FOTO, BUKAN GAMBAR

FOTO, BUKAN GAMBAR

 

Di sore yang redup dan tenang ini, akhirnya gue dan Sasha jalan bareng. Kita berdua sepakat buat reserve di sebuah tempat makan dengan view yang mirip banget sama wallpaper windows. Lumayan jauh dari pusat kota Jogja, sekitar 30 menit perjalanan. Abhayagiri namanya.

"Sha udah pernah ke sini?" tanyaku.

"Udah, sekali sama Mama. Waktu itu Sha ke sininya malem tapi. Ternyata bagusan kalo sore," jawabnya. Matanya kesana-kemari sibuk mengamati indahnya pemandangan yang dulu dia lewatkan.

"Ayok cepetan jalannya!" tambahnya lagi.

Gue yang daritadi sibuk mengamati dua keindahan sekaligus, ya pemandangannya, ya Sashanya, terpaksa harus mengiyakan. Akhirnya kita sampe di table yang kita reserve. Table outdoor di sebelah bangunan utama. Sha yang pilih. Kebayang kan, langit sore di table outdoor dengan lilin di meja dan beberapa lampu taman berbentuk obor yang udah mulai dinyalain. Instagramable!

Nggak lama kemudian makanan kita datang.

"Mas, tolong ambilin gambar dong," kata Sha ke waitressnya sambil nyomot handphone gue.

Setau gue yang namanya foto paling cuma berapa detik sih, satu dua detik paling. But this time, it takes a little bit longer.

"Udah belum mas?" gue nanya setelah kena tendangan bawah meja dari Sha.

"Belum mas, sebentar," jawabnya.

Setelah dua juta tahun cahaya, waitress itu ngembaliin handphone gue plus nyodorin kertas putih yang bergambar dua orang duduk di meja dengan latar perbukitan khas gambaran anak SD. Gue sama Sha bengong liat-liatan. Spontan gue cek gallery di handphone. Foto terakhir adalah foto Sha yang gue ambil diem-diem.

"Mas mas, minta tolong difoto mas, bukan digambar," kata gue nahan ketawa.

Sha pukulin tangan gue. Dia ngakak parah.

 

-------x

#nowplaying Ekspektasi - Ocan Siagian ft. Okin