Jeritan Maut

Jeritan Maut
"Nggak mau!!! Nggak mau!!! Nggak mau!!!" jeritan Katty menggelegar tak putus-putus.
 
Katty bukan anak saya, dia anak teman. Teman ini  sedang dinas ke luar kota, maka Katty dititipkan ke saya. Usianya saat itu 11 tahun, kelas 5 SD. Benci sayur. Cukup sehat, tapi kalau flu selalu disertai demam. Biasanya sih cukup  diberi sirup penurun panas biasa. Kali ini tidak. Karena itu kami berakhir di ruang praktek dokter di klinik ini.
 
Katty masih telentang di tempat tidur periksa saat drama itu dimulainya.
 
"Saya suntik ya, Katty. Di pantat aja, jadi tolong tengkurap," begitu tadi kata bu dokter.
 
Alih-alih tengkurap, ia malah jejeritan. Mengagetkan saya, dan tentunya juga bu dokter yang tengah menyiapkan alat suntik.
 
Sukses juga sih akhirnya membuat dia mau disuntik. Caranya? Mengiyakan saja syarat dan prasyarat yang diajukannya. Apalagi kalau bukan dibelikan makanan enak-enak tak mengandung sayuran. Meski jeritannya tak putus jua bahkan saat tengah disuntik.
 
Kelar disuntik, saya antar Katty pulang. Masa itu belum ada yang namanya ojol. Belum ada tata cara pesan makanan secara online sambil ongkang-ongkang kaki di rumah. Akibatnya, saya harus pergi sendiri ke satu mall papan atas buat beli segala sogokan untuk Katty. Janji harus ditepati, bukan? Meski dengan penuh kesebalan dan gerendengan.
 
Pulang dari mall, saya mampir lagi di klinik. Guna mengambil obat racikan yang memakan tempo persiapannya. Tiba di counter obat, saya sebut nama Katty. Belum lagi mulut saya kembali mengatup,  tiba-tiba bergemuruh suara tawa. Membuat saya sedikit terlompat saking kagetnya.
 
Tawa itu datang tak hanya dari orang-orang di counter obat, tapi juga dari mereka yang di counter kacamata, di meja pendaftaran, dan di mana saja. Pokoknya dari seantero klinik (rasanya begitu).
 
Apa pasal!?
 
Ternyata, jeritan Katty tadi membahana sampai ke seluruh sudut klinik. Nama Katty pun menjadi terkenal di klinik itu. Gantian saya yang ngakak. Kesebalan pun saya hilang. Dan, di rumah, giliran Katty yang sebal mendengar laporan saya.
 
Sekian tahun sudah berlalu, Katty sudah dewasa. Anak angon itu sudah lebih sebagai teman untuk saya. Sedikit lirikan saya tiap kali kami melewati klinik itu, akan direspon Katty dengan, "Iya, iya, iyaaaa..."