Dialog Organ

Dialog Organ

     Televisi itu hening di hadapan Shintya dengan layar menghitam. Tulisan No Signal bertinta biru timbul dan hilang tak tentu arah, berusaha menghibur perempuan cantik itu. 

     Namun usahanya tak berhasil.

Putus cinta masih membuat kedua mata Shintya sembab. Sejak lelaki yang ia cintai menoreh luka dalam hatinya, hanya hampa mengisi sukma. Bahkan jutaan air mata tak mampu memuaskan kesedihannya.

     Luka.

     Lara.

     Dengan perginya belahan jiwa.

     Dan melodi tanpa suara.

     Kedua tangan Shintya mengambil ponsel yang tergeletak di meja studionya. Jemari yang biasa lincah di atas delapan puluh delapan tuts piano hanya ingin menyentuh tanda kamera dengan paduan ungu dan jingga. Tak hanya sampai di situ, jemari itu lanjut menyentuh tanda kamera di pojok kiri atas. 

     Suara pendingin ruangan menemani Shintya yang memundurkan kursinya. Berkat ketiga roda kecilnya, kursi itu berhasil mundur ke belakang. Kedua lengan mengangkat ponsel hingga meja kerjanya mucul di layar, satu set peralatan studio yang biasa menjadi teman setianya. 

     Kedua jempol mulai menulis setelah musisi perempuan itu mengabadikan studionya.

     Sendiri.

     Namun aku harus terbiasa dengan kondisi ini.

     Shintya mengunggahnya di IG story. Setelah menaruh ponsel, perempuan itu kembali menatap layar. Ia juga tak mengerti apa yang hendak dikerjakannya, sementara tenggat waktu sudah mencekik detik yang berjalan. Tak satu harmoni pun mampir ke otaknya yang biasa cemerlang dengan paduan nada.

     Nada yang muncul memecah keheningan. Dua nada notifikasi berasal dari ponsel.

     Kedua mata Shintya melirik ke arah layar. Tangan kanannya mengambil ponsel. Kedua mata mulai lelah menemani puluhan tahun perjalanan hidup Shintya, membuat tangan menjauhkan sedikit ponsel agar tulisan jelas terbaca. 

     Angka satu dalam bulatan merah timbul di aplikasi yang bersebelahan. Bulatan merah di atas aplikasi WhatsApp dan Instagram menggelitik benak Shintya. Jemarinya membuka instagram dahulu, menyentuh gelembung dialog yang setia di kanan atas. Ferdy Halim, seorang sutradara yang baru saja dikenalnya, mengirim pesan.

     Shintya semakin penasaran. Ia membuka pesan itu. Ternyata Ferdy menanggapi IG Story yang baru saja diunggahnya.

     Mau aku temenin?

     Terkadang sendiri bisa menjadi inspirasi, lho.

     Pesan itu menjadi kejutan pertama yang membuat ponselnya melayang. Otot di wajah Shintya mengencang. Degup jantung berpacu kencang, serasa berada di panggung untuk pertama kali. 

     Shintya mendekati meja setelah menenangkan diri. Tangannya mengambil ponsel itu. 

     00:00 

     Angka pertanda hari berganti tertera di layar ponsel. Setelah memasukkan password, pesan WhatsApp terbuka. Nama Ferdy Halim kembali muncul paling atas, dengan tulisan tebal dan pesan yang belum terbaca.

     Shintya penasaran dengan pesan itu. Otaknya mengirim sinyal agar jemari membuka pesan dan meminta kedua mata membacanya.

     Selamat tengah malam.

     Maap, kalau mau ketemu kamu harus dalam konteks kerjaan atau bisa sambil ngopi dan makan malam?

     Mulut cantik itu menganga. Tak mungkin ada lelaki yang mendekatinya, sementara kesendiriannya baru seumur jagung.

     “Udah, bales aja. Kapan lagi ada cowok ganteng mendekat?” goda hatinya.

     “Konsen, Shin! Jangan cowok mulu dong yang dipikirin! Inget tuh pak Karan udah ngejar-ngejar musiknya!” tegur otaknya.

     “Kok jadi elo yang ngatur sih? Emang elo produsernya? Gue lagi terluka, butuh hiburan menarik. Emang elo bisa nyembuhin gue?”

     “Eeenak aja! Emang gue dokter lo? Yang terluka siapa, yang disuruh ngobatin siapa. Sana! Sembuh sendiri!”

     Salah satu mata Shintya melerai pertikaian otak dan hatinya.

     “Cukup! Gue ngantuk! Sehari-hari gue kena radiasi terus. Kembaran gue juga begitu. Emang lo mau minus kita nambah semua?” 

     “Eh, berani-beraninya! Kalo kerja ya kerja aja!” tegur otak.

     “Gimana sih? Kan yang bisa merintah gue cuma elo!” hardik mata.

     “Udah ah! Gue capek!” teriak Shintya. Segera ia matikan sejumlah peralatan studio, mengunci pintu pembatas studio dan ruang keluarganya, dan berlari ke kamar. 

     Shintya mematikan lampu dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menaruh ponsel di bantal sebelah, siaga bila diperlukan dalam keadaan mendesak. Ratapan mulai datang dari kulit wajahnya.

     “Shin, cuci aku dong. Aku udah mulai keriput. Sudah sebulan aku gak dicuci. Bisa kan nyuruh kaki melangkah ke kamar mandi? Sekaliiii aja. Please?”

     “Eh! Kulit! Gak liat apa dia lagi galau? Bentar dong, gue juga butuh bahagia!” tegur hati.

     “Udah Shin. Bobo aja. Aku dan kembaranku butuh istirahat,” timpal mata. 

     “Tangan, bisa kan lo ambil ponselnya lagi? Mata belum capek kok,” ujar otak.

     Tangan ikutan protes.

     “Lho? Tapi kan..”

     “Udah! Jangan banyak omong! Di sini gue yang pegang kendali. Lama-lama gue bosen dengerin curhatan hati. Kalo hati sembuh, gue bisa kerja. Beres kan?” kata otak, memaksa tangan mengambil ponsel di sebelah Shintya untuk didekatkan ke arah mata.

     “Pelan-pelan dong! Silau, men!” teriak kedua mata.

     “Iye maap,” ujar tangan, sambil mengukur ketinggian ponsel agar jelas terbaca untuk Shintya yang sedang berbaring.

     Shintya tertegun, menatap pesan Ferdy. Baru sekali ini ia menerima ajakan kencan seperti itu.

     Hmm, lucu juga yaa pesannya.

     Orangnya kasep pula. 

     Pengen sih gue bales, tapi apa ya?

    “Jari, ayo gerak! Balesin pesan itu,” perintah otak.

     “Kata-katanya apa, Boss?”

     “Lah? Bukannya bisa mikir sendiri?”

     “Bagian mikir kan situ.”

     Otak terdiam sejenak. Ia tersadar, memang tugasnya untuk berpikir. 

     “Jari! Otak gak bisa bikin kalimat puitis. Sini, biar gue aja,” timpal hati.

     “Lah? Gimana sih? Kok nyerobot tugas gue?”

     “Kalo elo yang mikir, yang diketik malah budget request!”

     “Enak aja! Emang gue cuma mikirin duit doang?”

     Kedua mata kembali melerai perdebatan itu.

     “Buruan dong! Kami udah capek nih!”

     Jari ikut meluncurkan protes.

     “Jadi kalimatnya apa? Kita pegel nih!”

     Perintah otak membuat semua anggota badan menghentikan protes.

     “Ya udah! Ketik ini aja. Boleh aja, mas Ferdy. Tapi aku lagi ada kerjaan. Kita ngopi di cafe deket studio aja ya? Cepetan!”

     Jari melemaskan ototnya sejenak. Jempol mulai mendaratkan diri pada kolom dialog. Keyboard QWERTY muncul di bawah layar, bersiap untuk kalimat yang akan ditulis jempol.

     Jempol menyentuh abjad B.

     Dan tiba-tiba layar menghitam.

     Kepanikan hadir seketika.

     Jari Shintya berusaha menyalakan ponsel kembali. Namun ponsel itu terlalu lelah untuk bekerja, butuh waktu untuk mengumpulkan tenaga dan siap siaga esok hari.

     “Yaaaaahhh,” teriak semua organ penuh kecewa.

     Shintya mengambil kabel charger, membantu ponsel mengisi baterai. Kemudian, kedua matanya terpejam dan perempuan cantik itu berada di alam mimpi.