Komunikasi adalah Kunci

Pandemi memaksa kita berjarak antar sesama, memaksa kita menyendiri. Ini saat tepat untuk kembali ngobrol dengan diri sendiri setelah selama ini manusia "hilang kontak" dengan dirinya dan alam.

Komunikasi adalah Kunci
https://www.istockphoto.com/vector/creative-body-yoga-meditation-wellness-icon-gm929104232-254794893?utm_source=pixabay&utm_medium=affiliate&utm_campaign=SRP_illustration_sponsored&referrer_url=&utm_term=meditation spiritual

Komunikasi adalah tentang memahami. Apa pun cara, media, dan bentuknya, ujungnya adalah pemahaman. Komunikasi yang efektif adalah ketika semua yang terlibat dalam komunikasi tersebut memahami tanpa keliru maksud yang dikomunikasikan.

 

Untuk urusan efektivitas komunikasi, hewan mampu berkomunikasi jauh lebih efektif dari yang sejauh ini dilakukan manusia. Maksud yang disampaikan akan dipahami oleh penerima pesan persis sebagaimana yang dimaksudkan si pengirim pesan. Tidak ada keraguan di dalamnya.

 

Belum pernah ada satu pun catatan yang melaporkan seekor kucing betina salah memahami ngeongan si jantan yang sedang birahi sebagai tantangan berkelahi. Dan demikian sebaliknya, kucing jantan yang melihat betina menggeliat-geliat tahu betul bahwa itu adalah “bahasa asmara”.

 

Gajah pun begitu. Sebagai mahluk sosial, kawanan gajah dapat membedakan secara pasti mana seruan tanda bahaya dari sang “kepala suku”, mana seruan yang berarti panggilan induk kepada anaknya. Padahal jika didengar selintas oleh manusia, suara gajah, ya, begitu-begitu saja.

 

Demikianlah para hewan berkomunikasi. Dengan mengeong, mengaum, mengembik, meringkik, melolong, menggong-gong, mengirim sinyal atau bau, mereka dapat berkomunikasi dengan sangat efektif. Beberapa di antaranya bahkan dapat berkomunikasi lintas spesies. Dan sejauh ini, tidak ada istilah miss communication (miss comm) dalam dunia binatang kecuali jika diganggu oleh predator teratas dalam rantai makanan: manusia.

 

Komunikasi yang mereka lakukan sepenuhnya berdasarkan insting. Beberapa hewan memang didapati memiliki tingkat kecerdasan yang mengagumkan. Anjing, kucing, kuda, burung kakak tua, gajah, kera, lumba-lumba dan beberapa spesies lain bahkan dinilai mampu berkomunikasi dengan manusia.

 

Kendati demikian cerdas, hewan-hewan itu tidak pernah merumuskan sistem dan ilmu komunikasi, menciptakan kebudayaan dan membangun peradaban sebagaimana manusia. Pernahkah ada seekor simpanse yang berusaha menyusun kamus besar bahasa bangsa kera? Atau seekor katak yang menjadi dekan fakultas ilmu komunikasi?

 

Jika cara, media, dan bentuk komunikasi hewan ditentukan oleh insting belaka, maka pada manusia, semua itu ditentukan oleh budaya yang, kita tahu, berbeda antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

 

Oleh karenanya komunikasi manusia tidak seefektif dan universal layaknya hewan. Kucing Russia yang hendak bercakap-cakap dengan kucing kenalan barunya yang berasal dari Jawa Barat tidak harus susah-susah kursus bahasa Sunda atau Indonesia. Ngeong mereka dapat dipahami dimana pun dan kapan pun. Namun, tidak demikian dengan manusia.

 

Ketimbang hewan, manusia jauh lebih sering mengalami miss comm. Dari soal yang sepele yang berakhir dengan gelak tawa karena lucu, sampai yang tragis dan berakhir dengan hilangnya puluhan bahkan ratusan nyawa manusia, semua bisa terjadi gara-gara miss comm.

 

Komunikasi bukan hanya tentang bahasa lisan atau tulisan. Sejatinya, segala bentuk ekspresi yang dimaksudnya untuk menyampaikan pemahaman adalah komunikasi. Ketika seseorang merokok dalam ruangan yang penuh sesak, kemudian salah seorang di antara mereka memaksakan batuk, itu merupakan sebentuk komunikasi. Ia hendak menyampaikan pemahaman bahwa “asap rokok Anda membuat saya tidak nyaman”. Atau yang lebih tegas: “Tolong matikan rokok Anda!”

 

Persoalan tidak akan memanjang manakala si perokok memahami komunikasi itu dan bersedia mematikan rokoknya. Atau boleh jadi ia paham tapi enggan menggubris batuk itu. Yang repot adalah ketika ia tidak paham makna batuk yang disengaja itu. Ia mengggap batuk itu sebagai batuk saja dan tidak ada sangkut paut dengan dirinya yang merokok. Dalam kondisi inilah komunikasi manusia terasa lebih buruk dari hewan.

 

Kendati begitu, manusia masih meyakini segala persoalan dapat diselesaikan dengan komunikasi. Keyakinan ini telah menancap kuat sepanjang sejarah manusia, dari zaman kuno hingga moderen. Orang-orang zaman dulu percaya bahwa alam itu hidup dan memiliki jiwa. Karenanya, alam bisa “diajak ngobrol”.

 

Orang-orang zaman kini sering salah paham bahwa sesajen adalah semata-maata persembahan manusia kepada arwah-arwah. Padahal, sesajen sejatinya adalah medium komunikasi manusia dengan alam. Demikian pula mantra, do’a, nyanyian, musik, dan tarian tertentu, adalah komunikasi manusia dengan “yang tak nampak”.

 

Ketika seorang anggota suku tertentu menderita sakit, sang dukun akan membacakan jampi-jampi, melaksanakan ritual tertentu, dan memberi si sakit berbagai ramuan. Semua itu adalah bentuk komunikasi. Dukun menyampaikan maksud agar Yang Maha Kuasa mengangkat penyakitnya.   

 

Persoalan dalam hidup bukan hanya antara manusia, melainkan antara manusia dan dirinya sendiri juga. Sebelum ada terapis dan psikolog—yang pada titik tertentu dapat “berkomunikasi” dengan alam bawah sadar manusia demi mencari dan menyembuhkan gangguan psikologis—orang-orang terbiasa mengobati sendiri gangguang psikis yang menderanya dengan meditasi.

 

Meditasi atau semedi ini adalah bentuk komunikasi juga, yaitu antara “aku” dan “diriku sendiri”. Dengan meditasi, “aku” berupaya lebih mengenal diri dengan cara menjalin komunikasi yang lebih intim dengan alam batin.

 

Pertanyaan “apa, siapa, bagaimana, kapan, dari mana, di mana, dan mau ke mana aku” adalah gerbang menuju pengetahuan tentang diri yang paripurna. Untuk apa semua itu dilakukan? Tiada lain tiada bukan demi mengatasi persoalan, yaitu ketidaktahuan diri yang menggiring pada ketidaktenangan hidup.

 

Tapi, perkembangan zaman telah mengubah semua itu. Dulu, di kala manusia masih sulit berkomunikasi dengan manusia lain, ketika ilmu dan sarana komunikasi belum semaju dan secanggih zaman kini, manusia sangat akrab dengan alam dan dirinya sendiri. Segala persoalan hidup dikomunikasikan langsung dengan alam dan Sang Pemilik Alam.

 

Kini, ketika komunikasi antar manusia nyaris tanpa batas, ketika teknologi komunikasi mengatasi ruang, ketika ilmu komunikasi dipelajari secara khusus dan seksama, manusia makin “hilang kontak” dengan alam.  

 

Di zaman moderen, alam tidak lagi “diajak ngobrol”. Tidak heran jika eksploitasi alam dilakukan gila-gilaan. Alam tidak lagi dipandang sebagai saudara, sebagai guru, sebagai “percik cahaya Tuhan”, tapi objek taklukan manusia semata. Komunikasi yang terbangun sejak lama itu sirna sudah.

 

Ketika komunikasi dengan alam memburuk atau bahkan terputus, manusia tidak lagi mengenal alam. Dampaknya dirasakan sendiri oleh manusia: banjir, longsor, kerusakan ekologi, dan berbagai malapetaka yang disebabkan tingkah polah manusia terhadap alam.

 

Demikian pula dengan diri sendiri. Banyak orang yang pandai berkomunikasi dengan orang lain tapi tak pandai berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Ia bisa dengan mudah menyelesaikan permasalahannya dengan orang lain hanya dengan menelepon, berkata-kata manis, menebar retorika, tapi kesulitan menyelesaikan kegundahan diri.

 

Manusia “hilang kontak” dengan dirinya sendiri. Ia selalu dirundung bingung sebab pengetahuan tentang dirinya sendiri tidak pernah tuntas, tidak pernah paripurna. “Aku” tidak pernah “diajak ngobrol”. Pikiran dan hatinya mudah dikacaukan. Kebutuhan dan keinginan gampang dipertukarkan. Akhirnya kewalahan menghadapi diri sendiri.

 

Sejauh ini manusia memang belum mampu berkomunikasi seefektif dan seuniversal hewan. Oleh karenanya komunikasi terus dipelajari dan diperbaiki demi hidup yang lebih baik. Dan manusia masih dan terus percaya bahwa komunikasi adalah kunci, adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan segala persoalan.

 

Pandemi yang meluluhlantakkan kehidupan ini patut dijadikan titik relfleksi. Manusia dipaksa berjarak antar sesamanya, dipaksa menyendiri agar kembali bisa berkomunikasi dengan diri. “Aku” kembali “diajak ngobrol”.

 

Pandemi ini jadi momen yang tepat untuk mengembalikan manusia menjadi mahluk multidimensional, yang mampu berkomunikasi tak hanya dengan sesama manusia, melainkan dengan diri sendiri dan alam, tempat di mana, konon, Tuhan bersemayam.