Murphy's Law

Murphy's Law
Senin. Hari yang cerah. Sesudah minta OB belikan lauk, saya bergerak untuk masak nasi. Pakai beras merah. Beras siap dipanci, panci siap dijerang. Maka...
 
Ceklek, ceklek, ceklek..., pemantik api di kompor menjerit. Lalu, sepi. Api tak muncul berjoget sama sekali. Sampai OB datang, yang lalu memberikan vonis.
 
"Gas-nya abis nih, mbak".
 
"Tolong belikan, pak".
 
Itu tadi kira-kira pukul 11 siang. Gas baru datang menjelang magrib. Siang tadi agen kehabisan stok, saudara-saudara.
 
Selasa. Kisah hidup saya di hari ini, sama persis dengan kemarin. Sampai dengan moment ceklek ceklek. Apa vonis dari OB hari ini?
 
"Kayaknya kepala gas-nya rusak. Kalau beli, harganya sekian".
 
Tengok kocek, cukup dananya. OB berangkat pergi beli. Hanya untuk kembali dengan tangan kosong.
 
"Yang seperti kita punya itu model lama, mbak. Udah nggak ada yang jual. Model baru lebih gini gini gini, gitu gitu gitu."
 
Harganya nyaris 4× dari budget yang tadi disampaikan. Alhasil, terpaksa tunda ke besok. Saya baru bisa mampir ATM malam nanti pas pulang.
 
Rabu. Hari ini saya memutuskan untuk berhenti dulu jadi keledai. Tidak lagi sok-sok'an bikin rencana masak nasi merah segala. OB pergi beli kepala gas, sekalian saya minta belikan makan siang. Lengkap dengan nasi putihnya.
 
OB kembali dengan senyum lebar, makan siang, dan, yang terpenting, kepala gas baru.
 
"Pasang segera!" titah saya dengan riang gembira.
 
Senyum kami cepat sekali menghilangnya. Sampai adegan ceklek ceklek, kisahnya sama dengan dua hari kemarin. Api masih belum mau bergoyang.
 
"Saya rasa kompornya rusak, mbak. Ini kan lebih dari sepuluh tahun lalu dibawa Pak T. Oleh-oleh syuting di Bali," OB menerangkan.
 
Oh. Baiklah.
 
Kamis. Dari rumah saya mampir dulu beli kompor gas. Sampai di kantor, langsung di pasang. Senangnya! Akhirnya bisa masak nasi merah.
 
Jumat. Sampai di kantor yang kompornya baru, rasanya semangat sekali. Kehebohan dapur beberapa hari kemarin, rasanya sudah jauh sekali. Itu kejadian di masa jurrasic park kan ya? Mau masak nasi merah lagi ah!
 
Masuk dapur, lampu saya nyalakan. Terdengar suara mengkhawatirkan. Teriakan saya pun menggelegar.
 
"Pak OB!!! Belikan bohlam buat di dapur. Segera!!!"