Ya Allah Jauhkanlah Aku Dari Ibu-ibu Pake Motor Yang Lampu Seinnya Ke Kanan Tapi Beloknya Ke Kiri

Ya Allah Jauhkanlah Aku Dari Ibu-ibu Pake Motor Yang Lampu Seinnya Ke Kanan Tapi Beloknya Ke Kiri

Ceng kiiiiiinngg, bunyi suara rem angin truk, mengerem mendadak di depanku. Pikirku, apa yang menyebabkan dia berhenti tiba-tiba?. Setelah ku perhatikan ternyata sang supir berhenti, sebab di depanya ada emak-emak yang belok mendadak.

 

Perjalanan ku lanjutkan kembali, kemudian aku berhenti di penjual cendol langgananku dekat lampu merah. Sembari menikmati es cendol pesananku. Ada sebuah truk di lampu merah, yang menarik perhatianku. " Ya Allah Jauhkanlah Aku Dari Ibu-ibu Pake Motor Yang Lampu Seinnya Ke Kiri Tapi Beloknya Ke Kanan".

 

Tulisan di bokong truk itu mengingatkanku, dengan kejadian barusan, dan kecelakaan yang pernah ku alami dulu. Ya dulu aku pernah menabrak motor seorang ibu-ibu hingga jatuh. Posisinya, bagian depan motorku beradu dengan bagian belakang motor ibu itu.

 

Pernah lihat kasus emak-emak di jalan? Biasanya emak-emak kalau naik motor, memang sering, ngasih lampu sein kanan, tapi beloknya ke kiri. Begitupun sebaliknya. Seperti yang pernah ku rasakan. Memang sih, tidak semuanya seperti itu. Hanya kebanyakan kejadian di jalanan ya begitu.

 

Aku mengendarai motorku, dengan kecepatan 40 Km/h di jalur kiri. Si ibu berada di jalur kanan. Ku lihat lampu seinnya yang sebelah kanan menyala. Jadi aku mengira, dia akan berbelok ke kanan. Ku percepat laju motorku, mendadak si ibu tadi berbelok ke kiri. Pas di depan kendaraanku, alhasil tabrakan pun tak terhindarkan. Ban depan motorku, menghantam spakbor belakang ibu tersebut.

 

Ku dorong kendaraanku, untuk menepi, lalu menolong ibu tadi. Di bantu warga sekitar yang melihat kejadian itu. Namun yang terjadi setelah itu, Ibu tersebut malah memarahi aku.

 

"Kamu kok ngga ke kanan? Ngga lihat kalau aku mau minggir? Kata si ibu kepadaku.

Dengan wajah bingung, aku bertanya kepada si ibu "Maksut ibu?? Ngga lihat kah, aku sudah pasang sein kanan gitu?

"Kenapa ngga belok kanan. Malah mendadak belok kiri." Kataku.

"Loh aku, pasang sein kanan, supaya kamu bisa ke kanan lah! Ku pasang itu, artinya kamu yang ke kanan. Aku yang ke kiri. Kata si ibu.

Mendengar itu aku pun hanya bisa terdiam. 

 

Keasyikan mengenang saat-saat apes itu, aku pun di kagetkan, oleh teguran bapak penjual es.

 

"Mas, itu esnya sudah habis. Apa mau tambah lagi?" Tegurnya.

"Boleh pak saya pesan 1 lagi." kataku.

"Pak, Setuju nda sama tulisan yang ada di truk itu." Tanyaku

"Nda setuju mas. Agak berlebihan kalo mau dibilang begitu." Ujar si bapak.

"Loh kenapa pak? Kok berlebihan."

 

Kemudian si bapak pun mulai menceritakan alasanya.

 

Gini mas, orang-orang cuma ngeliat mereka lagi di jalan ngelakuin itu. Tapi pernah ngga, orang-orang itu mikir kenapa mereka begitu. Mereka tahu kok, kalau belum terlalu bisa bawa motor, tapi mereka di paksa keadaan. Ibu-ibu bawa motor untuk keperluan keluarganya. Mengantar anak, membeli sayur untuk makan keluarganya, ataupun untuk berdagang. Harusnya yang seperti itu di apresiasi sama orang-orang bukan malah di nyinyirin. Kenapa? Karena mereka, perempuan mandiri yang tidak mau merepotkan anak-anaknya, atau bahkan suaminya. Ia tahu anak-anaknya lelah sepulang sekolah, atau Ia tahu suaminya lelah setelah pulang bekerja. Itu sebabnya mereka harus membawa motor. Gitu mas

 

Mendengar penjelasan bapak penjual cendol, aku hanya bisa mengangguk anggukan kepalaku, tanda setuju. Setelah mendengar perkataan si bapak. Aku jadi teringat, ibu ku juga dulu sempat minta di ajari naik motor. Mau dipakai jualan sayur katanya, kalau bisa naik motor. Sebab motornya nganggur karena aku, akan pergi ke luar kota untuk waktu yang lama. 

 

Setelah habis gelas cendolku yang kedua. Aku berpamitan kepada si bapak. Berkat nasehatnya, sekarang cara pandang ku, terhadap ibu-ibu yang salah sein jadi berubah.