Nggak Peka!

Cerpenting (Cerita Pendek Tidak Penting)

Nggak Peka!

      Tiba juga hari piknik bersama bertajuk internalisasi corporate value kantor kami di tahun ini. Lagi-lagi saya ditunjuk menjadi panitia bagian acara. Untuk itu saya ditugasi untuk berangkat duluan sebelum rombongan untuk menyiapkan venue acara. Rencananya memang akan diselenggarakan api unggun dan malam keakraban di hotel tempat kami menginap.  

          Pagi itu saya berangkat bersama empat teman lain menggunakan mobil dinas kantor. Mobil dengan bak terbuka di bagian belakang sengaja digunakan untuk menampung perlengkapan yang diperlukan. Kursinya sendiri hanya dapat menampung setidaknya satu sopir dan satu penumpang yang duduk di kursi depan dan tiga lainnya di kursi belakang. Mas Doko sebagai senior sekaligus orang yang paling jago menyetir diantara kami semua bertugas dengan kemudi. Mas Maryadi menjadi navigator dan menemaninya di kursi depan, sedangkan saya dan dua teman saya Sari dan Wahyu harus berdesakan di kursi belakang.

          Perjalanan memakan waktu cukup panjang dikarenakan jarak yang lumayan dari Kota Semarang menuju Tawangmangu di Karanganyar, Jawa Tengah. Tak ayal, di sepanjang jalan aneka obrolan pun mengudara di dalam ruangan mobil yang sempit itu. Mulai dari rencana kegiatan hingga perghibahan yang tidak berfaedah. Tidak lupa, sedikit-curhat-curhat colongan terlontar dari lima orang yang tidak lagi remaja. Diantara kami semua, hanya Mas Doko saja yang sudah punya pacar dan akan segera menikah. Empat lainnya jomblo ngenes belum tampak hilal kapan nikahnya.

“Nggak ngerti lagi ya aku udah nunggu-nunggu inisiatifnya tapi tetep aja nihil. Nggak peka banget sumpah,” ungkapku menggebu di sela obrolan kami.

“Bener mbak, mestinya kan cowok itu bisa nangkep sinyal-sinyal kita gitu lho, masa ya apa-apa kudu dipancing dulu.”, timpal Sari.

Mas Maryadi cuma cekikak-cekikik dari kursi depan sambal sesekali menengok.

Wahyu yang asalnya memang pendiam hanya menanggapi dengan senyum simpul.

“Emang harusnya cowok yang peka itu yang gimana sih?”, tanya Mas Doko polos sambil tetap serius memandang ke arah jalanan di depannya.

“Ya apa kek mas, WA duluan gitu lho” jawabku cepat.

“Oh gitu….”, respon Mas Rian sambil manggut-manggut.

Obrolan semakin ramai dan intens saja sambal diselingi tawa terbahak-bahak kami semua. Sampai akhirnya kami semua lelah dan mulai mengantuk. Mobil yang riuh berubah sunyi.

Tiba-tiba ada notifikasi WA masuk ke handphoneku.

“Lhoh kok dari Mas Doko,” pikirku sambal melirik ke kursi sopir.

Kubuka dengan segera dan tertulis singkat, “duluan.”

Sumpah auto ngakak sekaligus gemas.

“MAS DOKOOOOOO!!!!!!!!,” teriakku kesal

“Lhooh, katanya suruh WA duluan,” jawab Mas Doko sok innocent.

“Garing paraaaah keseeel, kok sempet amat kapan ngetiknya siiih……,” teriakku sambal memukul pundak Mas Doko.

Akhirnya tawa pun pecah di mobil sampai tak terasa kami hampir tiba di tujuan.