Semua Masalah Bisa Diselesaikan Dengan Komunikasi

Masalah dan komunikasi adalah dua hal yang saling berkaitan

Semua Masalah Bisa Diselesaikan Dengan Komunikasi
My Own Picture, Sumedang

 

 

Semua Masalah Bisa Diselesaikan Dengan Komunikasi

(Fitriati)

 

 

Yang namanya mengarungi lautan kehidupan pasti tak pernah luput dari goncangan ombak, ataupun terpaan badai. Begitulah manusia yang bernyawa, pasti memiliki masalah, baik itu ringan, sedang, ataupun berat. Yang menjadikan level ketiga itu berbeda adalah cara penyelesaian dan menghadapinya. Banyak di antara kita yang selalu senang membanding-bandingkan masalah sendiri dengan masalah yang sedang dihadapi oleh orang lain, lalu berujung pada tindakan mengingkari kemampuan diri sendiri.

 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 286, yang artinya.

 

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."

 

Dari sini bisa disimpulkan bahwa sejatinya manusia sudah dibekali kemampuan oleh Allah untuk menghadapi segala macam masalah yang datang silih berganti dan tak luput juga dari pertolongan-Nya. Yang perlu kita lakukan adalah bersabar dalam menerimanya dan bersyukur telah mendapatkannya.

 

Kenapa bersabar? Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Lalu, kenapa harus bersyukur? Karena kita sedang diuji untuk bisa lulus dan menaiki level selanjutnya. Rasa syukur yang kita panjatkan akan membawa kita pada keikhlasan dan keikhlasan itu menggiring kita pada ketenangan.

 

Kemudian semua itu hanya tinggal bagaimana kita bisa mengatasinya dengan baik tanpa melahirkan anak masalah dari masalah yang utama tadi. Percayalah! Allah tidak menciptakan manusia tanpa kebisaan, karena manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna luar dan dalamnya. Untuk itu berpikir panjang dan bertindak dengan hati-hati adalah salah satu cara penyelesaian yang baik.

 

 

Masalah bisa datang dari siapa saja, baik itu saudara sendiri atau bahkan dari orang lain. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap orang memiliki tingkat emosi yang berbeda-beda. Untuk itu, kita harus bisa membawa diri menjadi seorang yang pandai dalam berbicara dan menggunakan kalimat yang baik pula.

 

 

Sering kali kita tidak menyadari kata-kata yang kita lontarkan membuat hati orang tersinggung. Maka seharusnya kita harus mengoreksi, menimbang-nimbang lebih dulu kalimat yang akan kita lepaskan dari lisan ini. Karena tak jarang lidah kita tergelincir jauh hingga melukai seseorang. Yang tadinya masalah hanya satu, bisa bertambah menjadi dua karena ketidakmampuan kita dalam berkomunikasi yang baik.

 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18).

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda, ‘”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah dengan cara berkomunikasi adalah sebagai berikut:

 

1. Saling terbuka.

Betapa banyak setiap orang yang menjalin hubungan itu sulit untuk saling berkata jujur. Masing-masing saling menutup diri dan menyangka bahwa nantinya juga akan terungkap dengan sendirinya. Alih-alih terungkap, yang ada masalah akan semakin besar dan menimbulkan keretakan.

 

2. Saling bicara.

Jika kita merasa bahwa ada masalah yang perlu untuk diselesaikan, maka berbicara adalah poin lain yang harus dilakukan. Karena tak selamanya diam itu emas, acap kali akan menjadi boomerang.

 

 

3. Saling menjadi pendengar sejati.

Masalah muncul karena kita saling ngotot untuk selalu ingin bicara dan didengar tanpa mau mendengarkan yang lain. Ini menjurus pada sebuah keras kepala dan mau menang sendiri. Padahal jika kita saling memberi kesempatan untuk berbicara dan mendengarkan, tentulah masalah yang ada akan segera terselesaikan tanpa harus adu emosi.

 

4. Saling mengakui kesalahan.

Hal terberat bagi seseorang adalah mengaku salah. Banyak di antara kita yang masih menjunjung tinggi gengsi dan malu untuk membuat sebuah pengakuan. Rasa malu itu memang harus kita junjung tinggi di atas kepala, tetapi bukan malu untuk mengakui perbuatan kita yang salah, ya. Letakkan malu dan gengsi tepat pada tempatnya.

 

5. Mengontrol emosi.

Seperti yang disebutkan di atas, bahwa setiap orang memiliki tingkat emosi yang berbeda-beda. Percayalah! Bahwa dengan mengedepankan emosi, seperti menangis dan marah, hanya akan membuat masalah menjadi alot. Atur kadar emosi, agar tercipta sebuah solusi, bukan sebuah tragedi.

 

6. Saling tenang dan jangan ragu.

Campakan jauh-jauh amarah yang sudah menumpuk di hati. Bersihkan hati dari  segala macam bentuk emosi. Jangan sampai membiarkan keragu-raguan menguasai diri. Gegabah hanya akan menimbulkan anak-anak masalah.

 

7. Melakukan cara pendekatan atau penyelesaian yang lain.

Jika sudah melakukan semua cara 1-6 dan tidak juga menghasilkan jalan keluar, maka jangan cepat-cepat mengambil keputusan yang akhirnya malah melahirkan sebuah penyesalan. Misalnya, dengan cara meminta pendapat seorang yang berilmu dan tidak memihak pada salah satu dari kita yang memiliki masalah.

 

 

Percayalah! Hati dan pikiran yang bersih juga tenang akan menghasilkan solusi yang terbaik pula. Sucikan hati dan isi kepala agar tercapai sebuah keputusan yang indah.