Menciptakan Komunikasi Antarpribadi Untuk Mencegah Kekerasan Saat Pandemi COVID 19

Menciptakan Komunikasi Antarpribadi Untuk Mencegah Kekerasan Saat Pandemi COVID 19

 

Pandemi COVID-19 saat ini telah mengubah banyak hal tanpa terkecuali yakni termasuk interaksi komunikasi antarpribadi antara orang tua dengan remaja, dimana manusia merupakan mahluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan segudang keunikan dan kemampuan yang belum tentu dan bahkan tidak dimiliki oleh mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Faktanya dilansir dari Republik.co.id, berdasarkan data Kementrian Sosial (Kemensos), bahwa kasus terkait kekerasan anak saat pandemi COVID-19 melonjak tajam, yakni tercatat sebanyak 1.433, melonjak menjadi 2.214 kasus yang terjadi pada bulan Juli sedangkan dibulan Agustus sebanyak 2.489 kasus ditahun 2020.

kz.jpg

Source: Republika.co.id

Hal ini dilatarbelakangi oleh salah satu faktor utama, yakni kondisi ekonomi, dimana adanya situasi tersebut membuat kestabilan orang terdekat mereka tidak stabil, sehingga mempengaruhi psikis mereka. Dengan kondisi psikis yang tidak stabil, anak-anak bisa menjadi korban pelampiasan, disampaikan oleh Ikhsan Bella Persada, M. Psi, kekerasan anak merupakan suatu bentuk perilaku yang dengan sengaja menyakiti, baik secara fisik maupun psikis seorang anak. Bentuk kekerasan yang diterima oleh anak adalah kekerasan verbal dan non-verbal. Bentuk kekerasan yang diterima oleh anak adalah kekerasan verbal dan non-verbal.

Perlu diketahui, bahwa pada diri manusia selama berkembang dan bertumbuh, terdapat adanya proses konsep diri, atau dikenal sebagai self-concept yakni proses penggambaran diri seseorang yang dipengaruhi oleh orang terdekat (keluarga), dan kerangka rujukan. Jika dalam prosesnya keluarga memberikan pengaruh yang tidak mendukung, maka akan membentuk kecenderungan konsep diri yang negatif, sehingga akan memengaruhi perilaku diri. Sehingga, diperlukan peran komunikasi antarpribadi antara orang tua dengan remaja. Komunikasi antar anggota keluarga juga merupakan suatu hal yang sangat penting, dimana komunikasi ini berperan sebagai alat atau media yang menjembatani hubungan antara sesama anggota keluarga. Sehingga, apabila interaksi komunikasi antarpribadinya berkualitas maka proses pembentukan konsep dirinya cenderung positif.

Telah disampaikan diatas, bahwa tingkat kekerasan kepada anak saat pandemi COVID-19 meningkat. Maka diperlukan bagaimana pendekatan yang baik, melalui komunikasi antarpribadi yang efektif. Pertama, adalah self disclosure atau keterbukaan diri dalam proses komunikasi dapat membantu seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta membuat hubungan antar-sesama menjadi lebih akrab. Tanpa self disclosure, seorang individu biasanya menerima penerimaan sosial yang kurang baik, sehingga mampu mempengaruhi kepribadian serta bagaimana cara individu tersebut berinteraksi dengan orang lain. Self disclosure juga memberikan peluang untuk mengembangkan pemahaman tentang sifat-sifat positif, baik dari diri sendiri maupun orang lain. Kedua, adalah pemberian empati dan juga dukungan baik moral maupun moril, karena pemberian dua hal ini akan mengubah bagaimana cara individu berpikir dan mengambil tindakan. Orang yang terbiasa diberikan dukungan dalam setiap keputusan yang akan dia ambil, akan lebih yakin dan berani dalam pengambilan keputusan tersebut karena mereka tahu bahwa orang-orang terekat yang ada di sekitar mereka memberikan dukungan penuh terhadap mereka. Ketiga, adalah tumbuhnya kesetaraan antar anggota keluarga yang perlu diikuti dengan penerapan sikap mendengarkan, karena mendengarkan berarti memberikan perhatian, pemahaman, dan tindakan evaluasi terkait dengan suatu hal yang terjadi.

4-tipe-keluarga-menurut-penulis-novel-ayat-ayat-cinta-anda-yang-mana-uZZhLFzyK5.jpg

Source: Pinterest

Apabila proses komunikasi antarpribadi ini dapat terjalin dengan baik antara orang tua dengan remaja, tentu akan menghasilkan hubungan antarpribadi yang baik pula. Sehingga remaja akan percaya dan lebih mudah untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, terhadap significant others mereka baik dalam hubungan pertemanan mereka, pemikiran yang lebih luas hingga personal diri mereka. Dengan demikian, komunikasi antarpribadi efektif yang terdiri atas saling menghargai, jujur, dan keterbukaan, dapat menciptakan rasa bahagia dan percaya diri kepada remaja dalam segala langkah pengambilan keputusan atas tindakan, atau permasalahan yang sedang mereka hadapi. Diharapkan pula, dengan terciptanya komunikasi antarpribadi yang efektif, remaja  mampu menempatkan keluarga sebagai tempat mencari solusi dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari, dan terciptanya proses komunikasi antarpribadi ini, dapat membentuk iklim komunikasi yang kondusif dari suasana yang tidak nyaman seperti adanya kekerasan verbal maupun non-verbal ketika berada satu lingkup yang sama yakni saat pandemi COVID-19 yang mengharuskan untuk berkegiatan lebih banyak di rumah.