CINTA TAK BIASA

CINTA TAK BIASA
89 We heart it

         Seperti biasa Bogor diguyur hujan diiringi petir bersahut-sahutan. Suara petir seperti suara senapan para serdadu memuntahkan peluru berulang kali untuk melumpuhkan musuhnya di medan perang. Terdengar berpindah-pindah menjelajah seluruh angkasa. Pada awal kedatangannya di Bogor, Lisa takut dengan suara petir dan selalu menutup telinga setiap kali mendengarnya. Setelah dua tahun dia menjadi terbiasa sama seperti semua warga asli Bogor. Bahkan ketika sedang berjalan di bawah hujan deras dan dibombardir  petir , dia masih bisa melenggang dengan tenang di bawah payungnya.

           Sabtu pagi ini tak ada sesuatu yang ditunggu meskipun tak ada hal penting yang harus dikerjakan. Proposal tesisnya memang masih harus direvisi tetapi  di akhir pekan seperti ini dia ingin sedikit terlepas dari beban kuliahnya. Tiba-tiba dia tersentak mendengar lagu Wind of Change dari Scorpion yang  berasal dari kamar  Tita yang berada  tepat di sebelah kamarnya. Ingatannya kembali pada Dion. Lagu itulah yang samar-samar  terdengar pada pertemuan terakhirnya dengan Revi di teras rumahnya setahun yang lalu. Lelaki yang tatapan matanya selalu berbinar itu menyampaikan kabar akan berangkat ke Makasar untuk menangani kasus tanah yang melibatkan banyak pejabat pemerintah. Sebagai seorang lawyer dia selalu siap memenuhi panggilan pekerjaan dari seluruh penjuru tanah air.

            Entah sudah berapa bulan Lisa tak menjalin komunikasi dengan lelaki yang hatinya penuh luka itu. Seingatnya, terakhir kali Revi mengirim pesan lewat Whatsapp mengisyaratkan kalau dia tinggal di sekitar Jawa Barat. Hanya saja Lisa tak berusaha menanyakan di mana keberadaannya saat itu.  Revi pun akhirnya menghilang entah ke mana. Bagaikan burung yang bebas terbang ke sana ke mari dia tak pernah menemukan sarang yang tepat untuk kembali. Saat letih di dahan mana pun dia bisa hinggap sesaat lalu terbang lagi menantang teriknya matahari  dan dinginnya hujan.

            HP-nya berbunyi dan segera diraihnya. Matanya menatap layar HP sekilas dan hampir tak percaya mengetahui Revi yang menelponnya. Sejurus lamanya dia ragu antara menerima atau mengabaikan saja.  Akhirnya dia menerimanya.

            “Hai, apa kabar Lisa ?” suara Revi riang.

            “Baik,” Lisa menjawab singkat.

            “Aku di Jakarta sekarang. Kapan kita bisa ketemu?” 

            Lisa masih tak percaya dengan pendengarannya. Suara Revi terdengar ringan seolah tak pernah terjadi perpisahan yang lama di antara mereka. Revi menghubunginya lagi tanpa rasa bersalah. Dia dengan mudah bisa datang dan pergi kapan saja semaunya karena Lisa selalu menerimanya kembali.

            “Nanti sore bagaimana ?” terdengar lagi suara Revi.

            “Oke,”  Lisa menyetujuinya.   

            Pintu kamarnya diketuk lalu segera Tita masuk dan berdiri di depannya. “ Mbak ada acara nggak nanti sore?”

            “Aku mau ketemu Revi,” jawabnya datar tanpa ekspresi.

            “Hai ... mimpi apa ? Datang dari mana dia kok tiba-tiba ke Bogor?” Tita kaget.

            “Turun dari langit ,” balas Lisa mencoba bercanda.

            “Hati-hati lho Mbak. Ingat, dia suami orang!”

            “Dia sudah bercerai,” lirih Lisa berkata.

            “Oh, ya sudah. Tinggal tunggu waktu saja nih ,” goda Tita.

            Lisa tersenyum setengah terpaksa. Cinta tidak harus memiliki. Sebuah pernikahan haruslah didasari cinta tetapi cinta tidak harus diakhiri dengan pernikahan.   Cinta tidak menuntut apa-apa. Sampai pada titik ini Lisa masih meragukan apakah dia memang mencintai Revi.

            “Sebenarnya apa yang kita cari dalam diri laki-laki?” Lisa berujar seperti ditujukan pada diri sendiri.

            “Perlindungan dan rasa nyaman,” Tita bisa menjabarkan dengan jelas apa yang diharapkannya dari seorang laki-laki sebelum terburu-buru ke luar dari kamar setelah dipanggil teman kos yang lain.         

Mendadak Lisa gelisah dan mulai merasa asing dengan dirinya sendiri. Dia yang  selama ini justru mengambil posisi untuk melindungi dan memberikan rasa aman kepada laki-laki. Para  lelaki ternyata hanya singgah sesaat di dalam hidupnya. Datang dan pergi sesuka hati sesuai keperluan. Menganggap Lisa adalah tempat berteduh sesaat kalau mendung menghalangi perjalanan atau penat menghambat langkah. Bahkan kala kesendirian menyergap dalam perjalanan panjang yang menjemukan, Lisa adalah beranda yang terbuka bagi mereka. Tempat berteduh dan beranda yang akan ditinggalkan ketika mereka telah sampai tujuan. Artinya Lisa harus siap untuk dilupakan dan ditinggalkan.

            Revi dikenalnya lewat situs pertemanan Interpals. Setelah beberapa kali saling berkirim pesan , mereka bertukar nomor Whatsapp. Waktu itu Revi masih di Kanada bersama Anita, istrinya. Anita mendapat beasiswa untuk melanjutkan program master di Kanada  sedangkan Revi memilih meninggalkan pekerjaannya  agar bisa menyertai istrinya.

            Sama seperti para lelaki yang pernah dekat dengannya sebelumnya, Revi datang kepadanya dengan setumpuk luka yang tak kunjung sembuh hingga kini. Lima tahun pernikahannya bagaikan drama yang sempurna dimainkan bersama Anisa. Semua orang terkesan dengan keharmonisan mereka berdua. Tak sungkan mengumbar kemesraan di depan banyak orang. Bergandengan tangan, berpelukan, saling menatap mesra, saling melontarkan canda dan selalu saling panggil dengan ucapan sayang. Mereka kerap berangkat dan pulang kerja bersama. Wajah sumringah keduanya seolah menjadi pertanda kehidupan pernikahan mereka bahagia. Namun malam-malam panjang terlewat begitu saja. Anita tertidur dengan linangan air mata dibayangi ketakutan sementara Revi berusaha keras meredakan bara di hatinya.

            Beberapa teman yang mendengar kisah Revi menduga Anita mengalami trauma di masa kecil atau mendapat pendidikan seks yang salah. Pengetahuan yang salah itu membuatnya menabukan seks karena menganggapnya bernilai rendah. Sebagian yang lain mengira  Anita terobsesi oleh pribadi neurotis yang memahami seks sebagai sarana untuk menaklukkan orang orang lain atau pendewaan diri sendiri. Karena itulah dia tak ingin menyerahkan dirinya kepada Revi. Ah, entah teori mana yang benar. Sudah beberapa kali Revi membujuk agar Anita mau diajak berkonsultasi ke psikiter tetapi dengan keras menolaknya.

            “Kenapa kalian nggak cerai saja ?” dengan enteng Lisa menanggapi kisah Revi.

            “Aku nggak ingin menguatkan anggapan bahwa anak dari orang tua yang bercerai juga akan bercerai juga ,” kilahnya.

            “Hanya itu alasannya ?” reaksi Lisa sinis.

            “Aku juga nggak ingin membuat malu kedua orang tua . Ibu Anita meraih predikat Ibu Teladan se-Kalimantan Barat. Apa kata orang jika mengetahui salah satu anak Ibu Teladan ini diceraikan suaminya?”

            “Orang lain hanya penonton dan wajar jika berkomentar sesuka hatinya. Apakah kamu rela mengorbankan kebahagianmu hanya untuk menyenangkan orang lain?”

            Revi memang terkesan  kurang tegas dalam bersikap dan tidak serius mencari solusi untuk masalah yang dihadapinya. Lisa menyebutnya sebagai lelaki yang menikmati luka yang diciptakan sendiri. Revi tak pernah marah disebut seperti itu. Hubungannya dengan Lisa makin lama makin dekat. Manusia memang memiliki kerinduan akan relasi yang intim untuk mencari rasa aman atau untuk mengisi kekosongan hidup. Revi juga  membutuhkan sosok yang bisa menutupi kesepian, kekosongan atau  kekurangan dalam dirinya. Lisa menjadi sosok yang mampu memenuhi kebutuhannya meskipun jauh lebih tua. Usia keduanya terpaut sebelas tahun. Meskipun begitu, jika mereka bersama perbedaan usia itu tersamarkan. Lisa yang lebih suka mengenakan jeans dan t-shirt terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Statusnya sebagai janda beranak satu pun tak akan dipercaya orang jika hanya melihat dari penampilannya.

 

           

            Sore itu Lisa sudah duduk menunggu Revi di lobi hotel hampir seperempat jam dan  mulai membuatnya merasa jemu. Ketika mencoba membunuh waktu dengan menonton vlog para youtuber  tanpa disadarinya Revi sudah berdiri di depannya.

            “Kamu nggak ingin memelukku?” tanya Revi setengah berbisik yang berbalas senyum hampa.

            “Revi, untuk apa kamu ketemu aku ?” pertanyaan Lisa terasa menusuk.

            Revi terkejut mendengar pertanyaan itu. Lisa selalu menerimanya dengan riang setiap kali dia datang tetapi sekarang kenapa dia meradang.

            “Ada banyak yang ingin kukatakan kepadamu,” ujar Revi dengan suara tertahan.

            “Apa yang ingin kamu katakan kepadaku?” desaknya.

            Revi menghela napas panjang. Dia tak menduga akan secepat ini sampai pada persoalan utama. Tadinya dia berharap bisa berjalan-jalan sebentar menikmati Bogor di waktu malam bersama Lisa . 

            “Aku sudah siap mendengarkan apa yang akan kamu katakan,” Lisa menantangnya.

            “Di sini ?” Revi memastikan sembari mengamati suasana di sekitar lobi yang cukup lengang.  Resepsionis hotel pun berada beberapa langkah di seberang mereka duduk.

            “Iya, nggak apa-apa,” Lisa menyahut tenang.

            “Maafkan aku Lisa jika apa yang kukatakan nanti akan melukaimu,” suaranya setengah berbisik. Berat rasanya harus mengatakan apa yang tersimpan tersimpan di hatinya.

            “Sudahlah Rev nggak usah ragu, katakan saja!”  Lisa tak sabar.

            Sejenak revi ragu untuk mulai bicara. Menghadapi Lisa saat ini beda dengan Lisa yang dikenal sebelumnya. Entah apa yang mengubahnya. Tapi dia tak bisa menunda lagi. Sepahit apapun kenyataan itu harus diungkapkan.

            “Ibuku nggak menyetujui hubunganku denganmu,” kalimat itu akhirnya terucap meski terasa berat. “Katanya jarak usia kita terlalu jauh. Ibu takut kamu tidak lagi bisa mempunyai anak. Padahal Ibuku sangat menginginkan segera mempunyai cucu dariku sebagai anak sulungnya.”

            “Ya, itu alasan yang paling tepat untuk melepaskan diri dariku,” sahut Lisa sengit. Tak peduli pada ekspresi wajah Revi yang berubah pias dan tertunduk.

            “Maafkan aku, Lisa,” ucapnya lagi seakan kata maaf tak pernah cukup untuk membenarkan semua tindakannya. “Aku tak ingin mengecewakan Ibuku.”

            “Aku mengerti,” Lisa berusaha tegar meski sudut matanya basah. Sesaat kemudian dia merasa lega karena terlepas dari ketidakpastian tentang hubungan mereka berdua. Untuk apa berlama-lama dalam sebuah hubungan yang tidak jelas arahnya.

            “Aku bukan laki-laki yang pantas untukmu Lisa. Hidupku masih belum mapan,” tutur Revi pelan sambil menatap lembut Lisa. “Apa yang membuatmu tertarik padaku ? Coba kamu pikirkan lagi. Aku tidak layak untuk kamu cintai.”.

            Kelemahanmu dan kekuranganmu itulah yang membuatku ingin terus bersamamu, batin Lisa.  Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatmu kembali merasa berharga dan layak dikagumi. Aku ingin menyembuhkan luka-lukamu itu. Di  situlah daya tariknya. Lisa sungguh ingin membebaskan Revi dari masalah-masalahnya. Jika dia berhasil melakukannya akan timbul rasa puas yang tak terkatakan. Merasa dibutuhkan dan menjadi orang yang paling berjasa dalam kehidupan Revi. Seakan dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Ingin menyelamatkan Bapak yang terus menerus dikalahkan oleh Ibu.

            Dominasi Ibu terhadap Bapak membuatnya merasa tak nyaman. Lisa kasihan pada Bapak tapi sebagai anak kecil dia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam pandangannya sebagai anak-anak, Bapak adalah sosok yang hebat dan harus bisa dibanggakan di depan teman-temannya. Tapi apa yang dilihatnya setiap hari membuatnya kehilangan kebanggaan itu. Ibu suka mengatur dan memerintah Bapak. Rumah tangga dikontrol dan dikendalikan sepenuhnya oleh Ibu. Bapak hanya menurut dan terpaksa mengalah demi menjaga ketentraman keluarga.

            Lisa menyimpan keinginan yang begitu kuat untuk bisa mengungguli Ibunya. Dia bertekad akan bersikap lebih baik kepada laki-laki.  Dia akan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan Ibunya. Tanpa sadar dia telah memposisikan diri sebagai penyelamat bagi lelaki bermasalah. Hal itu juga terjadi pada mantan suaminya dulu. Dia memilih seorang laki-laki yang membutuhkan pertolongan dan sepertinya bergantung padanya. Dengan begitu lelaki itu tidak ingin meninggalkannya. Ketergantungan laki-laki itu kepadanya menimbulkan rasa menguasai yang dia butuhkan.

            Orang lain melihat Lisa telah menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih baik. Dia ingin membangkitkan kembali Bapaknya dan menunjukkan bahwa dirinya merupakan perempuan yang lebih baik dari pada Ibunya. Di balik semua itu. Lisa memiliki keinginan agar bisa diselamatkan juga jika waktunya telah tiba. Jadi dia mengira setelah dirinya berjuang sendiri menghidupi keluarga maka suaminya bisa menggantikan perannya sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Sayangnya harapan itu tak pernah terwujud. Randy, suaminya, tatap menjalani peran sebagai orang yang harus selalu diselamatkan meskipun kesempatan untuk menggantikan peran Lisa terbuka luas setelah dia menyelesaikan kuliahnya. Mestinya Lisa menyadari bahwa hubungan mereka tidak sehat ketika pernikahan mereka menginjak tahun ke lima tapi entah kenapa dia bertahan hingga tahun ke sepuluh.

            “Jangan-jangan kamu tertarik padaku karena aku lelaki yang penuh masalah,” tebak Revi yang membuat Lisa terkejut. 

            “Kelemahanmu itu menjadi daya tarikmu yang mampu mengikatku untuk selalu bersamamu dan menjagamu,” Lisa mangaku juga pada akhirnya.

            Revi tersenyum lalu dengan serius  berkata , “ Kamu jangan membuang waktumu  dan menyia-nyiakan hidupmu untuk mencintai lelaki seperti aku. Apa yang akan kamu dapatkan nanti cuma kecewa dan sakit hati.”

            “Carilah lelaki yang kaya tapi galak,” sarannya kemudian dengan ekspresi serius.

            “Kenapa begitu ?”

        “Dia akan bisa mengarahkan kamu karena punya power.  Uang dan usia yang lebih tua memberinya otoritas untuk mengaturmu.”

            “Tapi aku nggak suka diatur laki-laki,” bantahnya sengit.

            “Padahal itu baik untukmu. Karena itu, selain kaya , laki-laki itu juga harus galak supaya kamu nggak berani membantahnya.”

            “Hubungan seperti itu akan menyiksaku,” keluh Lisa menahan jengkel.

            “Cobalah kamu pikirkan segi positifnya. Laki-laki ditakdirkan untuk menjadi pemimpin tapi kamu nggak mau dipimpin. Seorang pemimpin bisa menggunakan segala cara untuk membuat yang dipimpinnya mau mengikuti aturannya. Kamu yang pada dasarnya nggak mau diatur membutuhkan pemimpin yang sedikit otoriter. Untuk mengimbangi sikap otoriternya , dia haruslah kaya. Uang dan power kukira sanggup melunakkan hatimu. Kalau kamu kecewa pada sikapnya yang otoriter kamu bisa bersenang-senang dengan uangnya.”

            “Kalau dia pelit aku bakal sengsara sepanjang hidupku,” sahutnya kesal.

            Revi tertawa melihat cara Lisa mengekspresikan kekesalannya. Keduanya mengakhiri pertemuan dengan makan malam bersama sambil mengobrol ringan tentang berbagai hal. Cinta di antara mereka boleh berakhir tapi hubungan sebagai teman masih bisa dipertahankan. Revi bukan seseorang yang istimewa lagi buatnya kini.

            Keesokan harinya Tita mendapati  Lisa hanya berbaring di tempat tidur dengan wajah muram tanpa banyak bicara. Dia melewatkan makan pagi dan makan siang tanpa merasa lapar sedikit pun. Melihatnya dalam kondisi tidak baik seperti itu, Tita menghampirinya. Barangkali Lisa membutuhkan tempat berbagi cerita.

            “Apakah aku harus bahagia meskipun  Revi hanya ingin berada di dekatku ketika dia terluka atau sedang dililit kesulitan dan punya banyak masalah ? Setelah  cukup kuat untuk berdiri sendiri dan bisa mengatasi semua kesulitannya , dia nggak butuh aku lagi. Dia akan menunjukkan pada perempuan lain betapa hebat dan kuatnya dia sekarang.”

            “Perempuan memang mengagumi lelaki seperti itu tapi Mbak tertantang dan tersanjung untuk menyembuhkan luka para lelaki itu. Menguatkan mereka agar menjadi lelaki yang pantas dikagumi dan dibanggakan pasangannya.”

            “Apakah itu salah ?” kejarnya.

            “Tidak ada yang salah . Hanya tidak biasa.”

            Senyap sejenak  di antara keduanya. Di luar hujan mulai turun. Lisa belum tahu apa yang akan terjadi  nanti. Kalau Revi menemukan seorang  perempuan yang dianggapnya tepat apa salahnya mereka kemudian menikah. Sementara dia harus menerima takdirnya sebagai perempuan yang tak pernah diinginkan Revi untuk menjadi pendamping hidupnya. Barangkali perempuan seperti dirinya membuat lelaki merasa tak berharga.

 

 

                                                *******