Covid-19 Melandai, Tapi Ia Terus Mengintai

Semangat kembali ke sekolah sudah mulai timbul, protokol kesehatan sudah ketat dijalankan, namun tetap waspada

Covid-19 Melandai, Tapi Ia Terus Mengintai
Gejala Covid-19, melandai

 

            Terus terang penulis merasa sangat prihatin dengan buka-tutupnya sekolah. Semangat kembali ke sekolah yang sudah mulai timbul, bisa jadi tenggelam lagi. Kepada anak-anakku peserta didik mulai dari tingkat SD sampai dengan mahasiswa, jangan dulu santai, karena covid-19 itu baru mereda, jadi jangan dulu euphoria. Ingat Singapore, ingat-ingat baru saja penerbangan dibuka di negara itu, tapi kini Rumah Sakit sudah nyaris kewalahan dibuatnya.

            Oleh karena itu, penulis wanti-wanti dan senantiasa berdoa agar segenap saudara ku se bangsa dan se tanah air Indonesia ini tetap patuh dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Memang kalau terus-menerus begini keadaannya, kekhawatiran akan terjadinya learning loss bisa benar-benar menjadi kenyataan dan itu sangat-sangat merugikan. Siswa dan mahasiswa dipicu dan dipacu semangatnya oleh para pendidiknya, namun berapa persen yang benar-benar disiplin, karena pembelajaran daring banyak risikonya.

            Penulis tidak mengingkari kemajuan teknologi, seperti internet dan lain-lain yang kesemuanya itu bisa diatasi dengan daring (on line), seperti rapat-rapat, kegiatan belajar-mengajar, sampai praktikum di laboratorium bisa dilakukan secara virtual namun, perlu diingat bahwa kodrat manusia adalah makhluk sosial, perlu silaturahmi, perlu bersosialisasi, perlu menjalin persaudaraan (saling berkunjung), dan sebagainya. Kini sekian lama, hampir dua tahun lamanya semua digantikan dengan cara virtual, syukur ada HP – bisa telpon, bisa WA, bisa video call untuk mengatasi rasa kangen karena cukup lama terpisah.

            Protokol kesehatan sudah ketat dijalankan, tapi korona tetap nekad. Benda yang tidak terlihat ini sungguh hebat, diajak hidup berdampingan rupanya juga tidak bisa, ia maunya ‘membunuh’ manusia. Hal penerapan disiplin ini memang tidak mudah, buktinya terjadi penularan covid-19 di sekolah yang mengakibatkan sekolah ditutup kembali. Perlu diadakan evaluasi terhadap Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas secara rutin. Bagaimanapun juga diselenggarakannya PTM terbatas itu penting bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

            PTM terbatas tidak sekedar upaya mengatasi ketertinggalan pembelajaran secara akademis. Dianggap mendesak sebab kebijakan pembukaan kembali sekolah-sekolah adalah untuk menyelamatkan peserta didik dari tekanan psikhis karena sekian lama merasa kesepian, kegembiraannya menjadi hilang, murung dan bahkan sering mengalami ketegangan menghadapi orangtuanya. Begitu juga sebaliknya, tidak semua orangtua merasa tenang atau bahagia dengan cara belajar dari rumah (learning from home). Mendidik anak manusia itu adalah sebuah seni, ada unsur sabar, paham akan ilmu pedagogi dan pandai-pandai berstrategi, sehingga belajar menjadi menarik, menyenangkan dan menggairahkan.

            Teringat penulis akan sebuah kisah nyata yang dialami oleh rekan guru beberapa tahun yang lalu. Beliau adalah guru matematik yang mumpuni, mempunyai banyak murid les, tetapi anaknya di les kan matematik kepada rekan sejawatnya. Hal ini membuat penulis kaget dibuatnya, setelah dijelaskan duduk perkaranya barulah penulis memahaminya, bahwa betul terlebih baik dan efektif apabila anak bu guru matematik tadi diberikan pelajaran tambahan (les) oleh rekan sejawatnya.

Pemerintah Turun Tangan

            Dengan sekuat tenaga pemerintah telah mengendalikan laju penularan covid-19 dan terbukti hasilnya. Pemberian vaksin kepada seluruh rakyat, menggaungkan secara terus-menerus akan pentingnya protokol kesehatan dan berbagai kebijakan seperti memperpanjang PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) secara bertahap, dan sebagainya. Pendeknya semua usaha terbaik telah dilakukan demi keselamatan jiwa manusia.

            Ekstra waspada dan kehati-hatian sangat diperlukan, apalagi menghadapi musim pancaroba seperti sekarang ini. Peringatan yang dikeluarkan oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) jelas-jelas mengharuskan kita semua untuk serius menjaga kesehatan tubuh masing-masing agar tidak mudah jatuh sakit, seperti DBD (Demam Berdarah Dengue), influenza/batuk-pilek, asma, nyeri sendi dan gangguan pencernaan, yang ujung-ujungnya membuat orang menderita.

            Pendemi covid-19 ‘memaksa’ sekolah formal menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), yang penting jangan sampai terjadi putus sekolah. Guru dan dosen selain memiliki kemampuan pedagogi, wajib menyesuaikan diri dengan menggelar pembelajaran secara sinkronus dan asinkronus yang memastikan unsur kehadiran pengajaran, bertambahnya pengetahuan dan tetap dapat berinteraksi dengan peserta didiknya. Didukung dengan perkembangan teknologi yang kian canggih, diharapkan pembelajaran daring efektif. Belajar secara mandiri dan pertemuan tetap ada sekalipun secara maya dengan tutorial secara digital dan ujian berbasis web, kesemuanya itu ditempuh agar dunia pendidikan tidak menjadi stagnan, karena ilmu pengetahuan itu senantiasa bertumbuh dan berkembang.

Tingkat Vaksinasi Tinggi, Tingkat Penularan Covid-19 Rendah

            Untuk mencapai tingkat ideal dalam suatu pembelajaran usaha apapun harus ditempuh demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Kini semua pihak dihimbau untuk berperan serta menjaga diri, keluarga dan lingkungan sekitar, jangan dulu lepas kontrol, sehingga segala usaha yang dilakukan pemerintah selama ini dapat dirasakan bersama hasilnya, karena beberapa pakar epidemiologi berpendapat bahwa korona akan tetap ada walaupun yang tertular relatif sedikit. Tertib pakai masker, tidak boleh berhenti/berakhir dengan menurunnya kasus covid-19 dan disiplin tingkat tinggi tak boleh ditawar-tawar lagi.

            Sekalipun urusan penegakan disiplin ini krusial namun, bagaimanapun juga jangan sampai terjadi gara-gara pandemi covid-19 ini semakin memperburuk ketimpangan pendidikan yang memang sudah ada sebelum pandemi, khususnya bagi mereka yang tinggal  di daerah yang tidak memiliki akses internet. Mengatasi ketertinggalan peserta didik dalam pembelajarannya terus diupayakan oleh pihak-pihak yang bergerak di bidang pendidikan. Akan tetapi dengan berbagai macam pendapat para orangtua, ada yang mengijinkan putera/puterinya ke sekolah, ada pula yang melarangnya menjadikan hal ini benar-benar tidak mudah.

            Sampai kapan situasi dan kondisi seperti ini berlangsung? Semua hanya bisa berharap covid-19 segera enyah dari muka bumi. Kerinduan untuk dapat beraktivitas seperti dulu-dulu lagi kiranya tidak merupakan impian belaka, melainkan nyata. Kita ambil hikmahnya bahwa semua kita diajarkan untuk hidup bersih, pola makan sehat, disiplin diri, menjaga kesehatan dan tetap semangat menjalani hari-hari pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa dengan sukacita dan mengucap syukur.

 

Jakarta, 9 Oktober 2021

Salam Penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia –tyasyes@gmail.com