COD TENGAH MALAM

COD TENGAH MALAM

 

Sejak lima, oh, hampir enam tahun lalu saya memulai bisnis online. Salah satu media sosial yang paling saya andalkan, ya, Facebook. Selain jangkauannya lebih luas, saya juga lebih khatam fitur-fiturnya tinimbang Instagram, Twitter, dan lain-lainnya.

Saya juga biasa melayani COD dan mengantar sendiri ke alamat. Baik tetangga apartemen, tower sebelah, bahkan kadang sampai Depok saya antarkan jika sesuai harga. Entah sudah berapa daerah yang saya lewati di Jabodetabek ini selama hampir enam tahun berjualan online.

Malam tadi, tepat jam 12 malam. Seorang pembeli dari tower sebelah menelepon dan meminta saya mengantarkan pesanannya yang sedari kemarin belum diambil karena dia sedang berada di luar kota.

"Kak, anterin sekarang batrenya, ya."

"Sekarang banget, Liv?" tanya saya sambil melirik jam di tablet.

"Iya, Kak. Olive butuh banget ini. HP yang itu mati total. Olive nyimpen nomor penting di situ."

Dengan berat hati, saya mengiyakan. Sebenarnya saya tidak takut dengan setan, hantu atau demit yang diceritakan teman-teman di WAG barusan. Saya hanya takut bertemu Ji Chang-wook yang membuat saya susah tidur.

Ya, saya memang menjual apa saja. Apa saja yang diminta pembeli, saya usahakan selalu ada. Termasuk batrai handphone jadulnya Olive.

"Liv, aku udah di depan lift tower E, nih." Saya  meneleponnya setelah sampai di lobi yang hanya ada satu satpam penjaganya sambil terkantuk-kantuk.

"Iya, Kak. Olive turun."

Tak sampai lima menit dia sudah berdiri di hadapan saya. Tengah malam begitu operasi lift memang lancar.

"Bawa kembalian nggak, Kak? Kembali 50 aja." Dia menyodorkan dua lembar uang kertas berwarna merah. 

"Wah, sisanya gimana, Liv?"

"Buat kakak aja jajan tteobokki," katanya.

Kemudian, saya menyerahkan satu lembar berwarna biru ke tangannya. Dua lembar uang kertas berwarna merah tadi berhasil masuk ke dalam dompet coklat saya. Dompet bonus pembelian krim racikan tahun lalu. 

"Ish, Olive baik banget. Makasih, ya." Saya  berbalik dan meninggalkannya.

"Kak, mana?" susulnya.

"Apaan?" Saya berhenti dan berbalik lagi.

"Mana?" Ia menyodor-nyodorkan tangan kanannya.

"Apa, Liv?" Saya mengerutkan dahi.

"Batrenya mana?"

"Ha? Eh, iya, lupa. Astagaa, Liv, maaf. Aku ambil dulu, deh."  Saya menepuk jidat dan berlari secepat saya bisa kembali ke unit.

Saya bisa membayangkan, betapa bingungnya wajah Olive menatap saya yang berlari kalang kabut seperti dikejar satpol PP itu. Saya juga bisa mengira-ngira yang ada di pikirannya, mungkin dia berpikir, "Terus, lu nemuin gue buat apa, Bambang!" begitu.