Salahku Apaaaa?

Curhatan makhluk mungil

Salahku Apaaaa?
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/sC6wEh5nWgg

Namaku Doki-doki. Aku nggak tahu usiaku sendiri. Aku juga nggak tahu apakah aku ini ganteng, cantik atau malah jelek. Ada yang bilang aku ini imut-imut, tapi banyak sekali yang bilang aku ini amit-amit. Entah kenapa, banyak pihak tidak suka padaku.

Apalagi sosok-sosok tinggi besar yang ada di luar sana: para raksasa yang berjalan dengan dua kaki saja. Kalau sudah berpapasan dengan mereka, benar-benar sial besar buatku. Sebagian dari mereka akan berteriak histeris, sebagian lagi diam tapi terasa sekali suasana yang nggak enak. Setelah itu mereka akan membuat berbagai benda melayang ke arahku. Pada lain waktu ada pula yang membawa benda besar untuk menghujani aku dengan cairan beracun. Sering pula mereka menyambar benda panjang dengan ujung bercabang banyak, untuk dipukulkan berkali-kali ke arahku.

Hiks. Kenapa mereka begitu membenciku? Sebenarnya apa kesalahanku? Aku kan cuma numpang lewat di sana.

Karena sudah merasa tidak aman di sana, aku pun pindah ke lokasi baru. Barangkali saja di tempat baru nanti aku bisa cari makan dengan nyaman.  

Akhirnya aku berhasil menemukan tempat baru tanpa raksasa berkaki dua. Para raksasa yang ada di sini penuh bulu. Mereka berjalan dengan empat kaki. Setelah sekian lama berada di wilayah ini, sepertinya hidupku lebih tenang. Akhirnya …!

Sore ini ada satu raksasa berbulu yang sedang rebahan sambil menjilat-jilat tubuhnya sendiri. Suasana asyik sekali di sini. Aku sendiri sedang istirahat di salah satu rumput, menikmati angin yang segar.

Raksasa tadi masih menjilati tubuhnya, lalu berhenti saat pandangan mata kami bertemu. Tiba-tiba saja dia mendekatiku dan langsung mengayunkan kakinya ke arahku!

Aku melompat dan berlari menghindarinya. Ternyata dia masih mengejar. Aggghhh! Kenapa lagi-lagi aku diserang? Salahku apa??

Entah sudah berapa lama kejar-kejaran ini berlangsung. Kali ini di depanku penuh dengan air. Dengan tenaga tersisa aku terbang menuju sebuah benda besar yang ada di atas air. Untung saja aku berhasil mencapai pinggirnya. Tepat setelah aku mendarat di sana, benda besar ini bergerak membawaku menjauh dari raksasa tadi. Raksasa itu juga sudah berhenti mengejarku. Baguslah, ternyata dia takut air.

Benda besar ini membawaku semakin menjauh dari daratan. Sekarang di sekitar kami semuanya air. Aku tidak mungkin lagi bisa ke mana-mana. Sebaiknya aku mencari tahu di mana aku bisa cari makan di atas sini.

Aku menyelinap diam-diam. Di sini memang lebih banyak tempat untuk bersembunyi. Tapi lebih baik tetap berhati-hati, dan periksa dengan teliti lagi lokasi di sekitar. Jangan-jangan ada raksasa lain lagi di tempat ini.  

Setelah berkeliling, aku mulai kelaparan. Samar-samar aku mencium aroma makanan yang kurindukan. Sepertinya aroma itu berasal dari balik kayu lebar yang tinggi ini. Aku pun bersembunyi di salah satu kayu bertingkat yang ada di depannya.  

Tak lama kemudian kayu lebar itu terayun sebagian, terdengar suara-suara yang membangkitkan rasa traumaku lagi. Aduh! Masa raksasa-raksasa itu ada juga di sini?

Ternyata benar! Tak lama kemudian dari balik kayu lebar itu muncul beberapa raksasa tinggi besar yang paling kutakuti itu. Aggghhhh! Tidakkk!!! Aku benar-benar sial sekarang.

Para raksasa itu saling bicara, lalu salah satunya melihatku.

“KECOAAAAAA!!!!” terdengar suara histeris raksasa itu. Dan raksasa yang lainnya langsung melemparkan benda yang tadinya dipakai di kakinya itu ke arahku.

PLAKKKK!!!

Aku berhasil menyelamatkan diri dan berlari.

“MANA? MANA KECOANYA?!” terdengar suara lainnya.

Agghhhh! Tidaaakkkk! Lagi-lagi nasibku begini. Kenapa sih aku harus selalu sial begini? Salahku apaaaaa???