Pastur Matius

Pastur Matius

 

Suster Teresa memperlihatkan Jenasah Yuli.
Wajah wanita itu rusak tidak bisa dikenali lagi. Tubuhnya penuh luka bakar.
Menurut laporan dia adalah korban kecelakaan.
Tapi menurut Suster Teresa, dia adalah korban kekerasan dalam rumah tangga.
Aku sudah sering mendengar tentang Yuli dari cerita Suster Teresa, tapi baru kali ini aku melihatnya.

Aku teringat beberapa bulan yang lalu, ketika Suster Teresa mendiskusikan masalah Yuli padaku.
“Saya sudah mengenalnya lama Pastur, mulanya dia tidak cerita masalahnya. Tapi mungkin dia tidak tahan lagi, akhirnya curhat ke saya.” kata Suster Teresa.
“Sudah 10 tahun suaminya menyiksa dia. Badannya selalu penuh luka, tapi tidak boleh ke Dokter, suaminya takut ketahuan orang.” kata Suster Teresa.
“Dia sering konsultasi dengan saya, tapi kita tidak bisa memecahkan masalah secara sepihak. Suaminya tidak merasa bersalah, tidak mau konsultasi keluarga. Tidak bisa dibantu gereja. Tidak mau juga ke psikolog.
Sudah kami doakan tiap hari. Tapi masih belum berhasil.” katanya.
“Sudah lapor Polisi?” tanyaku.
“Tidak bisa lapor Polisi, Pastur. Keluarga mertuanya orang terpandang.” Suster Teresa membisikkan nama keluarga mertuanya.
Semua orang sudah tahu, hartanya tidak akan habis 10 turunan. Aku mengerti banyak orang takut mendengar nama keluarga mereka.
“Makanya saya memohon pembatalan pernikahan!” kata Suster Teresa.
“Umat Katolik menikah untuk seumur hidup, tidak boleh bercerai. Kita harus mengupayakan jalan lain dulu sebelum pembatalan.” kataku.
“Tapi Pastur….”
“Mertuanya pasti menentang perceraian, kita tidak mau menyusahkan Bapak Uskup, bila seandainya Mertuanya marah, bisa fatal akibatnya!” kataku.
Aku takut bapak Uskup bisa dikeluarkan dari gereja, atau lebih parah lagi bisa terbunuh.
Suster Teresa mengerti. Mertuanya, sebut saja namanya Pak Robby, sudah sering menyingkirkan orang orang yang tidak disukainya. Mulai dari  para wartawan yang berusaha mengungkap kasusnya tiba tiba meninggal. Pejabat yang berani menentangnya tiba tiba dicopot. Pengusaha yang jadi saingannya menjadi bangkrut. Berderet gosip tentang Pak Robby. Tak heran bila sifat anaknya, sebut saja namanya Roy, menurunkan sifat bapaknya.
“Saya tidak tega melihatnya disiksa terus, Pastur.” Suster Teresa mulai menangis.
“Lebih rajin mendoakan dia, Suster.” kataku.


“Maafkan saya Suster.” kataku pada Suster Teresa yang sedang menangis.
“Iya Pastur, Ini salah saya juga. Seharusnya saya cepat cepat mengurus pembatalan pernikahannya.” kata Suster Teresa.
Aku merasa pengecut, lebih mementingkan Bapak Uskup dan kepentingan Gereja.
Aku takut kami membuat masalah dengan Pak Robby. Tak ada bedanya aku dengan orang awam yang takut pada kekuasaan Pak Robby.

Kulihat tidak banyak yang datang pada pemakaman ini.
Agak aneh bagi keluarga terkenal seperti Pak Robby,.
“Kenapa tidak banyak yang datang, Suster?” tanyaku
“Memang keluarga Pak Robby itu sengaja mau menutup masalah ini, tidak boleh bocor ke wartawan. Cuma keluarga dekat yang boleh hadir.” kata Suster Teresa.
“Peti juga tidak boleh dibuka.” katanya.
“Di mana keluarga Yuli?” tanyaku.
“Keluarganya tinggal di luar negeri semua. Orangtuanya sudah meninggal. Adiknya akan datang siang ini.” kata Suster Teresa.
Kami ikut membantu persiapan upacara pemakaman.
Aku membawakan Misa.

Setelah Misa selesai, Suster Teresa memperkenalkan adik Yuli padaku.
“Ini adiknya Yuli, Pastur!” kata Suster Teresa.
Wanita cantik berambut coklat itu mengulurkan tangannya. Wajahnya seperti kukenal.
“Sisca? Sisca Kurniawan?” tanyaku.
“Iya betul, Ini Matius ya?” tanyanya.
“Iya Betul, aku Matius!” kataku.
“Kalian sudah saling mengenal rupanya.” kata Suster Teresa.
“Pastur Matius ini dulu teman dekatnya Yuli!” kata Sisca.

“Aku baru tahu sekarang kalau Yuli itu Yuli kakakmu!” kataku.

Tubuhku tiba tiba gemetar. Sempoyongan, nyaris pingsan.
“Pastur, kenapa Pastur?” tanya suster Teresa. Mereka membantuku untuk duduk.
“Pastur kecapean kali, dari pagi belum makan, sekarang sudah jam dua.” kata Suster Teresa cemas.
“Sebentar, saya ambilkan makanan dulu ya, nih minum dulu Pastur.” Suster Teresa menyodorkan sebotol air mineral. Sisca sibuk mengipas-ngipas aku. Walaupun ruangan itu sudah ada AC.
Suster Teresa mengambilkan cemilan untukku. Kuminum air mineral itu dan mulai mengunyah cemilan.
Tak kuasa ingatanku melayang.

Sejak kecil aku bercita-cita menjadi Pastur.
Saat SMA, aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Ibunya keturunan Belanda.
Wajah blasterannya membuat semua orang yang melihatnya pasti memperhatikan dia.
Hidung mancung, matanya besar, bibirnya mungil. Tubuhnya tinggi semampai.
Rambut panjangnya berwarna kecoklatan.
Kulit putihnya akan memerah bila terkena sinar matahari sebentar saja.
Suaranya merdu dan suka menyanyi di kur gerejaku.
Dia paling suka memakai gaun putih.
Terlihat seperti bidadari bergaun putih menyanyi di gereja.
Dia juga sangat ramah, ceria dan humoris. Semua pemuda di lingkungan kami menyukainya. Mereka berlomba lomba untuk menarik perhatiannya. Tapi tidak disangka gadis itu justru menyukaiku.
Sudah tentu banyak temanku yang iri. Tapi aku tidak mengacuhkannya, karena aku ingin jadi Pastur Katolik. Kami harus sumpah selibat, tidak boleh menikah.

“Beruntung sekali kamu, muka jelek begitu bisa ditaksir dia.” kata temanku iri.
“Bego banget sih loe, ada cewek cakep ditolak, ngapain mau jadi Pastur?, rugi banget!” kata temanku yang lain.
“Biarin aja dia jadi Pastur, biar saingan kita berkurang!”
“Makanya kita mesti alim kaya si Matius, kayaknya dia engga ngeliat tampang deh!”
Begitulah bahasan teman-temanku sehari-hari saat itu.

Rupanya gadis itu tetap berusaha mendekat. Lama lama sebagai pria remaja, aku luluh juga. Akhirnya kami pacaran. Walaupun aku selalu gundah, karena aku masih ingin menjadi Pastur.
Dia mengetahui keinginanku dan berusaha membuatku berubah pikiran. Namun akhirnya selesai SMA, aku tetap memutuskan untuk masuk Seminari.
Tuhan lebih penting dari perempuan, pikirku saat itu.
Aku memutuskan hubungan dengan gadis itu.
Aku masuk Seminari di luar kota.
Lama tak pernah kudengar kabarnya lagi.
Bertahun tahun kemudian kudengar dia sudah menikah, dijodohkan oleh orangtuanya. Waktu itu aku merasa lega, karena terbebas dari rasa bersalah meninggalkan dia.


Rombongan sudah pulang dari pemakaman.
Aku berdiri sendirian di tengah makam.

Yuli, maafkan aku.
Salahkan aku mengambil keputusan?
Seandainya aku tidak masuk seminari....,
Kau tidak akan menikah dengan bajingan itu.
Seandainya aku tidak menghalangi Suster Teresa membatalkan pernikahanmu......,
Mungkin kau masih hidup.

Aku terpaku di situ hingga hari menjadi gelap, segelap hatiku.
Jubahku basah penuh air mata.
Aku bersimpuh, membuat tanda salib.
“Tuhan tolonglah, beri aku kekuatan….”