Ngoprek buku: Who Moved My Cheese?
Resensi buku
Judul: Who Moved My Cheese?
Penerbit: Elex Media Komputindo
Penulis: Spencer Johnson, M.D.
Cetakan ke-9, Mei 2025
125 halaman
Ini adalah buku kedua yang menurut saya sangat powerful, insightful, setelah Start With Why karya Simon Sinek. Dua buku terfavorit dari semua buku yang ada di lemari saya.
Buku ini menceritakan empat tokoh, yang adalah dua tikus dan dua kurcaci. Sniff (endus), si tikus yang mampu mengendus adanya perubahan dengan cepat. Scurry (lacak), si tikus yang bersegera mengambil tindakan. Hem (kaku), si kurcaci yang menolak dan mengingkari adanya perubahan karena takut apabila perubahan itu mendatangkan hal yang buruk. Haw (aman), si kurcaci yang baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan ternyata mendatangkan sesuatu yang lebih baik.
Terdengar familiar kan, ya?
Kadang kita bertindak seperti itu di kehidupan sehari-hari. Suka cari aman, senang dengan kenyamanan, malas berubah karena ngapain repot-repot lagi toh hidup sudah menyenangkan. Tapi begitu ada perubahan mendadak, jadi tidak siap. Apalagi hari-hari ini, gelombang PHK massal terjadi, karena situasi ekonomi begitu sulit. Perusahaan harus bertahan, harus melakukan perubahan, karyawan yang tidak siap dengan perubahan, mau tidak mau menerima risikonya.
Perubahan pasti terjadi. Dan kadang kita bersikap seperti Hem atau Haw.
Tapi ada beberapa dari kita yang suka melihat gejala, membaca tren, pola. Siap mengantisipasi apa yang akan terjadi. Dan siap bergerak begitu perubahan datang. Kita bertindak seperti Sniff atau Scurry.
Cheese adalah lambang dari hal-hal yang kita inginkan dalam hidup. Pekerjaan yang baik, hubungan yang harmonis, uang, kekayaan, rumah besar, mobil mewah, kesehatan, atau ketenangan batin.
Keempat tokoh ini bergerak dalam labirin untuk mencari cheese. Labirin adalah tempat kita mencari apa yang kita inginkan. Bisa itu perusahaan tempat kita kerja, keluarga, atau masyarakat sekitar.
Suatu kali keempat tokoh ini mencari cheese. Mereka bergerak dari rumahnya. Setelah berkali-kali terjebak dalam sesatnya labirin, akhirnya mereka berhasil menemukan cheese. Stoknya banyak, rasanya enak.
Keempatnya pun nyaman di sana. Betah. Sampai-sampai si Hem berpikir untuk memindahkan rumahnya, supaya dekat dengan cheese. Kedua tikus tidak begitu. Setiap hari mereka selalu awas. Menjalani labirin dengan rute yang sudah ditandai, melihat perubahan cheese, apakah stoknya aman, apakah rasanya berubah. Selalu antisipasi.
Lama-lama, stok cheese pun habis! Si tikus tidak kaget, karena mereka selalu observasi setiap hari. Sudah tahu gejalanya. Tapi Hem & Haw, mereka terlena. Bahkan marah-marah. Menyalahkan keadaan. Menuduh ada yang sabotase stok cheese mereka. Hem & Haw sudah terlalu nyaman dengan tempat cheese tersebut.
Kedua tikus segera menjelajahi labirin, untuk mencari tempat dengan stok keju yang lebih baik. Tapi Hem dan Haw, mereka masih asyik mengutuk keadaan. Akhirnya diam di tempat, kelaparan.
Kedua tikus, dengan segala lika-liku labirin, kegagalan demi kegagalan, akhirnya berhasil menemukan stok cheese baru. Lebih enak, lebih banyak stoknya. Mereka belum pernah merasakan cheese seperti ini sebelumnya. Aneka rasa, bervariasi. Sangat memanjakan lidah. Mereka berhasil dalam menghadapi perubahan.
Hem, tetap saja di tempat stok cheese lama. Tidak mau bergerak. Dia merasa, haknya di sana. Mestinya tidak ada yang memindahkan cheese-nya. Kok bisa habis cheese di sana?
Haw, lama-lama berpikir juga, untuk bergerak. Dia mengajak Hem, tapi kepala batunya sulit dilunakkan. Akhirnya Haw bergerak sendirian.
Butuh waktu lama untuk Haw menemukan stok cheese baru. Dia penuh keraguan untuk kembali masuk ke labirin. Sudah lama dia tidak bergerak. Dia sudah merasa tua untuk kembali ke labirin. Ngapain capek-capek lagi sih? Tapi, keadaan yang menuntut demikian.
Singkat cerita, Haw berhasil menemukan tempat stok cheese baru, di situ sudah ada kedua tikus. Dan mereka sudah gemuk. Haw terlambat. Tapi tetap akhirnya berhasil, dibandingkan Hem.
Mendengar cerita tersebut, bagi saya sangat relate. Pindah-pindah tempat kerja, mencari tempat yang “kejunya” berlimpah. Bergerak lagi setelah di tempat kerja lama sudah mengalami stagnasi. Kerja selama 21 tahun, di 7 perusahaan. Mungkin di diri saya ini ada si Sniff dan Scurry.
Setiap orang yang membaca buku ini akan merasakan insight tersendiri. Mungkin beda-beda. Bisa kaitannya ke karier, hubungan asmara, keluarga, ya atau dalam hubungan sosial masyarakat.
Harga buku ini Rp108.000 dan bisa tamat dalam satu jam. Tapi makna yang terasa, bisa dirasakan lebih dari itu. Jauh lebih dari itu.
Buku yang sangat bagus, Pak Spencer!
***
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



