Boncengin Komentator Sepak Bola

Boncengin Komentator Sepak Bola

Aku memiliki seorang keponakan laki-laki yang saat itu berusia 12 tahun. 

Seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya, ia suka sepak bola. Namun entah mengapa, dari sekian banyak profesi atau posisi dalam pertandingan sepak bola, komentator sepak bola adalah yang paling digemarinya.

Rasanya setiap saat ia mengomentari berbagai hal dengan gaya bak komentator sepak bola. Bahkan saat membonceng denganku di motor: 

"Yak pemirsa, sebentar lagi kita akan sampai di rumah. Saat ini Tante Ning sedang berjalan perlahan, lalu kemudian disalip karena terlalu lamban, ah sayang sekaliii.. Dan akhirnya permirsa, saat ini kita melewati Warung Bu Mimin, warung nasi tepatnya. Lalu kemudian Masjid dan Warung Bang Ali. Yak yak yak.. kita semakin mendekat. 30 meter lagi, 20 meter lagi, 10 meter lagi. Dan akhirnya, GOOOLLL!!" 

Bayangkan bagaimana rasanya baru belajar mengendarai motor dan harus membonceng makhluk absurd kayak gitu. Sepanjang jalan jadi gak berhenti ngakak dan jadi tontonan banyak orang (ampuun malunyaa..) 

Untungnya ia cepat bosan dan tak lama kemudian minatnya bergeser ke dance ala boyband Korea. 

Suatu hari ia ikut denganku berbelanja ke berbagai tempat, tiba-tiba aku teringat kalau ada yang lupa dibeli dan harus kembali ke toko yang sebelumnya. Saat aku menyampaikan tujuanku kepadanya, ia bertanya:

"Serius tante? Gak ada tempat lain selain yang tadi?"
"Emang kenapa kalau balik ke toko yang tadi?"
"Aku malu, tadi aku joget-joget di depan toko. Kirain gak bakal ke sana-sana lagi"
"Hahaha... Baiklah, mari kita segera kembali ke toko tadi"
"Aah tanteee.." (teriak sambil menutup muka) 

Masih banyak lagi perubahan minatnya yang selalu diikuti dengan tingkah absurdnya. 

Semoga aku diberi kekuatan, kesabaran, dan kulit muka yang cukup tebal agar bisa mengahadapinya dan sanggup kemana-mana bersamanya.