Panik dan Lari

Namaku Sunyi. Lebih dari sepuluh tahun ini aku memilih hidup dalam kepura-puraan dan pura-pura hidup. Kini aku ingin mengakhiri semuanya dengan bercerita. Hanya saja, aku lupa cara bercerita dengan jujur.

Panik dan Lari
Foto: dok pribadi

Sunyi melihat tangannya gemetar. Pagi ini ia sedang membuat pancake bayam kesukaan Bino untuk bekal. Tangan yang memegang spatula bergetar pelan tanpa kendali. Sunyi mencoba tenang dengan mengatur napasnya. Ia menarik napas dari hidung dan mengeluarkannya perlahan dari mulut.


"Tuhan, tolong."


Sudah entah sekian lama Sunyi tak ingat Tuhan. Terakhir ia menjeritkan nama Tuhan sekitar sepuluh tahun lalu, saat mobil yang dikendarainya ditabrak mobil dari depan. Kecelakaan yang menyebabkan Sunyi kehilangan kemampuan berbicara dan setengah pendengarannya. Kini, dalam hati ia berbisik minta pertolongan. Perasaan malu seakan menggantung berat di hatinya. Ia menjadi manusia yang hanya ingat Tuhan saat ditimpa derita.


Sudah seminggu sejak Sunyi bertemu Sofia. Sofia, sahabatnya sejak kecil, memergokinya di pasar. Sofia memberinya kartu nama supaya Sunyi bisa mengontaknya. Sunyi tak melakukannya. Dalam perjalanan pulang dari pasar, Sunyi menahan gemetar, gugup dan panik yang bercampur rata. 


"Bunda, aku lapar. Bunda masak apa?" tanya Bino mengagetkan Sunyi. Sepulang dari pasar usai pertemuannya dengan Sofia, Sunyi bengong duduk di dapur. Ia termenung berjam-jam, sampai anaknya mendatanginya karena kelaparan.

 

Kini, setelah Bino berangkat sekolah dan rumah sepi, Sunyi menata hatinya. Ia menyeduh secangkir kopi untuk dirinya. Ia melihat kalender, dan berhitung. Bino sudah selesai ujian SDnya. Jadi Sunyi merasa sudah waktunya ia pergi lagi. Bino bisa meneruskan SMP di kota berikutnya. Hanya satu kendala: ijazah biasanya perlu waktu lama untuk selesai. Sunyi tak bisa menunggu selama itu. Ia harus segera pergi. Sunyi merasa lebih ahli dalam melarikan diri. Dulu ia berhasil, dan akan mengulanginya. Kali ini ia tak sendiri. Ia bersama Bino, anak seorang perempuan yang telah menitipkannya pada Sunyi. Sepuluh tahun lalu. (rase)

-bersambung-