JANGAN DIPENDAM, NGOMONG!

JANGAN DIPENDAM,  NGOMONG!

JANGAN DIPENDAM, NGOMONG! 

“Duh! Orang-orang itu Pa, baca deh, kayaknya nyindir kita. Masa iya papa korupsi dana bantuan sosial untuk covid. Ya gak mungkinlah. Suamiku kan pejabat, iya kan Pa? lagian bansos gitu aja paling cuma berapa si, gak ada sampe cepek ceng, udah dibahas-bahas.” Pagi-pagi Bu Suryo sudah mengomel tentang percakapan grup pada aplikasi bewarna hijau yang ada di ponselnya.  

Pak Suryo yang sedang membaca koran di teras usai sarapan, sedikit pasang telinga dengan mimik muka was-was. 

“Heem, emang ada apa Ma, uda jelas semua kok. Papa juga uda minta Pak Nanang selaku bendahara bikin laporan.” 

“Nih baca Pa!” Bu Suryo menyodorkan ponselnya pada Pak Suryo. 

A : [Jadi, kemarin bansos itu kalau dikalkulasikan dapat dana berapa ya, Bu?]
B : [Nah, itu, kok kayaknya gak ada seratus ribu]
C : [Duh, Ibu-Ibu juga ngerasa, ya? Kalau cuma dikit dapatnya]
B : [Iya, Bu. Coba deh itung, cuma Indomie dua bungkus, beras lima kilo, telur seperempat kilo, gula satu kilo, udah, palingan cuma sekitar tujuh lima ribu. Bener kagak?]
D :[Nyimak] 
E : [Next]
F : [lanjut, ikut nimbrung}
A : [Jadi feeling saya gak salah ya? Maaf lo ya, semua jadi kepikiran, btw, Bu Suryo mana ya? Kok gak nimbrung, biasanya memberi arahan]
.
.
.
.
.
.
.

“Tuh kan, Pa? Mama jawab gimana nih? Gak enak ya jadi ketua RT, banyak yang suudzon, Cuma dana segitu aja, diributkan. Dana hibah, weleh-weleh, dasar ibu-ibu kurang transferan dari suaminya,” gerutu Bu Suryo 

Pak Suryo yang dari tadi membaca pesan yang terdapat dalam ponsel Bu Suryo, tidak menunjukan ekspresi apapun. Ekspresinya datar seperti kanebo kering. Terlebih setelah membaca pesan lain di aplikasi hijau di ponsel itu. Banyak sekali pesan masuk tentang skin care, tas branded, baju model baru dan perhiasan mutiara yang katanya asli laut Banda.

Ocehan Bu Suryo masih terdengar nyaring seperti bebek guling di depan kupingnya. Namun, Bu Suryo tak menyadari, apa yang ada di dalam pikiran dan hati suaminya lewat raut wajahnya. 

 [Bos, gimana? Jadi dapat sepuluh persen ya? Kita bagi dua? Kalaupun delapan persen, gak papa wes, mayan ada pemasukan] 

Pesan Pak Suryo pada seseorang di ujung sana. 

[Kata Bos Besar, bagian lapangan cuma dapat tiga persen, bagi-bagi sama yang lain, sorry Bos] 

Balas seseorang di ujung sana. 

Pak Suryo menghelas nafas. Otaknya terasa panas. Hatinya mulai kebas. Kebutuhan bulanan, tagihan wajib, biaya sekolah anak-anak dan foya-foya istrinya, berputar di kepalanya. Ingatan almarhum abah, terlintas di pikiran. 

“Le, kowe tenan po, rabi karo cah iku? Gak abot ta ambek arek model ngunu? Mben yen tenan wes dadi imam, kudu teges! Jo mung gengsi, dipendem wae pepenane wong lanang kudu nyukupi. Diomongno opo anane wae. Nek keblinger, kowe dewe sing soro.” 
(Nak, kamu beneran jadi nikah dengan gadis itu? Yakin kamu sanggup memimpin gadis seperti itu? Nanti kalau sudah jadi seorang imam, harus tegas! Jangan dipendam sendiri karena gengsi. Sebagai lelaki, suami punya tugas wajib mencukupi semua kebutuhan istri tapi ya harus musyawarah. Ngomong apa adanya saja, hidup apa adanya. Biar tidak lupa daratan. Nanti kamu susah sendiri.)

Sekarang, apa yang ditakutkan almarhum abah, benar-benar terjadi. Suryo merasa kerdil terlilit lingkaran setan karena bermain curang dari peluang jabatan yang diemban. Menjadi suami dari seorang wanita cantik bernama Anita Ratnasari. Darah biru keturunan konglomerat di daerah utara pulau Jawa nyatanya tak membuat kehidupan pernikahannya bahagia. Dia tak bisa berkutik atas permintaan macam-macam dari istrinya. Mulut rasanya terkunci untuk mengucapkan kejujuran. Hati rasanya tak sanggup melihat wajah ayu itu kecewa. Akhirnya takdir yang berbicara bahwa nasib buruk terlihat di depan mata.

Suryo sadar, entah besok, entah lusa atau mungkin beberapa jam lagi, bom waktu akan meledak pada waktunya. Dia pasrah. Setidaknya, meski Tuhan akhirnya mengirimkan hukuman. Dosanya tak banyak-banyak amat. Dia sudah berusaha menjadi suami taat yang bertanggung jawab atas kehidupan yang layak bagi istri dan anak-anaknya. Hari esok urusan akhirat.