Ada Buih Rindu di Turun Aban

Ada Buih Rindu di Turun Aban

Sudah menjelang siang di Turun Aban. Seruas pantai dengan ratusan bebatuan purba terserak membingkai sepanjang teluk sunyi. Hanya ada perahu-perahu tertambat kaku, dan satu dua nelayan bertelanjang dada yang asyik memperbaiki jala. Sesekali mereka bercerita tentang ikan dan udang yang semakin langka. Tentang angin tenggara yang kencang dan gelombang tinggi musim pancaroba.

Di sebuah pondok tanpa sekat beratap rembia aku singgah. Sekedar untuk menyelonjorkan kaki, memandang laut biru keperakan dan menikmati desau angin menyapa wajah. Ada nyanyian rindu yang menyayat hati dalam buih ombak yang lirih menyapa pantai. Tapi aku mencoba tak peduli. Karena aku mengerti bahwa ia takkan pernah kembali. Tak apalah, biar kunikmati saja kesunyian ini sendiri. Hidup memang harus ada luka.