Jembatan Kenangan. (Bagian kedua)

Ini adalah cerita bersambung, ada 3 bagian. Terinspirasi dari sebuah foto tua bersejarah.

Jembatan Kenangan. (Bagian kedua)


Bagian kedua.


Malam itu Jack memasak spaghetty dan meatball. Tubuhnya yang tinggi dan tegap dibalut apron yang kotor, merah karena saus spaghetty.
“Biar aku saja yang masak, Jack.” kataku.
“Jangan, kamu sudah capek masak dan beres beres seharian di rumah Kong.” katanya.
Seringkali Jack ikut makan di rumah Kong, dia juga sering membelikan sayur-sayuran dan bahan makanan untuk mereka. Tapi mungkin dia bosan makan makanan Chinese.
Walaupun makan malam hanya sederhana, Jack meletakkan bunga dari tamannya. Setiap hari dia selalu menaruh bunga segar yang berbeda di meja.
Dan lilin di meja membuat suasana seolah menjadi romantis. Walaupun lilin di sana hanya karena belum ada listrik.
“Ingatanmu masih belum kembali?” tanyanya.
Aku menggeleng berbohong. Sebetulnya aku bukan amnesia. Hanya aku tidak tahu bagaimana menceritakan pada Jack bahwa aku dari tahun 2020.
“Aku senang kamu belum ingat.” kata Jack.
“Kok gitu?” tanyaku.
Jack tersenyum memperlihatkan lesungnya.
“Aku ingin kamu tetap di sini, kalau kamu sudah ingat, kamu akan pulang ke rumahm.” katanya, Mata birunya yang indah menatapku. Aku tersipu.
Selesai makan malam, kami berbincang-bincang di taman seperti biasa. Aku duduk di ayunan kesayanganku.
Jack menghampiriku, menyelipkan bunga dikupingku. Tangannya membelai rambutku.
“Aku suka rambut kamu.” katanya.
Aku tersenyum. Tapi tidak berani menatap matanya.
Kami berbincang di taman hingga larut malam.

 

Tak terasa sudah beberapa bulan aku di sini. Setiap pagi aku diantar Jack ke rumah Kong. Aku membantu ibu Kong memasak, mencuci baju, beres beres rumah. Kalau urusan memasak aku tidak bermasalah karena aku suka masak, termasuk Chinese food juga bisa. Walaupun peralatan dapurnya  kuno. Tapi mudah untuk menyesuaikan diri. Yang berat adalah mencuci baju dengan tangan. Tapi lama lama aku mulai terbiasa. Aku anggap seperti olahraga, pengganti olahraga ke gym. Berat badanku cepat turun.
Ibu Kong sekarang ingin dipanggil Ma. Aku mulai bisa berbahasa Mandarin sedikit sedikit. Ibu Kong mulai lancar berbahasa Inggris. Aku mengajarinya menulis dan membaca. Aku sudah mengganggapnya seperti ibuku sendiri.
“Ini untuk kamu!” Ibu Kong menyodorkan sebuah bingkisan.
“Terima kasih Ma!”
“Ayo dibuka!” pintanya.
Aku membukanya, isinya Cheongsam, gaun traditional wanita Cina berwarna merah.
“Kamu suka?”
“Cantik sekali.” ujarku.
“Ayo dicoba!” pintanya.
Aku mencobanya, wajahnya terlihat senang.
“Ini pasti mahal Ma, jangan dikasih aku!” kataku.
“Ini buat kamu, aku jahit sendiri, khusus untuk calon mantuku!” katanya.
Aku seperti disambar petir. Apa aku tak salah dengar?
“Kamu pakai ini untuk hari pernikahan kamu!” katanya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Aku punya anak tujuh, tapi semua mati, kecuali Kong!” kata Ma.
Aku merasa kasihan. Tapi aku tidak ingin menikah dengan Kong.
Sebenarnya Kong juga tidak Jelek. Kalau yang suka nonton drama Korea, mungkin menganggap Kong menarik.
Tapi aku tidak mengenal Kong. Setiap hari aku hanya bersama Ma di rumah.
Hanya bertemu Kong sebentar sepulang mereka kerja, Itupun selalu bersama Jack. Lalu aku pulang ke rumah Jack setiap malam. Aku lebih mengenal Jack. Setiap malam kami bercakap-cakap, bertukar pikiran, bercanda. Lagipula kurasa Kong tidak tertarik padaku.
“Apa Ma sudah tanya sama Kong?” tanyaku penasaran.
“Iya, Kong sudah setuju. Susah mencari wanita Cina di Canada. Kita harus membawanya dari daratan Cina. Itu mahal sekali. Cuma orang Cina kaya yang bisa membawa calon istri dari Cina. Buruh miskin seperti Kong tidak mampu membawa istri dari Cina.” kata Ma.
Ah aku mengerti sekarang. Jadi Kong setuju bukan karena dia jatuh cinta padaku. Tapi hanya karena cuma aku yang tersedia, tidak ada pilihan lain. Aku mulai kesal. Sebagai wanita modern harga diriku serasa diinjak. Bahkan mereka tidak pernah menanyakan pendapatku. Menganggap aku pasti mau saja dinikahi.
Tapi Ma yang lugu tidak pernah bisa merasakan perasaanku.
“Tapi Ma, aku ini tidak punya keluarga di sini.” kataku berusaha mencari alasan yang bisa diterima.
“Tidak masalah, kamu sudah seperti anakku sendiri, kita sudah cocok. Aku senang mendapat menantu seperti kamu.” kata Ma.
Aku tertunduk, aku ingin menolak halus, tapi tidak tahu bagaimana caranya tanpa menyakiti perasaan Ma.

 


“Jadi kamu mau menikah sama Kong? Kamu mencintai dia?” tanya Jack malam itu. Wajahnya terlihat kecewa. Sepertinya dia sudah mendengar kabar itu.
“Itu keinginan ibunya Kong.” jawabku.
“Tapi kamu setuju saja, berarti kamu suka sama Kong!” tuduhnya.
“Aku tidak pernah bilang setuju.” kataku.
“Mereka sudah mempersiapkan pesta pernikahan, kalau kamu tidak pernah menolak, berarti mereka menganggap kamu setuju!” kata Jack.
Aku terperanjat. Aku lupa ini 1916. Gaya wanita di jaman ini berbeda. Diam bisa diartikan setuju.
“Aku tidak mau menikah dengan Kong!” kataku.
“Kamu harus bilang ke mereka secepatnya!” Kata Jack.
Jack mengajakku ke kamarnya.
Dia mengambil sebuah kotak berisi foto, untuk diperlihatkan padaku.
Foto hitam putih, pernikahan Jack dan istrinya. Kuamati wajah istrinya.
Rambutnya hitam panjang. Matanya sipit, hidungnya pesek. Begitu mirip dengan wajahku. Seolah melihat wajahku sendiri.
Agak aneh ada pernikahan campuran di jaman itu.
“Kami hanya menikah di gereja. Walau tidak resmi secara negara, Tapi yang penting resmi di mata Tuhan.” kata Jack.
“Aku tidak tahu apakah Yen ni dan anakku meninggal secara alami atau ada yang membunuhnya. Kami sudah beberapa kali menerima ancaman pembunuhan sebelumnya.” unggap Jack. Matanya berkaca-kaca.
“Aku sangat bahagia bertemu kamu di Jembatan hari itu. Seolah Yen ni hidup kembali.” katanya.
Sekarang aku baru mengerti mengapa Jack sangat baik padaku, bahkan di hari pertama kita bertemu.
“Aku ingin kamu selalu bersamaku.” kata Jack.
“Aku bukan Yen ni istrimu, Jack.” kataku. Aku tidak mau jadi bayang bayang istrinya.
“Aku tahu, Jenny. Aku sayang kamu. Bukan sekedar karena kamu mirip istriku!” kata Jack. Digenggamnya tanganku sambil menatapku lembut.
“Maukah kamu menikah denganku?” tanya Jack.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku suka Jack. Dia memang ganteng dan baik. Pokoknya tipe suami idaman.
Di jaman modern sangat susah mencari pria yang baik. Jangankan yang ganteng, yang jelek saja kebanyakan belagu.
Tapi aku tidak mau terperangkap hidup di tahun 1916. Aku ingin kembali ke tahun 2020. Aku ingin bertemu anakku kembali. Aku kangen internet. Kangen makanan Korea, India, Thailand, Vietnam. Kangen mesin pencuci baju, mesin pencuci piring. Kangen pekerjaanku, aku ingin jadi designer. Aku tidak mau terperangkap dengan pekerjaaan rumah tangga. Tapi di jaman ini computer juga belum ada.
Tapi bagaimana ya caranya agar aku bisa kembali ke 2020?
Kalau aku bisa membawa Jack ke 2020, lebih bagus lagi. Tapi apa mungkin?
Bila aku kembali ke tahun 2020, tanpa Jack, pasti aku akan sedih.
Apakah aku sudah jatuh cinta pada Jack?

 

Bersambung