Huma tempat berlabuhnya kerinduan

Huma tempat berlabuhnya kerinduan
Buku Mencari Jalan Pulang

“Akhlak adalah sesuatu yang lebih utama di atas ilmu pengetahuan, dan barang siapa yang tidak mengedepankan sopan dan santunnya maka ilmunya jauh dari kata manfaat.” 

Imam Hasan al-Bashri

Kehidupan adalah rangkaian sebuah perjalanan. Lelungan yang pastinya akan kembali pulang. Sangkan paraning dumadi, ibarat kata demikian. Seakan-akan kita jalan lurus ke depan, tetapi sejatinya kita berjalan seperti halnya lingkaran. 

Air mengalir dari hulu ke hilir, sembari membasahi tanah di sekitar alirannya. Menyisakan kembang yang semerbak wewangian, menjulangkan pepohonan dengan daun yang rimbun, menyatukan reranuman sehingga sejuk menjadi muaranya. Begitulah sepatutnya kehidupan. 

Innalillahi wa innna ilaihi raji’un, sangkan paraning dumadi, dari mana kita berasal, kesanalah kita kembali. Agaknya kalimat di atas dapat mewakili buku yang bertajuk esai-esai sufi ini. “Mencari Jalan Pulang” adalah judul utama dari buku yang disusun oleh kemenakan Kyai Wahab Chasbullah; Kyai A. Jabbar Hubbi. 

Manusia dan Salik al-Ilm 

Seseorang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain tentu akan berjumpa dengan ragam pengetahuan, lalu berujung pada pengalaman. Apalagi sebagai salik al ilm, mencari ilmu adalah sebuah keharusan. Kata Nabi Muhammad SAW, mencari ilmu itu dimulai sejak lahir sampai ia berada di liang lahat. 

Sedangkan hukumnya wajib bagi setiap muslim, tentu bagi setiap manusia. Artinya pengetahuan menjadi bekal perjalanan selanjutnya. Dalam pencarian ilmu biasanya dibarengi dengan riyadah atau tirakat, mengurangi sedikit kenyamanan hidupnya agar mendapat kemudahan dalam mencari pengetahun dan keridlaanNya. Sehingga segala yang dialami dalam pencarian ilmu merupakan bagian dari perjuangan. (hal.19) 

Pengetahuan yang dimiliki seseorang akan menjadi cahaya tidak hanya untuk kebahagiaan dirinya saja, tetapi semakin matang dan semakin dalam perenungannya, maka akan menjadi air yang menghilangkan dahaga siapapun yang meminumnya. Karena pengetahuan tidak akan melanggar asas actus primus yang dimiliki oleh seseorang. 

Selagi ia ajeg untuk menjadikan pengetahuan sebagai ruang meditasi diri, menganalisis diri, dan mematangkan diri untuk menjalani ragam kehidupan. hal ini menjadi upaya yang keras agar kemanfaat dan keberkaan pengetahuan yang dimiliki tidak hanya menjadikannya kemrungsung

Banyak bermunculan ahli ilmu, mempelajari ribuan kitab, tetapi tak pernah sama sekali menyentuh jiwanya, mengetuk hatinya. Hingga yang terjadi kemudian, pengetahuan yang ia miliki hanya untuk mencari kebenarannya sendiri, menyerang orang lain yang tidak sepaham dengannya, mudah menyalahkan dan menghakimi, memaksakan kebenaran dirinya sendiri untuk diterima dan diikuti. (hal.25) 

Oleh karenanya, tirakat dalam mencari ilmu adalah berusaha semakin rendah hati dengan ilmu yang dimilikinya. Ujar-ujar lama mengatakan “Pohon yang semakin tinggi menjulang, maka anginnya semakin kencang menerjang.” 

Mati sakjroning urip, urip sakjroning mati

Perbincangan Nabi Khidir dan Kanjeng Sunan Kalijaga memberi gambaran bahwa lelaku urip harus bermuara pada kedalaman sikap dan kepekaan. Lelaku setiap orang adalah sirna saking makhluk lebur marang Allah. Apa yang dilakukan tiada dasar alasan karena makhluk, semuanya bermuara kepada Tuhan. 

Hingga ragam upaya dilakukan untuk membenamkan diri dari pujian dan rasa hormat, dan hanya mencari ridla dari Tuhan semata. 

Manusia lahir dengan ragam potensi yang dimiliki. Hal ini menunjukkan betapa Tuhan benar-benar memulikan manusia. Potensi yang dimiliki setiap manusia tiada lain hanya untuk beribadah kepada Tuhan.

Mengabdikan diri kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Hal ini sejalan dengan pengertian bahwa manusia adalah hamba, yang menghamba kepada Tuhannya. Artinya setiap laku dalam hidupnya tiada lain hanya bermuara dalam cinta. Cinta kepada Tuhan Maha Segala. 

Idfin wujudaka, adalah ritus yang sangat sulit dijalankan oleh para lelaku. Ini membuktikan bahwa teori lebih mudah ketimbang praktiknya. Dan sekali lagi muaranya ada pada moral. 

Kedalaman sikap dan kepekaan yang dimaksud oleh Nabi Khidir tentu memiliki ragam tafsir bagi setiap manusia. Hal ini bertujuan agar setiap ibadah tidak bertujuan untuk mendapatkan hal selain cinta dan kasihNya. 

Biasanya golongan yang memiliki kedalaman sikap dan kepekaan yang kuat adalah golongan al Muhibbin dan al ‘Arifin, yang mana beribadah kepada Allah hanya bertujuan untuk mengbdikan diri serta memenuhi hak-hak Ketuhanan. (hal. 72)

Meraba Jitok 

Evaluasi diri, menerima masukan, kritikan dan penilaian dari luar memang sangat perlu. Apalagi, kehidupan ini naik turun, asas fluiditas masih berlaku. Manusia kadang di atas kadang di bawah, kadang dekat kadang juga jauh. Hal ini jika disadari akan menjadi sesuatu yang sangat wajar.

 Seperti halnya kisah nenek pengumpul daun yang termuat dalam buku ini. Setiap masjid pasti memiliki takmir yang mengurusi segala keperluan masjid tersebut. Suatu ketika di depan masji tersebut berserakan dedaunan dan seorang wanita tua rentah membungkuk mengumpulkan dedaunan tersebut. 

Sampai akhirnya, suatu ketika sang nenek melihat halaman masjid tersebut bersih dan tak menemukan satupun daun kering seperti biasanya. Ia menangis, kemudian salah seorang takmir menemuinya dan menanyakan apa sebab ia menangis.

Singkat cerita, ia mengaku bahwa ia adalah seorang wanita bodoh yang tidak mengerti perihal agama. Ia merasa bahwa amal yang sedikit ini belum cukup untuk menyelamatkannya di akhirat kelak. Ia berharap kelak ia akan dijemput oleh Kanjeng Nabi Muhammad, dan daun-daun tersebut yang menjadi saksi bahwa nenek tersebut membaca shalawat kepada Kanjeng Nabi. (hal.83) 

Dari sini, kita dapat melihat bagaimana seseorang menyadari bahwa ia tidak memiliki apapun yang mampu dipersembahkan kepada Tuhan. Pengabdian yang ia lakukan adalah harapan-harapan kecil yang mungkin saja bisa diterima oleh Tuhan dan dicatat sebagai pengabdian yang tulus. Pertanyaannya, lantas bagaimana dengan kita? apa bekal kita? 

Ma’rifat 

Derajat ini menjadi proses yang berbondong-bondong dikejar oleh sebagian besar para salik. Ragam interpretasi mewarnai diskusi tentang “Ma’rifat”. 

Ada yang mengatakan bahwa ma’rifat adalah maqam tertinggi manusia, di mana manusia sangat dekat dengan Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu

Dengan kata lain siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya. Namun demikian pengertian yang penulis buku sodorkan tentang ma’rifat lebih erat dengan manunggaling kawula lan gusti. 

Sehingga ketika melihat makhluk lain ciptaan Allah, atau melihat manusia lain, baik sikap dan ucapannya maka yang tampak dalam benaknya bukan manusianya melainkan Allahnya.

Jauh dari pada itu, hal ini lebih mengedepankan kepada sikap sadar diri. Artinya apa-apa yang menimpa kita, dan itu dari luar kita, maka Allah mengingatkan kita melalui apa-apa yang ada di luar kita tersebut. Sehingga hal ini sejalan dengan jenis-jenis maqam yang di sebutkan dalam buku ini. (hal.148-152) 

Dengan demikian, proses perjalanan pulang adalah proses melihat kembali ke dalam diri. Proses mengenali diri dengan sebaik dan sedalam mungkin. Karena semakin kenal dengan diri sendiri, maka semakin paham posisi. Ketika paham posisi maka akan saling menghargai satu sama lain. 

Saling menghargai satu sama lain adalah bagian dari proses menuju jalan pulan. Kunci dan kendaraannya ada pada bagaimana kita sebagai manusia. Sehingga kerinduan kepada Tuhan dapat terwujud, salah satunya dengan saling menghargai satu sama lainnya.[]

 

Info Buku

Judul         : Mencari Jalan Pulang 

Penulis    : A. Jabbar Hubbi 

Penerbit  : Maknawi 

ISBN          : 9786239427115

Tahun       : 2019

Peresensi : Ahmad Dahri