Dunianya tanpa suara

Dunianya tanpa suara

“Maaf mba saya pakai alat bantu pendengaran. Nama saya Ima . Jadi saya hanya bisa bahasa indonesia tidak bisa bahasa bali " dia  memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.

“Oh iya ? “ entah seperti apa dunianya tanpa alat pendengaran itu, dunia tanpa suara. Mungkin seperti tidur terlelap tanpa mimpi. Dan terbangun karena suara- suara berisik disekitar ? Apa dunia tanpa suara itu tanpa persepsi ?  

“ Saya dari kecil tidak bisa mendengar dan berbicara.”

“Tapi sekarang bisa lancar ?” tanyaku

“ Iya saya sampai umur 5 tahun ga bisa bicara, lalu sekolah di SLB”

“Lalu ?”

“ Lalu saya mulai TK, SD, SMP dan SMA disekolah normal”

“Apa tidak pernah dibully “ tanyaku lagi

“ Ada waktu SMA tapi sekarang orangnya sudah kena karma “

“ Karma Apa ?” aku penasaran darimana dia tau kalau orang itu kena karma ?

“ Sampai sekarang dia belum punya anak “!

“Oh” apa iya ? apa itu Cuma asumsi nya saja ? Bagaimana dengan ku yang belum menikah diusia 36 tahun ? Apakah ini juga karma ?

“ Saya cemas, apakah anak- anak saya akan seperti saya ? Dan saya bersyukur mereka normal. Oh ya suami saya normal.”

Aku hanya menganggukkan kepala. Lalu dia memulai pelajarannya. “Tolong ini dicatat dulu “. Pintanya. Ima ini adalah guru private menjahitku. Sebenarnya 15 tahun yang lalu aku sudah pernah belajar menjahit Cuma saat itu tidak ku tekuni. Oh karena juga aku tidak membeli mesin jahit. Jadi semua imu itu menguap. Kalau dikatakan manusia adalah mahluk kebiasaan, itu benar. Jadi kini aku memulainya lagi dari nol. Lalu apa aku sudah punya mesin ? Masih belum juga. Apa aku akan membeli mesin jahit ? Masih aku rencanakan. Lalu mengapa aku belajar menjahit, entahlah. Mungkin ini seolah- olah aku berangkat kerja tiap pagi. Jadi semacam visualisasi .