Tua Muda itu Persepsi Saja Kok

Tua Muda itu Persepsi Saja Kok

Suatu sore, saya dan rekan saya melakukan perjalanan dari Desa Sejiram ke Desa Badau yang berada di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Perjalanan yang ditempuh selama 3,5 jam menggunakan hilux tersebut, membuat kami ngobrol banyak hal bersama dengan supirnya yang ternyata warlok alias warga lokal.

Pada waktu itu kami berbincang tentang pemilu. Rupanya di warung-warung kopi sekitaran, topik politik itu sesuatu hal yang wajib bahkan sebelum jaman pemilu. Ngobrolin politik di warung kopi, sambil merokok dan main kartu itu suatu kewajiban Bapak-bapak kayaknya.

”Kaya di tivi apa tuh Bu, yang ilc ilc itu” begitu kata Pak Supir. Saya dan rekan saya pun mengangguk-angguk sambil mendengarkan analisa beliau soal pemilu di Kapuas Hulu. Jujur saya takut untuk beropini mengenai politik kalau belum kenal lawan bicara saya. Maka saya dengarkan saja ceritanya beliau, yang dari mulai politik sampai harapannya kelak kepada anak-anaknya.

“Saya kerja sekarang demi anak-anak Bu, supaya mereka bisa sekolah tinggi nanti. Saya tabungin nih gaji saya, ga saya pake buat judi kaya orang-orang. Bagusnya kan sekolah di kebun juga ga bayar jadi bisa lah sedikit-sedikit kekumpul. Maklum Bu, saya dan istri saya kan ga selamanya muda bisa kuat kerja kaya gini (jadi supir)”, kata beliau sambil nepuk-nepuk stang mobil.

Dengan kecepatan mobil 100 km/jam dan kondisi jalan yang ajut-ajutan serta beberapa kali melewati hutan rindang, kami pun hanyut dalam perbincangan.

“Bapak dan Ibu masih muda, tapi jangan lupa kita ga selamanya bisa kuat kerja begini ya Bu. Ibu dan Bapak dari Jakarta ke sini bisa sebulan sekali kan. Saya suka denger dari kawan supir lain suka antar Ibu. Enak Ibu masih muda, kerja bisa sambil keliling Indonesia ya”, sambung Beliau.

Saya yang dibilang masih muda ini jadi penasaran sama si Bapak. Berhubung hari sudah malam, jadi saya hanya bisa mendengarkan dia bicara tanpa bisa melihat raut wajahnya. Dari suaranya yang berat sih memang tampaknya sudah tua. Sudah begitu, cara berbicaranya juga terdengar wise.

“Maaf, Bapak sekarang usia berapa?” rasa penasaran ini harus tuntas dalam hati saya.

“Wah saya sudah tua Bu, sudah kepala dua”

“Oooo...mm...maksudnya?”

“Iya bu, anak saya sudah dua”

(Oh maksudnya kepala dua itu dua anak). Tapi saya merasa masih ada yang mengganjal, saya tanyakan lagi.

“Kalau bapak kelahiran tahun berapa?”

“Jadi malu nih bu, saya lahir tahun............sembilan belas............. sembilan lima”

.....

.....

.....

.....

Seketika saya ingin sekali buka jendela dan teriak sekerasnya “WOOOOYYYY GUA JAUH LEBIH TUA DARI LU MALIIIIHHHH”

Tapi karena citra yang harus dijaga, saya jawab “oh, sama dengan adik saya kalau begitu pak”.

“Oh ibu punya adik seumur saya, memang ibu tahun berapa?” tanya beliau berhati-hati.

“Hahahahaha saya kelahiran 80 an pak”.