MALAM TERAKHIR

Karena sebentar lagi, ada bahu lain yang segera akan menggantikannya.

MALAM TERAKHIR

"Kenapa sih kamu ninggalin aku berkali kali?!"

Thea setengah berteriak sambil menangis menatap wajah lesu yang kini hanya berjarak 10cm di hadapannya. Ini bukan pertama kali Thea dibuat patah hati oleh lelaki yang sama, yang sering ia protes kalau jenggotnya yang cepat tumbuh ia biarkan begitu saja. Paling perubahannya, hanya rambut yg semakin tipis kini membentuk V di sudut kepala karena terlampau keras memikirkan beban hidup. Atau memikirkan bagaimana caranya mempertahankan wanita wanita di hidupnya?

Minggu lalu, Thea terkejut melihat pesan dari salah satu koleganya

"Ini maksudnya apa ya?" dan terlampir undangan digital pernikahan, tertera nama lelaki yang tidak asing. Bukan nama Thea yang ada di baris selanjutnya. Thea sudah hilang rasa untuk meresponi apa yang terjadi.

Segera setelah ia membaca undangan, ia menelepon Gaya meminta penjelasan tentang apa yang terjadi. Kurang dari 30 menit Gaya datang dengan kemeja flanel biru favorit Thea, masih lekat dengan bau parfum yang sama karena sudah dipakai ratusan kali. Langsung ia melempar sepatu dan baju yang belum lama ia keluarkan dari lemarinya kearah Gaya.

"Gila sih kamu, barang barang kamu masih di lemariku, dan hari ini aku dapat undangan kalau kamu akan nikah minggu depan sama orang lain?"

"Aku bisa jelasin, semuanya. Maafin aku, aku ngelakuin ini supaya aku ga kehilangan kamu. Aku engga bisa liat kamu sedih lalu ga ada tempat cerita," sanggah Gaya.

Kalimat yang tak asing, yang berkali kali Thea dengar. Berkali kali juga diingkari. Persetan dengan semua dustamu. Kutuk Thea dalam hati.


Hari itu, Thea setengah memohon dibebaskan hidupnya dari belenggu semu. Walaupun air mata membayangi pandangannya, Thea berusaha menjaga kewarasaanya. Membuang pandangan ke arah lain, selain ke arah pintu balkon. Dipandangi lemari berkaca di hadapannya. Merenungi apa yang salah pada dirinya.

"Rambut coklatku? Tulang hidung yang landai? Atau mata sayu yang ditemani kantung mata?"  

"Kamu engga salah apa apa, aku minta maaf," Gaya sudah kehabisan enerji menanggapi rengekan Thea.

Terakhir kalinya, Thea membiarkan ia tenggelam dalam pandangannya. Lelaki yang mengisi hari harinya selama seperempat hidupnya, yang tak jarang ia tangisi, akhirnya harus berhenti ia tangisi di usianya yg ke 24. Malam ini terakhir kalinya Thea membiarkan lengan kekar berkulit coklat itu memeluk bahu kurusnya. Karena sebentar lagi, ada bahu lain yang segera akan menggantikannya.