Bidadari dari jalur Gaza

Kisah pejuang Palestina

Bidadari dari jalur Gaza

(Cerpen Jadul saya nih dulu pakai nama pena Hamzah Mubarok :p)

"Bidadari dari Jalur Gaza"
by : Kang Lintang

“Apa gunanya kubercinta denganmu? Sungguh, yang penuhi nuraniku hanyalah HAMAS. Sekali lagi, HAMAS. Setelah ALLAH, Rasulnya, dan kemerdekaan Palestina”. Ungkapan tegas itu terngiang lagi di telinganya, untuk kali yang kesekian.

Itulah gumam hati Aisyah Ummu Umar.....

Wanita yang telah menyumbangkan 2 cintanya
Hasan Al Faruq suaminya yang syahid di penjara Israel
Dan Umar, bocah 9 tahun anak semata wayangnya, yang tewas ketika tentara Israel mengepung dan membantai perkampungan mereka......

Hatinya sudah ber azzam ia tak akan Menikah Lagi...
Ia hanya Mau dengan Hasan Al Faruq
Lelaki sederhana, tetapi mempesona jiwanya...
Dari pernikahan dengan lelaki itulah Lahir Umar....anak semata wayang mereka...

Semburat jingga mulai naik, paksakan sesungging senyum di wajah mentari. Seperti senyum Aisyah ketika menatap foto sang pujaan, Hasan Al Faruq. Sajadahnya menjadi sedikit basah, air wudhu masih menetes dari keningnya

Hari ini sudah seminggu tanah merah mengering dari makam anaknya....

“ya ummi, bagaimana kabar abi? Apakah dia masih gigih berjuang atau sudah syahid dan tinggal di surga?” tanya Umar berbisik kepada Umminya.

“Anakku, jikalau abimu telah tak bernyawa, kelak kita akan di pertemukan kembali di surga. Anakku, yakinlah dengan kuasa tuhanmu, tuhan kita, tuhan yang menguasai jagad raya ini. Ummi yakin abimu akan baik-baik saja” jawab umminya. Sebenarnya, ada kekhawatiran yang mendalam dari jiwa aisyah ketika berkata demikian kepada Umar anaknya, pertanyaan itulah yang selalu mengisi hari-harinya, apakah suaminya baik-baik saja?.apakah Hasan Masih hidup ??

Itulah kenangan terakhir di hari, ketika malamnya, Tentara Israel Biadab menembakan peluru ke rumah mereka....
Ke kamar mereka...
Dan Umar Bocah malang itu, menghembuskan nafas terakhir....di pangkuan nya..di pelukannya....!!

Aisyah kembali menangis
Dalam sujudnya ia berdoa....
“Ya Rabbana mereka telah mengambil dua cintaku....dan aku ridho akan ketetapanMU...karenanya anugrahkan lah kesabaran kepadaku.....!!


***
Indonesia, Tanjung Pandan Belitung 2/7/2008 jam 03.00 dinihari
Lelaki ini bergegas merapikan kopernya...
Menghitung semua nya
dr,Ahmad Lintang, SpB.....
dia seorang lelaki muda dokter spesialis bedah.....
salah satu anggota Team Medis yang akan berangkat ke Gaza...Palestina

***
Kairo, Mesir 4/7/2008 jam 09.00 pagi hari

Tubuh mereka berguncang-guncang..
Debu pasir menabrak kaca jendela mobil mereka
Tapi sopir kebangsaan mesir itu..terus saja melajukan mobil itu
Terus
Dan terus membawa rombongan Team Medis Cinta AlQuds dari Indonesia
Mereka berhasil mendapatkan 2 mobil ambulan yang akan membawa masuk mereka ke Palestina

***
Jalur Gaza Rumah Sakit PBB 5/7/2008 jam 23.00 malam hari

Di ruang kecil itu, dibarak yang mereka sulap menjadi musholla...
dr, Ahmad Lintang, tertidur dengan pulasnya...
gores keletihan teramat jelas di wajahnya
hari ini ia banyak membantu operasi bedah, warga Jalur Gaza, yang menjadi korban kebiadaban agresi Israel

Tiba-tiba saja


Langit dini hari yang indah kemudian kelam, dan kesunyian yang tenteram tergantikan oleh bising mesin-mesin penghancur. Begitu cepat. Diawali dentum getaran, lantai Rumah Sakit bergoyang. Semua terbangun, sontak melarikan diri keluar. Menghindari puing-puing serta debu-debuan yang mulai mengepung gerak. Reflek. Di ufuk, dr, Ahmad menyaksikan pijar, asal muasal bencana. Semua menghindar….. dari letupan bom itu.

ia menegok ke atas...ke langit gaza
tampak langit seolah tercerah oleh kilatan-kilatan sinar lampu Apache-apache Zion nan meliuk ganas. Di ujung kelopak, Ahmad sempat menangkap bom kupu-kupu berasap; menggerahkan tengkuknya yang naik turun memburu selamat. Geraknya pun melemas, mentolelir efek sengat pada kujur.

Hari semakin terang, dan matanya mulai meredup. Lama… dengan panas yang mengunyah di betis.

Silau itu membangunkan. Ia seolah terlonjak dari mimpinya, bermalam dalam kem-kem medis berlogo bulan sabit merah. Ia berlarian, menggapai gapai gemintang kelabu yang menjulur menyolek hidung. Tapi yang didapat adalah tangis. Ahmad menangis dalam mimpinya, membasahi bulu-bulu mata yang telah lama kering.

“Bantu Aku...!!
Terdengar suara memanggilnya...

Sejenak ia menoleh di antara kepulan asap...

Seorang wanita menggedong seorang bocah lelaki
Yang sekujur tubuhnya mengeluarkan darah.....

Dibuka kelopak mata anak itu
Tak ada bayang wajahnya.

Bergegas ia periksa denyut nadi anak itu
Satu, dua, tiga, empat, detak jarum jam nya tak ada tanda-tanda nadi anak itu berdetak.

“Maafkan aku...dia telah tiada...”!!

Blummm!!!

Suara rudal kembali terdengar, ahmad lari menjauh...tapi tanpa sadar
Ia memegang tangan wanita itu
Dan tiba-tiba 
“Afwan.....aku tak sengaja “!!
Tapi hiruk pikuk orang-orang yang berlari menenggelamkan suaranya.

***
Kemah-kemah Bulan Sabit Merah, Gaza 13/7/2008 pukul 14.00 petang

Semenjak Hari itu, dr Ahmad Lintang SpB, mengenal wanita itu....
Dia salah satu anggota Medis Hamas.

Obrolan ringan pun mengalir. Bermula dengan terima kasih dan basa-basi, bersambut kisah Aisyah tentang penyerangan balasan Hamas atas serbuan mendadak Apache-Apache Israel dini hari Minggu lalu. Dan kala hitam mulai membiasi horizon laut tengah, mata Ahmad ikut terpejam. Disambut mimpi-mimpi indah tentang … Aisyah


Ternyata interaksi kerap berlanjut. Dan kenyataan bahwa keduanya adalah sebaya dan sama-sama berasal dari Team Medis, membikin renda-renda merah muda tampak semakin istimewa. Aisyah selalu mengisahkan ceritere-ceritera heroik dari bumi tanah airnya, dan Ahmad menanggapinya dengan longokan bingung serta kagum. Dan saaatAhmad berusaha menggambarkan kerinduannya pada kampung halaman, Aisyah menanggapi dengan riang dan antusias.

Paling tidak, dalam bayang dan angannya. Karena Aisyah selalu tampak menjaga jarak. Terkadang, Ia mengkritisi hampanya kepribadian Ahmad. Terkadang, Ia terkesan memuja Ikhwahnya di Haraakah Al-Muqawwamah Al-Islaamiyyah. Ahmad semakin sadar, bahwa Ia tidak sekufu’ dengannya. Tetapi cinta Aisyah tetap bak rembulan di benaknya. Sampai tibalah perpisahan, yang Ia harap… sementara.

Ternyata tidak. Sejum’at pasca kepulangan Aisyah ke kediaman aslinya; Kampung Syuja’iyah, perpisahan mulai terkecap pahitnya. Sore itu, hujan deras kaburkan sinyal radio. Namun bagi Ahmad, tak ada lagi keraguan. Istana angannya telah ambruk, ketika Ia mendengar laporan kilat itu. Aisyah Ummu Umar, Janda almarhum Hasan Al Faruq, siapa lagi? Hamas mengaku bertanggung jawab atas ‘Amaliyah Istisyhadiyah di El-Quds senja kemarin, meledakkan konvoi menkeu Zionis. “Allahu akbar!!” Ahmad bersorak tercekat sembari memupus airmata yang telah membasuh lekuk-lekuk leher.

***
Jalur Gaza, 17 /7/2008 jam 07,00 pagi

Dalam linang, dibukanya Diary …

‘Hhh … sebenarnya, ini hari yang terlalu biasa, yang tak pantas ‘tuk direkam olehmu. Jika saja ku tak menemukanmu di tengah-tengah tumpukan buku-buku, maka akalku telah sampai di awang-awang … ‘

‘Lama tak jumpa, Diary! Ini kali pertama aku bisa sendiri bertenang, maka langsung ku hendak alirkan kisah. Tentang hati yang berbunga-bunga. Tentang situasi yang senantiasa berubah. Beberapa hari silam, Pasar Syafi’ie dibombardir Apache bercap hexagram. Saat semua terang, ku lihat bidadari! Dan segalanya, sekali lagi, berjalan terlalu cepat. Kini kumulai persilahkan kalbuku tuk diselami fikroh –fikroh mulianya…’

‘Oohh … hatiku sesak oleh damba… Kini ku telah siap berubah deminya!’

‘Sungai di pipiku teramat hangat. Pemuda cengeng ini telah ditinggal ruhnya! Tapi aku ikhlas. Lihat! Suatu saat aku akan menemuinya dengan ikat kepala Al-Qossam, dan meminangnya saat itu juga!’

‘Istana anganku amblas! Ternyata Ia benar-benar bidadari. Siaran kilat di radio tadi adalah awal dari akhir bagiku. Saat ini, bukanlah aku Ahmad yang dulu lagi. Dan tekad telah ditancap! Sejenak lagi khalayak ‘kan mengenangku dengan Laquub: Asy-Syahiidul-Hayy Ahmad Lintang Ibnu ‘Jafar Lintang. Moga-moga Aisyah menerimaku, di sana …
Atau Alloh memberikan ku yang serupa dengannya....

***
Gaza 11 Oktober 2008

Sejak itu dr, Ahmad Lintang, tak ikut pulang ke tanah airnya…
Tekadnya sudah bulat
Mewakafkan dirinya di Jalan Tuhannya

Hari-hari telah lama berganti. Training demi training dilewatinya. Dengan satu tujuan, yaitu yang saat ini ‘kan dijalankannya.
Wudhu yang suci. Ia berharap supaya ini bisa menjadi wudhunya yang terakhir. “Aku siap melakukan apapun. Aku siap menjadi apapun. Demimu, 'Aisyah”. Di tangannya tergenggam dua buah foto. Aisyah, dengan baju kurung dan burqo’ tampak sangat anggun. Dalam balutan seragam operasional sayap medis HAMAS pun ia tampak bak bidadari yang perkasa.......

Ahmad berdiri. Menghapus sembab di pipi, meredam sengguk di dada. Ia menatap tegap ke depan, menyaksikan konvoi kendaraan-kendaraan Israel yang melewati salah satu jalan protokol Gaza City. Semua, sesuai rencana. Alhamdulillah… Riak-riak gembira jelas membuncah memenuhi hatinya. Tangannya mengepal, ototnya mengeras. Sendi-sendinya menegang.

Ia dengan gamblang dapat mengartikan senyuman itu. Dia yang berdiri di atas mobil mewah itu, melambaikan tangannya tak tentu menghadap siapa. Setelan jas yang rapih itu bertolak belakang dengan pribadi busuknya! Ahmad menggeram.

ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR.

ALLAH, aku datang!

Kemudian, ia berlari.

***
Yudiot Ahronot, 12th of october 2008

“Dilaporkan, terjadinya (lagi) sebuah aksi ‘bom bunuh diri’ di pelataran kedubes U.S., Gaza City. Aksi heboh ini telah menewaskan Menkeu yang baru, terlantik beberapa hari yang lalu menggantikan Menkeu sebelumnya yang juga tewas sebagai korban aksi ‘bom bunuh diri’ beberapa pekan silam. Kerugian yang diderita Negara tak kurang dari kisaran 1 Milyar lebih dalam kurs dollar U.S., mencakup mobil dinas mendiang Menkeu, pintu lobi utama, dan beberapa jendela di sekitarnya. Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, sekali lagi mengaku bertanggung jawab. Sekian siaran singkat harian utama Negeri Zion, Israel, melaporkan.”
***

Nun jauh di atas sana, sekumpulan bidadari tersenyum menyambut dan berebut memanggil ruh yang terbang yang sangat harum wanginya.
“ aku Aisyah Bidadari untukmu , hadiah Tuhanmu untukmu...” 
Tiba-tiba terdengar suara diantara kumpulan bidadari itu.
Ruh itu pun tersenyum
Lantas mereka bergandeng beriringan terbang menghadap Rabb-nya, disambut dengan keridhaan dan kemaafan seluas langit dan bumi. Dia telah ridho daftarkan diri sebagai tumbal perjuangan, maka tak ada balasan yang pantas selain kehidupan abadi yang memuaskan di sisi Tuhan.

“Yaa Ayyatuhan- Nafsul- Muthma’innah Irji’iy Ila Rabbiki Radhiyatam Mardhiyyah Fadkhuliy Fi ‘Ibaadiy Wadkhuliy Jannatiy.”

Rona Istisyhad nan sejuk bermain di binar wajahnya, selamanya …


“Ya Rabbana jangan ambil nyawaku, sebelum aku mendapatkan cita tertinggiku, syahid di Bumi Mu Bumi Para Nabi...Palestina Tercinta....”!!