CELOTEH JIWA TUA

CELOTEH JIWA TUA

Alkisah hiduplah satu jiwa tua yang berkelana. Ia berpetualang dan terus berjalan dari satu ruang ke ruang lainnya, dari satu waktu ke waktu  berikutnya. Entah sudah berapa ratus ruang dan waktu ia singgahi. 
Kini ia berada di masa sekarang, saat ini, di sebuah tempat di mana akhirnya ia merasa bisa berdiam dan mengurut perjalanan demi perjalanannya. Duduk di bawah sebuah pohon yang rindang, ia memejamkan matanya sejenak dan terpendar dalam pejaman matanya warna-warna yang pernah membungkus dirinya. Ya, ia menyadari ia bukan lagi jiwa yang sama seperti dulu saat ia mengawali perjalanannya. 
Lalu, ia mulai bercerita kepada dirinya sendiri. 

“Ada masanya aku berusaha mencintai diriku sendiri, tetapi begitu banyak pertanyaan dalam pikiranku yang membuatku sulit menerima hidupku dan diriku. 

Kenapa aku begini? Kenapa aku begitu? Kenapa aku harus mengalami kejadian-kejadian buruk dalam hidupku? Apakah aku memang ditakdirkan untuk menjadi seperti ini? Selamanya? Kenapa aku tidak memiliki hal-hal seperti orang lain?

Ini adalah saat aku masih hanya memiliki sedikit cinta kasih dalam jiwaku. Sedikit untuk diriku sendiri, terlebih lagi untuk orang lain. Apa yang bisa kubagikan dari yang hanya sedikit yang aku miliki ini? Tak akan cukup rasanya. Aku selalu merasa kurang. Semuanya tentang aku.

Aku menyadari sekarang, bahwa saat itu aku cuma memiliki sedikit cinta kasih dan sedikit pengetahuan. Selalu mempertanyakan, mengeluh, dan merasa diriku adalah korban. Tapi aku berterima kasih padanya, pada jiwa mudaku, karena dialah yang mulai membuat perjalananku bermakna. Jiwa mudaku yang menggerakkan aku untuk mulai mencari banyak hal yang aku rasa tak kupunyai.”

Jiwa tua itu membuka matanya sedikit, silaunya sinar matahari seolah menginginkan dia untuk tetap memejamkan mata. Ia menghela nafas panjang, dan tersenyum tipis. Ia ingin melanjutkan ceritanya pada dirinya sendiri. Menuruti sang sinar, maka ia memejamkan lagi matanya. Kegelapan kini justru membuatnya nyaman untuk bercerita. Tak lama, sinar-sinar lain mulai berpendar lagi dalam pejaman matanya. Dan ia ingat warna pendaran itu, yang membawanya ke masa berikutnya. 

“Lalu ada masanya, aku memperoleh jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Benar kata Guru Sejatiku, kata-Nya, "Carilah maka kamu akan menemukan, mintalah maka kamu akan mendapatkan." 

Aku mencari pengetahuan dan aku menemukan banyak sekali ilmu pengetahuan. Ada begitu banyak penjelasan tentang mengapa aku begini dan begitu adanya. Dan mengapa aku mengalami ini dan itu dalam hidupku. 

Jiwa mudaku beranjak dewasa kala itu dan aku ingat bagaimana aku mengolah semua yang kudapat, menganalisa semua yang diajarkan. Aku belajar menyimpulkan hal-hal yang benar dan salah. Berusaha menemukan di mana salahnya, di mana kurangnya, dan berusaha memperbaiki semua yang menurutku salah dari diriku. Aku bukan lagi korban tak berdaya.

Aku berusaha keras dan ingin menjadi versi terbaik dari diriku, dan karenanya aku ingin menyingkirkan semua yang kurasa salah dan kurang dari diriku. 

Aku merasa aku bisa membawa kebaikan dan aku ingin membagikan kebaikan ini kepada semua orang. Aku selalu memakai kacamata benar salah sehingga aku tergerak untuk memberi tahu orang lain apa yang benar, dan apa yang salah. Ini kulakukan demi kebaikan mereka, karena saat itu aku ingat aku berpikir bahwa setiap orang akan menjadi lebih baik di jalanku dan dengan caraku. 

Kurasa, saat ini aku paham, bahwa saat itu aku merasa telah memiliki banyak pengetahuan, namun ternyata aku belum banyak bertumbuh dalam cinta kasih. Aku masih hanya punya sedikit cinta kasih untuk diriku dan orang lain. Menghakimi benar salah agar semuanya lebih baik dan menggerakkan orang lain untuk mengikuti caraku adalah warnaku saat itu.”

Lagi, jiwa tua menghela nafasnya, dengan tarikan yang lebih panjang dan dalam daripada sebelumnya. Ia mengenali jiwa dewasanya saat itu dan lagi-lagi ia merasa perlu berterima kasih kepadanya. Terima kasih untuk segala usahanya belajar dan memahami hidup ini. Namun, ia sedikit kasihan pada jiwa dewasanya karena ia ingat bagaimana ia begitu keras pada dirinya sendiri saat itu. Tapi tak apalah.. Itu bagian pembelajaran jiwanya.

“Hey, kembali ke saat ini, Jiwa Tua,” ia menggumam sendiri. Dan ia kembali menyadari rerumputan yang menyentuhnya dan hangatnya sinar matahari yang membungkus jiwanya. Ya, kembali ke saat ini, saat jiwanya semakin menua. Ia tersenyum sendiri, lebih lebar dan lebih hangat. Ia memutuskan untuk melanjutkan celotehannya, meresapi perasaannya saat ini. Di ruang ini, di masa ini.

“Hidup menuntunku untuk terus berjalan. Melewati masa-masa sebelumnya, aku kemudian tiba di suatu masa di mana semuanya terlihat lebih luas dan lebih terang. Dan aku bahkan menjadi lebih sadar bahwa pengetahuan yang aku miliki ternyata hanyalah sebagian kecil dari segala yang tersedia di semesta ini. 

Semakin luas aku menjelajah, semakin aku menyadari begitu banyak area yang belum kusentuh. Aku merasa semakin penuh, sekaligus merasa semakin kosong. Penuh yang kosong atau kosong yang penuh? Entahlah, mungkin tidak semua hal harus diberi label. Banyak hal yang terasa namun sulit untuk kugambarkan. 

Aku melihat benar dan salah semakin kontekstual. 100% benar dan 100% salah hanya berlaku untuk sedikit sekali hal dalam hidup ini. Seringkali, kebenaran yang satu hanya berbeda dengan kebenaran yang lain, bukan soal benar melawan salah. 
Aku melihat kebaikan dalam kekurangan, dan terkadang juga menemukan kekurangan dalam kebaikan. Baik, buruk, apakah aku betul-betul tahu?

Di masa ini aku belajar untuk tersenyum pada kekuranganku dan berterima kasih pada kesalahanku. Dan kini aku menyayangi mereka sama seperti aku menyayangi kelebihan dan kebenaran yang ada di dalam diriku. 

Dan di sini, di masa ini, aku melihat setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing, untuk berpindah dari satu masa ke masa yang lain. Perjalanan aku, mereka, kita,adalah perjalanan jiwa yang mungkin berbeda dalam banyak hal. 

Jika waktunya tepat, aku akan dengan senang hati menjawab jika ditanya, bergerak jika diminta. Namun tidak apa jika aku tidak dibutuhkan. Tidak apa juga jika ada yang berbeda denganku. 

Di masa ini aku belajar untuk hadir dan menjalani setiap saat. Belajar melepas dan menikmati aliran. Belajar bertumbuh dalam cinta kasih untuk semua. Sampai saatnya nanti aku berpindah ke masa yang lain. Entah kapan, entah masa apa. Perjalananku mungkin masih jauh untuk sampai menyatu dengan cahaya yang sempurna, tapi cahaya yang menyinariku saat ini rasanya cukup untuk jiwaku yang sekarang.”

Merasa cukup dengan celotehnya, jiwa tua ingin beristirahat sejenak. Ia memutuskan membiarkan gelombang tidur membawanya lebih dalam. Sekilas ia berkata lagi sebelum lelap, “Tak perlu terburu-buru dan tak perlu merasa bersalah. Bersyukur untuk yang ada di sini saat ini.” Damai dan nyaman, ia tertidur. Ia tahu ia akan sangat menikmati untuk melanjutkan perjalanannya lagi nanti.