Sebuah hati yang Selalu menanti

Sebuah hati yang Selalu menanti

Hampir setahun berlalu, rasanya hati enggan melepaskan kerinduan yang mengisi harian si Ceka.

Perempuan mungil yang selalu terlihat riang dan ramah akan tawa dan senyum hangat, menyapa semua orang yang bekerja di gedung tua, tempat dia bekerja.

Ceka yang memiliki rambut ikal dan paras manis selalu berusaha menarik senyum lebarnya, walaupun disela waktu kesendiriannya sering kali termenung. Di balik meja kerja yang dipenuhi komputer dan alat tulisnya, acap kali rasa rindu yang timbul karena mendengar lagu. Tak sesekali juga matanya tak terbendung menitikkan air yang menahan rasa rindu, kerinduan yang tak mungkin.

"Kamu kenapa, Ceka?". Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, masuk sosok pria sebaya.

"Ah.. Gak apa-apa, Navi! Cuma ngantuk aja... ayolah kita bahas kerajaan yang kemarin belum selesai"

Tak bisa terucap kerinduan akan sosok yang sudah hampir satu tahun dia putuskan. Mengalah demi kebaikan orang lain, mungkin itu yang terbaik. Tetapi hati gundah terus menghantui, walaupun kadang-kadang menyebabkan suasana hati menjadi tak menentu.

"Vi, gw ijin jam 3 buat telpon ya, gw ada sesi ma sanggar gw?"

"Sanggar?? Lo ngajar nari? Apa ngajar teater?". Tanya Navi dengan muka yang senyum menyindir.

"Ah, emang menurut Lo gw bakat jadi penari atau aktor? Ngaco Lo ah... Engggg.. mmmh...duh..gimana ya.." penuh ragu Ceka berkata-kata.

"Bukan, hmmm... Lo jangan bilang-bilang ya!" Muka Ceka yang berubah serius dan tajam.

"Kenapa Lo, cek?", Tangan Navi berhenti menulis, dan mulai bingung melihat raut muka Ceka yang berubah.

"Sanggar Jiwa.. gw lagi ikut terapi jiwa, Lo diem-diem aja ya.. gw ga enak kalau orang kantor tau...!", Dengan suara yang memelan Ceka menjawab.

"Oww.. lo kenapa?? Lo lagi ada masalah apa? Kok sampe segitunya? Lo gila? Eh.. pantesan ide Lo suka gila-gila ya... " Canda Navi berusaha mencairkan ketegangan.

Itulah Navi, pria kecil yang selalu berpakaian rapi dari ujuang rambut Sampe ke bawah. Perawakannya yang terlihat selalu serius jika tidak kenal dekat, tetapi selalu bisa mencairkan suasana tegang dengan candaan kecilnya. 

"Iye lah... Gw butuh menyalurkan kegilaan gw.. eh.. meningkatkan kegilaan gw biar bisa kasi ide gila lainnya.. ah, elo kayak ga kenal gw..." Ceka pun membalas kelakarnya.

Jam 3

"Cek, tuh hp Lo nyala-nyala... Kenapa ga dibunyiin seh hp Lo? Kan orang jadi susah kontak Lo, apalagi kalau Lo ga liat hp!" Protes Navi.

"Hahahahha... Biar konsen kerja. Lagi pula sejak tahun lalu, hp gw selalu di silent, berasanya ga ada yg cari-cari gw. Apalagi sejak gw putus.. rasanya gak ada yg marah, kalau gw gak angkat telp gw. Kalau penting juga paling tulis di wa" balas Ceka sambil meraih hp yang berada tak jauh dari tangannya.

"Ah... Elo melow banget seh.. kan udah hampir setahun Lo putus ma cowo itu, kenapa ga bisa lupain aja seh? Dia juga ga pernah nyamperin Lo kan? Cuma kontak sesekali buat say hai!" Navi dengan tegas mengingatkan kisah Ceka.

Ceka terdiam sejenak

"Udah ah Vi, gw sesi dulu, besok lanjut lagi kerjaan ini. Tolong sekalian tutup pintunya ya... Daaaaa", Ceka bergegas menekan tombol di hp, sambil membereskan catatan dan buku yang dikerjakan bareng Navi.

"Haloo MBA Ami!!", Ceka menyapa orang yang Videocall.

"Hai mba Ceka, gimana kabarnya?" Mba Ami membalas dengan suara dan senyum yang penuh kehangatan.

Sesi pun berlalu sampai 2 jam.

"Selesai juga sesinya.. ternyata membuka diri sangat sulit", tukas Ceka berbicara sendiri, sambil membereskan tas dan bergegas keluar dari ruangan.

Entah kenapa, setiap sesi yang Ceka lakukan membuat dia sangat sedih. Traumatik akan masa kecilnya yang menjadikan dirinya sekarang, seolah membuatnya membenci dirinya.

Tidak dapat menerima bahwa dirinya yang sulit menentukan, memilih akibat traumatik masa kecil. Satu persatu dipahami, dan berusaha mengambil keputusan dan menyakini.

Keesokan harinya

"Ceka, bengong aje.. ayok terusin yang kemarin!" Navi yang tiba-tiba masuk ke ruangan Ceka, dan bergegas duduk.

"Iye.. lagi ga mood gw...Lo aja yg lanjutin ya", Ceka menjawab dengan suara bergetar.

"Ow... Okay deh... Lo lagi mo sendiri? Atau Lo mo ngopi di bawah? Biar Lo refresh... Yuk ah!" Muka Navi yang simpati dan bingung harus menanggapi Ceka.

"Gak, Lo aja.. gw mo di sini aja.. sorry ya, kerjaaan ketunda", Ceka yang enggan menatap Navi, karena matanya menahan air mata jatuh.

Ceka yang tak dapat menahan air mata, seolah banjir menerjang kedua pipinya. Tersunggup menatap monitor, sambil menyeka dengan tisu yang sudah penuh dan tak bisa menampung sekaan air matanya.

"Tung!" Bunyi notifikasi dari monitor berbunyi.

"Entah kenapa, aku gak pernah pernah berhenti sayang ma kamu, Ceka!", Sebuah pesan dari sebuah nomer tak bernama.

Berdiri dari kursi, Ceka bergegas meninggalkan ruangan.

 

Bersambung....