GURU KEBETULAN

GURU KEBETULAN

GURU KEBETULAN

Saya tidak pernah menyangka jika pada akhirnya menjadi guru bagi TNI, khususnya TNI AL. Tidak pernah terbesit sedikitpun untuk menjadi seorang guru di lingkungan militer. Ketika saya mendaftar TNI AL saya belum tahu apa yang akan saya kerjakan.

Dalam benak saya pasti saya akan ditugaskan di suatu tempat baik dimasa perang atau damai. Kenyataan itu benar. Setelah SMA aku mengikuti basic training selama 3 bulan dan kejuruan selama kurang lebih 6 bulan di Surabaya, tempat,menggodok mental dan fisik bagi prajurit TNI AL. Disitulah saya merasakan benar-benar menjadi tentara. Dengan senjata laras Panjang yang menemani dalam keseharian saya, harus saya jaga dan bawa kemanapun saya pergi.

Senjata adalah suami nomor satu saat itu karena saya masih belum menikah. Sebelum istirahat malam, senjata harus dibersihkan dan harus mengkilat. Pada awal-awal basic training senjata disimpan di samping tempat tidur masing-masing, hingga pada saat kejuruan ditempatkan di suatu ruangan khusus yang dijaga secara bergantian. Banyak kisah yang terjadi di saat pendidikan. Saya tidak bercerita secara detail tentang pendidikan namun pengalaman saya terjun menjadi guru Bahasa Inggris di TNI dan TNI AL khususnya.

Setelah lulus dari pendidikan Saya berpangkat Sersan dua (Serda) dan penempatan pertama di bagian personel sebagai Spri Direktur. Setiap hari jika tidak ada surat menyurat atau pekerjaan administrasi yang harus disampaikan ke Direktur, saya lebih suka membaca buku Bahasa Inggris.

Beberapa kursus Bahasa Inggris yang diadakan seminggu sekali oleh bagian Pendidikan saya ikuti, lumayan dua jam pelajaran setiap pertemuan. Bapak Direktur mengijinkan saya untuk mengembangkan diri.

Enam bulan menjadi Serda saya minta ijin ke Direktur untuk kuliah setelah jam kerja. Beliau mengijinkan. Saya kuliah dengan biaya sendiri dari hasil menabung selama enam bulan. Saat itu saya kuliah di Akademi Bahasa di daerah Cikini, ABA ABI Jakarta. Memiliki banyak teman dari berbagai profesi membuat wawasan saya lebih luas.

Dua tahun kuliah, saya mendapat tawaran untuk mengajar di Marinir Cilandak. Perwira-perwira muda yang akan disiapkan ke luar negeri. Kesempatan baik itu saya terima walau saya belum pernah menjadi guru Bahasa Inggris. Saya mengajar tidak di jam kerja namun setelah jam kerja dua kali seminggu. Pada saat liburan semester saya mengajar prifat anak-anak SD.

Dua kelompok yang berbeda baik usia maupun kemampuannya. Dalam teknik mengajar saya banyak mengambil dari pengalaman ketika saya belajar bahasa Inggris di SMP dan SMA. Saya sangat dekat dengan murid-murid saya sehingga mereka tidak sungkan untuk bertanya maupun berkeluh kesah kepada saya.

Semakin lama saya semakin menyukai mengajar. Mengajar tidak lagi profesi secara kebetulan namun menjadi hobi. Hidup serasa hampa tanpa siswa-siswa saya. Ketika saya mendapat pelajaran dari bapak Aris Ahmad Jaya, saya mulai menganalisa diri saya sendiri. Saya termasuk salah satu guru kebetulan yang menjadi guru betulan. Guru betulan yang secara sadar melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara sungguh-sungguh.

 

Nani Kusmiyati, SPd., M.M.

Jakarta, 7 Februari 2021

Lomba Menulis PGRI hari ke-7