnya kembali hidup walau itu hanya dalam bayangan.

Meski begitu, ada satu momen yang tak bisa saya lupakan hingga saat ini. Ketika itu, saya harus pergi keluar untuk suatu kepentingan tanpa didampingi oleh ayah atau ibu. Saya berkendara dengan mobil untuk membuat diri saya merasa nyaman dan terhindar dari orang-orang yang saya takutkan akan mengenali saya. Saya pikir, tidak ada salahnya memanjakan diri saya sendiri. Maka saya berakhir pergi ke sebuah kafe tempat saya biasa nongkrong dengan teman-teman saat SMA dulu.

Saya menyesap kopi hitam saya dengan khidmat sampai mata saya menangkap sosok yang sangat saya kenali, memandang saya dalam diam tanpa memedulikan lawan bicaranya yang mengoceh entah apa. Itu Adrian. Saya tidak tahu apa yang saya rasakan sampai lelaki itu tiba-tiba berdiri dan menghampiri meja saya.

Saya ingat sekali, pada hari Minggu yang sedikit kelam itu dia mengenakan jeans belel dan kaos yang dibalut jaket kulit hitam. Gaya berpakaian yang khas sekali. Saya berdebar, antara takut dan marah melihat wajahnya yang kelewat tenang bertatap muka dengan saya. Kecemasan melanda saya dengan hebat.

“Hei, nggak mungkin aku salah kenal. Kamu Zee.”

Itu jelas sebuah pernyataan ketimbang pertanyaan. Saya berusaha tidak memutus kontak mata. “Dan kamu Adrian,” jawab saya datar. Meski syaa yakin dia bisa melihat kepanikan dalam mata saya.

“Apa kabar, Zee?”

“Aku rasa aku baik.”

Adrian memainkan tisu di tangannya sambil diam-diam mengukir seringai. Senyum yang dulu saya selalu sukai, namun kini saya benci. Rasanya saya ingin menumpahkan kopi panas ke mukanya, kemudian menghantamkan cangkir ke kepalanya.

“Kita nggak pernah basa-basi sebelumnya, tapi ini asik juga.”

Saya mengernyit tidak suka. Saya rasa saya lebih baik segera pergi. “Apa maksudmu? Kamu membuang waktuku. Lebih baik kamu kembali pada gadismu,” ujar saya sambil sedikit melirik ke belakang, tempat gadis lawan bicaranya tadi menunggunya dengan wajah kusut.

Adrian menggapai jemari saya di atas meja. Takut, benci, marah, semua campur aduk, tapi saya berusaha kuat untuk melawan dantidak menepis tangan kotor itu.

“Denger dari anak-anak, katanya kamu udah berubah. Aku nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba ngilang, dan kembali dengan perubahan total seperti ini. Masih ada tempat buatku?”

Saya geram. Saya tepis tagannya dengan kuat, yang membuatnya terkekeh dengan begitu menyebalkan.

“Maaf? Kembali? Aku nggak kembali, asal tahu saja. Aku berubah. Aku menjadi Zee yang baru. And you know what? There’s no place for you, bahkan bagi ingatan tentangmu di hidupku,” tukas saya. Itu membuatnya terdiam.

“Im not that easy, you stupid.” Saya tertawa. Saya bisa tertawa di depannya! Ah, menyenangkan sekali melihat wajahnya yang tampak geram.

“Kita pernah berada di tempat yang sama, di tingkat yang sama. Kita pernah sama-sama bodoh akan segala hal, Adrian. But now see, we’re different,” ujar saya sambil tersenyum simpul. “Aku berubah. Aku menjadi lebih baik, dan lihat dirimu? Kamu masih di tempat yang sama. Stuck there forever.”

“You don’t know what are you talking about.”

Gembira rasanya melihat Adrian kehabisan kata-kata untuk mendebat. “Ah, I know exactly what Im talking about.” Saya bangkit dari kursi, memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini.

“Dan untuk pertama sekaligus terakhir kalinya, aku tegaskan padamu, aku nggak mengenalmu lagi. Kita berbeda, Adrian. Aku punya hidupku, dan kamu punya hidupmu. Mari tidak saling mengganggu satu sama lain. Whatever it is, kamu perlu tahu, Zee yang baru tidak pantas untukmu,” tukas saya penuh percaya diri. “Karena Zee yang baru terlalu baik untukmu yang hina.”

Saya bisa mengingat wajahnya yang pias sebelum saya melangkah keluar kafe dengan dipenuhi rasa percaya diri. Momen itu membangkitkan kebencian sekaligus membuat saya makin mencintai diri saya sendiri. Itulah terakhir kalinya saya berjumpa dengan Adrian, si brengsek.

Tidak! Saya tidak lagi mencintainya, saya sangat membencinya. Saya ingin melupakan dia selamanya. Dia hanyalah masa lalu kelam saya. Pahamilah, saya hanya ingin selalu menghadirkan dia sebagai monster jahat yang harus saya hindari. Saya tidak akan berjumpa lagi dengannya, saya yakin itu. Bahkan untuk keluar rumah saja saya sangat tidak ingin lagi, saya takut berjumpa dengan teman lama saya, saya tak ingin mereka mengetahui keberadaan saya.

Maka ayah dan ibu mengambil keputusan untuk melindungi saya dengan menemani saya kemanapun saya pergi. Terbayang kan, saya bagai anak kecil yang selalu dijaga demi keamanan ? Barulah saya menyadari bagaimana mereka sangat menyayangi saya dengan tulus. Hingga saat ini setelah semua berlalu saya benar-benar merasa yakin tak akan pernah lagi kembali ke dunia itu maka mereka bisa melepas saya berjalan sendiri.

Yakinlah bila kamu sudah merasa muak dengan kebodohan, maka tak akan pernah ada jalan untuk kembali ke sana.

Sudah 2 tahun ini saya sangat merasa percaya diri, saya bisa menikmati hidup tanpa takut terjerumus kembali. Saya bertekad untuk sehat selamanya. Terlebih setelah saya berjumpa dengan kalian, teman-teman baru di komunitas ini, di mana saya sangat bahagia merasa menjadi diri sendiri dengan bebas. Menelanjangi diri tanpa malu akan hinaan dan cibiran. Di sini saya bisa menjadi Zee yang sebenarnya. Bebas bercerita bahwa saya mantan pecandu, saya wanita kotor dan banyak lagi kebodohan lainnya. Di sini saya tidak memakai topeng apapun dan saya bahagia.

Terima kasih untuk pertemanan sehat ini. Saya akan sangat rindu hari Kamis untuk bisa berjumpa kalian. Untuk bercerita tentang hal konyol yang saya lakukan hari ini dan juga hal bodoh yang saya lakukan di masa lalu, serta bebas tertawa saat mendengarkan kalian bercerita tentang hal yang sama konyol serta puas menangis saat mendengarkan cerita sedih salah satu di antara kita.

Ayolah … jangan tatap saya seperti itu, saya baik-baik saja. Saya berjanji untuk selalu sehat, selalu bahagia, dan melupakan Adrian. Saya mungkin suatu hari nanti akan kembali membuka hati untuk lelaki baru yang bisa membuat saya bahagia. Untuk masalah ini saya butuh waktu, saya belum siap karena saya masih ingin sendiri dan membayar waktu saya yang hilang bersama ayah dan ibu.

Menurut kalian saya masih cantik, kan? Masih pantas memiliki kekasih?  Jadi tunggulah, kalian adalah orang pertama yang akan tahu bila saya kembali jatuh cinta. Untuk sebuah janji hidup bahagia, saya harus berjuang sendiri, mengisi seluruh hari saya dengan hal positif, menjaga diri saya dari pengaruh buruk, memilih dengan selektif teman yang didekati dan menjauh bila ada sinyal buruk dari mereka.

Paranoid, benar saya bahagia menjadi orang yang paranoid. Ijinkan saya mengakhiri sesi ini dengan berteriak,

Anjiiiiing!

*****

Seisi ruangan ikut berteriak  serta bertepuk tangan sebagai penyambutan . Begitulah rutinitas Zee setiap Kamis. Datang duduk dan bergilir menceritakan apapun demi sebuah kelegaan dan jalan menuju kebahagiaan, dengan cara mereka yang paling sederhana dan bermakna.

Di ruangan itu, Zee kembali menemukan dirinya yang hilang, kembali mengisi harinya dengan secuil masa depan yang nantinya akan terus terangkai menjadi besar. Bersama mereka yang pernah merasakan hidup dalam dunia kelam dan bersama pula berjanji untuk tidak akan pernah menoleh ke belakang.