Kepada Cahaya Aku Berpulang

Sudah menjadi makanan sehari-hari berita atas hilangnya nyawa seseorang dikarenakan menyerahnya dia atas dunia. Sudah bukan lagi sekali dua kali ada nyawa yang hilang berkat kejamnya para manusia. Kepada semua jiwa yang sedang berusaha untuk melawan sakit tenang, kamu tidak sendiri. Mungkin ini satu kebingungan diantara ribuan pilu lainnya yang ada di depan kamu, semangat! Untuk kamu yang sekiranya adalah sumber sakit seseorang, semoga bisa berhenti, ya! Sebelum menyesal telah menjadi bagian atas alasan hilangnya nyawa seserang:)

Kepada Cahaya Aku Berpulang

“Ctek Ctek Ctek”

Sudah beribu kali pemuda itu menarik karet yang mengikat masing-masing tangannya lalu dilepaskannya lagi. Rasa sakit yang seharusnya dirasakan, sudah tidak lagi menutupi rasa gelisahnya akhir-akhir ini. Keringat dingin yang sedari tadi mengucurpun seakan tidak bisa dihentikan oleh apapun, bahkan jiwanya sekalipun.

Tangan itu sudah mulai berbercak kemerahan, bahkan cairan merah sudah mulai keluar perlahan, namun sepertinya, tidak ada yang menyadari tindakan aneh pemuda tersebut dikala itu. Terbiasa hidup sendiri diantara hiruk pikuk kota, membuatnya terlalu sering mencoba untuk berdamai dengan dirinya seorang diri. Tanpa ada andil  tangan seorang kawan. Memang sudah sedari dulu, Rama tidak punya tempat untuk pulang.

Selama ini, lembar demi lembar kertas lah yang menjadi kawannya, dan goresan pena menjadi nafasnya, sungguh tidak ingat lagi, kapan terakhir kali Rama memiliki teman berwujud asli, yang satu bangsa dengannya.

Bukannya tidak ingin mencoba, namun Rama sudah terlalu sering bercerita dengan dunia melewati tulisannya. Berharap ada yang sadar akan kondisinya, namun ternyata tidak ada yang tertarik dengan manusia berhati hampa. Sudah berjuta kali ia mengirimkan sandi untuk meminta pertolongan, namun Rama lupa bahwa tidak akan ada manusia lain yang ingin memberinya tangan.

“Haduh, ada kelas lagi hari ini, ini tulisan belum kelar lagiiii, huft!”

“Astagaaa, harus ketemu orang lagi, ini tangan blm normal lagi kulitnya!”

“Apa bolos lagi aja ya hari ini? Duh, tapi jatah cuti udah abis”

Itu hanyalah beberapa kalimat kegelisahan dari beribu kalimat kegelisahan lainnya yang selalu terluncur dari mulut Rama setiap kali ia harus masuk kampus. Iya, dia memang terlalu benci keramaian, terlalu benci melihat manusia-manusia yang isi otaknya hanya sampah dan kata-kata sepedas sambel matah, (Ya bedanya sambel matah enak, kalau ini pait banget kayak makan tai kucing) Terlebih lagi, dengan kondisi kulit tubuhnya yang bisa menjadi bahan ejek sekitar yang sekaan ia adalah orang gila. Seluruh pagi di hari kampusnya, Rama selalu berkutat dengan handsaplast untuk menutupi cacat pada kulit tersebut.

“Hah, si Rama masih idup ternyata. Hahahhaha!”

“Maksud kamu apa?” Jawab Rama setengah tidak sabar.

“Astaga, kaget gue! Ternyata ni bocah bisa ngomong! Gue kira bisu sumpah, hahaha!” Kalimat ejekan yang terkesan sangat ngasal terlontar dari mulut teman kampusnya.

Sungguh, ini hanya sebagian kecil dari berbagai hal yang pernah di alami Rama semasa hidupnya. Terlebih lagi, dengan dia yang selalu mendapati orangtuanya bertengkar setiap ia kembali ke rumahnya di hari libur. Suara teriakan dan pecahan benda yang saling dilemparkan orangtuanya adalah makanan Rama sedari kecil. Sungguh tidak ada tempat baginya untuk mengistirahatkan jiwa raganya. Seluruh badannya dapat kau dapati memar dan luka yang ia buat sendiri demi melampiaskan pikiran dan halusinasi dunianya yang sungguh fana. Hanya dengan mimpi malamnya ia dapat merasakan bahagia dan tenangnya hidup di dunia.

Satu tahun telah berlalu dari aksara yang tertulis pada lembar sebelumnya. Kondisi Rama? Tidak ada yang berubah, semakin buruk? Wah, jelas! Luka sayat baik yang tampak maupun yang tak tampak telah memenuhi jiwa raganya. Hingga rasanya, untuk bernafas saja tubuh tak sanggup.  Tidak ada lagi pijakan untuknya bertapak, melainkan terhidangkan untuknya pilu yang berteriak.

“Persetan hidup ini! Kepada siapa lagi aku harus berkeluh kesah?!”

“AAAAAA!!! Lelah, Cape Mati!!”

Sudan tidak ada lagi alasan Rama sabar. Tidak ada lagi ketidak enakan terhadap sekelilingnya yang menjadikan ia diam. Tidak ada pula euforia sedikitpun, bahkan yang tanya sebatas ilusi nurani.

“Rama bajingan! Rama lemah! Rama udah tidak kuat lagi tuhan… Rama tidak kuat.. Rama lelah… Rama sesak.. Kenapa tuhan mencekik Rama semakin keras dan keras setiap harinya, Tuhan?”

Otak rama sudah mengepul-ngepul malam itu. Asap atas kepalanya tidak lagi bercampur dengan sejuk pagi. Tubuh yang seharusnya terlapisi mantel tebal malah terperangkap pada kaus setengah busuk favoritnya yang dimana adalah peninggalan satu-satunya teman sebangsa yang peduli dengannnya, dan telah prei meninggalkan Rama beberapa tahun silam. Salah satu alasan mengapa Rama tidak lagi mempunyai alasan untuk tetap berdiri. Kakinya kembali melangkah sejauh mungkin. Semakin jauh dan jauh ia berkelana. Sudah tidak ingat lagi  berapa lampu jalan yang telah ia lewati. Kemudian terlihatlah cahaya terang dari ujung sana, mengajaknya untuk pulang kembali kerumah barunya, seakan menjulurkan tangan yang selama ini ia cari-cari, diayunkannya kedua kakinya secepat mungkin. Wajah berseri-seri ia tunjukkan dengan bebasnya pada langit, karena pada akhirnya bertemu temannya. Kini cahaya itu telah melahapnya habis. Membawanya pada dunia yang seharusnya, yang menghargai Rama sebagimana semestinya. Ramapun diselimuti canda tawa dan hangatnya kasih dari terangnya cahaya tersebut. Karena faktanya, jika memang dunia tidak dapat memberi Rama peluk hangat, maka memang suddar sepatutnya Rama terlahap oleh cahaya tersebut, dan hidup tentram pada duna barunya.