JANGAN PERNAH MEREMEHKAN KEKUATAN DOA

JANGAN PERNAH MEREMEHKAN KEKUATAN DOA

“Kenapa hari ini Cindy seperti tidak bernafsu dengan puzzlenya?” tanya Mama.

“Nggak tau, Ma. Sudah beberapa hari dia bersikap begitu,” sahut saya.

Kami bertiga sedang berada di rumah sakit. Mbaknya Cindy kami tinggal supaya rumah tidak dalam keadaan kosong. Cindy duduk di lantai dengan beberapa puzzle di sekitarnya. Sikapnya terasa aneh. Tidak dipedulikannya semua mainan itu. Melalui jendela, matanya menatap ke arah langit seperti sedang menatap sesuatu. Kami memperhatikan sejak tadi dia terus saja bersikap begitu.

Tiba-tiba Cindy menunjuk-nunjuk ke arah langit lalu dia berkata dengan suara lirih, “Hari ini Opa meninggal.”

“Hihihihi…dasar anak kecil khayalannya luar biasa,” kata Mama geli mendengar omongan cucunya.

Saya yang sedang merasa akrab dengan Papa tentu saja tidak mengizinkan dia berbicara seperti itu. Segera saya hampiri dia, “Cindy, kamu nggak boleh ngomong begitu.”

Anak itu tidak bereaksi. Matanya masih terus menatap keluar jendela dan kembali menunjuk ke arah langit. Saya ikuti arah telunjuknya tapi tidak terlihat ada sesuatu apapun di luar sana.

“Cindy! Liat Mama. Cindy, liat Mama!” kata saya dengan suara agak keras.

Cindy menengok tapi matanya menghindar beradu pandang. Saya pegang dagunya lalu saya paksa untuk menatap ke arah saya, “Cindy, liat mata Mama.”

Dengan gerakan perlahan, Cindy mau juga menatap saya. Sebelum saya tanya, dia sudah berkata lagi, “Hari ini Opa meninggal.”

“Cindy!” kata saya setengah membentak, “kamu nggak boleh ngomong begitu.”

Cindy tidak menyahut. Pandangannya terasa aneh tapi dia tidak berusaha untuk melepaskan pandangannya dari saya.

“Dari siapa kamu tau Opa meninggal? Coba kasih tau Mama. Dari siapa?” tanya saya lagi.

“Dari Tuhan,” kata Cindy lagi dengan nada sangat serius.

“Hihihihihi…” Mama tertawa lagi. Dia nampak geli melihat kelakuan Cindy. Tapi buat saya hal itu sama sekali tidak lucu. Omongan Cindy malahan membuat saya merinding karena saya betul-betul takut akan kehilangan Papa.

Melihat saya tidak berkata apa-apa lagi, Cindy bangkit dan berjalan ke arah jendela. Seperti tadi jarinya menunjuk-nunjuk ke angkasa. Mulutnya berkomat-kamit seakan sedang berbicara dengan seseorang.

“Wah, sudah hampir jam 11! Mama pergi dulu ya, Yo,” kata Mama seraya melirik ke arah jam di pergelangan tangannya..

“Okay, Ma,” jawab saya.

Mama menggamit lengan Cindy, menariknya dari jendela,“Yuk, Cindy. Jalan-jalan sama Oma, yuk?”

Cindy menurut tapi matanya terus memandang ke arah jendela dan baru berhenti ketika sampai di luar kamar. Sebelum keluar kamar dia masih sempat berkata lirih, “Hari ini opa meninggal.”

Jantung saya semakin bergidik mendengar omongan anak itu. Setelah keduanya tidak terlihat lagi,  saya berjalan ke arah jendela dan memandang langit yang tadi ditunjuk oleh Cindy. Di sana saya cuma melihat awan putih bergerak ditiup angin ke arah barat. ‘Apa sih yang tadi dilihat Cindy?’ gumam saya. Entah kenapa hati ini rasanya galau sekali.

Hari ini adalah hari Waisak. Hari yang sangat penting bagi Umat Budha. Setiap Waisak biasanya kami sekeluarga pergi ke vihara untuk melakukan peribadatan di sana. Tapi sekarang?  Mana mungkin Papa ditinggal? Setelah berunding, akhirnya kami memutuskan untuk membagi diri. Mama dan Cindy pergi ke vihara dan saya tetap menjaga Papa.

Saya duduk di samping Papa lalu membacakan cerita dari buku karya Agatha Christie yang judulnya “And Then There Were None.” Seperti novel karangannya yang lain, buku ini merupakan cerita misteri yang ditulis dengan sangat cerdas dan membuat pembacanya turut berpikir.

Kisahnya sebetulnya simple saja, yaitu tentang 10 orang yang diundang ke sebuah pulau. Kemudian satu persatu para tamu terbunuh secara misterius. Akibatnya tamu yang tersisa menjadi saling mencurigai satu sama lain. Di setiap kesempatan, Sang Penulis juga memaparkan sisi-sisi kelam dari setiap tamu undangan sehingga pembaca dibekali data untuk ikut menerka-nerka, siapa sebetulnya pembunuh berdarah dingin itu.

“Yoyo!” Sekonyong-konyong Suster Aida, Sang Kepala Perawat di area paviliun itu masuk dengan tergopoh-gopoh.

“Ya, kenapa Suster?” tanya saya sambil menurunkan buku yang sedang saya baca.

“Maaf mengganggu, Yo. Sore ini ini Papa kamu, kan, harus transfusi tapi ternyata stok darah kami yang golongan AB kosong.”

“Waduh! Jadi bagaimana dong, Suster?”

“Bisa nggak kamu ke PMI untuk beli darah di sana?”

“Tapi nanti siapa yang jaga Papa?” tanya saya kebingungan.

“Kalau kamu bisa ke PMI, saya sendiri yang akan menjaga Pak Yo. Kamu nggak usah kuatir.”

Walaupun ragu untuk meninggalkan Papa, nampaknya saya tidak punya pilihan lain dan berkata, “Baiklah kalau begitu.”

PMI atau Palang Merah Indonesia tidak jauh lokasinya dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Alamatnya di Jalan Kramat Raya no. 47. Kalau kita ke luar dari Rumah Sakit Cipto, kita tinggal belok kiri ke Jalan Salemba lalu lurus saja maka kita akan sampai ke Jalan Kramat Raya. Kedua jalan itu tersambung dan PMI letaknya di sebelah kanan sebelum masuk ke Pasar Senen.

Di koridor menuju ke luar rumah sakit, saya berpapasan dengan Fuad yang baru saja datang untuk menjenguk kakeknya.

“Kamu mau ke mana, Yo?” tanya Fuad.

“Beli darah ke PMI. Stok darah di sini kosong. Bye Fuad,” jawab saya tanpa berhenti.

“Hey, Yo! Tunggu. Yuk, saya anter kamu ke sana.”

“Nggak usah. Kamu temenin dan bacakan cerita aja buat kakek kamu,” kata saya sambil mempercepat langkah.

Fuad berlari menyusul lalu menggamit lengan saya, “Kamu nggak boleh pergi sendirian. Yuk, saya anter.”

Dan saya mengalah. Tidak lama kemudian kami berdua sudah berada dalam mobil Fuad. Sayangnya baru saja keluar rumah sakit, mobil kami langsung stuck. Jalan Diponegoro macet bukan main. Seorang tukang parkir mengatakan bahwa jalanan macet karena barusan ada tawuran anak sekolah.

Untuk membunuh waktu, Fuad membuka percakapan, “Mama kamu ke mana, Yo?”

“Mama pergi ke Vihara . Hari ini adalah Hari Raya Waisak.”

“Oh, iya, betul. Selamat Hari Raya Waisak ya, Yo,” kata Fuad sambil menjulurkan tangan mengajak salaman.

Saya menyambut tangannya tapi di luar dugaan Fuad menarik lalu mencium kedua pipi saya. Sebetulnya malu rasanya dicium seperti itu tapi saya tidak protes apa-apa. Dan Fuad juga terlihat biasa saja. Gayanya seakan itu adalah kegiatan yang sangat biasa terjadi di antara kami.

“Sebetulnya Waisak itu hari raya apa sih, Yo?” tanya Fuad lagi.

“Waisak adalah hari suci buat Umat Budha. Di hari ini, kami memperingati 3 peristiwa penting sekaligus.”

“Weits! 3 peristiwa di hari yang sama? Luar biasa!” kata Fuad.

“Betu! Pertama lahirnya Sang Budha. Kedua, mengenang saat Sang Budha mendapat pencerahan sempurna. Dan ketiga, wafatnya Sang Budha,” jawab saya.

“Oh, begitu.  Kenapa Mama kamu nggak pergi ke klenteng? Klenteng itu juga untuk Umat Budha, kan?”

“Iya, betul.”

“Lalu apa bedanya klenteng dan vihara?” Dari nada suaranya, Fuad terdengar serius.

“Vihara adalah tempat peribadatan Umat Budha yang arsitekturnya bergaya India. Kalau masuk ke dalam vihara, kamu hanya akan menemukan patung Sang Budha. Kalaupun ada patung lain, itu biasanya patung dua muridnya yang mengapit di kiri dan kanannya.”

“Kalau klenteng?”

“Klenteng mempunyai arsitektur Tiongkok dan biasanya dicat warna-warni dengan dominasi warna merah yang mencolok. Klenteng tidak hanya menjadi tempat peribadatan tapi juga tempat orang-orang Cina menjaga dan memelihara budayanya.”

“Oh, begitu. Tapi tempat peribadatannya sama?”

“Beda sedikit.”

“Apa bedanya?”

“Di dalam klenteng, kamu akan menemukan beberapa patung. Ada patung Budha, Kong Hu Chu, Kwan Im, patung Lao Tse dari aliran Taois dan masih banyak lagi. Jadi Klenteng dibangun untuk Kaum Cina Perantauan supaya semua aliran agama Budha bisa beribadat di sana.”

“Oh, I see,” kata Fuad mengangguk-angguk lalu bertanya lagi, “ Kata ‘Sang Budha” itu sendiri artinya Tuhan, ya?”

“Bukan! Kata ‘Budha’ maknanya adalah seseorang yang telah sadar.”

“Sadar? Maksudnya insyaf karena sebelumnya telah melakukan perbuatan buruk?”

“Hihihi…bukan! Sadar yang saya maksud adalah dalam konteks seseorang telah mencapai pencerahan sempurna. Karena telah mengerti segala makna hidup maka dia berhak menjadi guru sekaligus berkewajiban untuk membagi pencerahan yang diperolehnya pada orang lain. Itu sebabnya banyak aliran Budha yang tumbuh sesuai dengan ajaran guru yang masing-masing mereka percayai.”

“Wah! Jangan-jangan di dalam klenteng, saya bisa ngeliat patung Judge Bao, dong, ya? Hahahahahaha….” Fuad tertawa terbahak-bahak karena referensi dia tentang Judge Bao hanya diperoleh dari film di televisi.

“Judge Bao memang salah satu guru yang dihormati Umat Budha,” kata saya dengan suara dingin.

“Oups…maaf Yo. Saya nggak tau. Maaf, ya?”

“Dan di beberapa klenteng tertentu, kamu memang bisa menemukan patung Judge Bao.”

“Sekali lagi, maaf, Yo.” Fuad terus mengulang maafnya.

“Tapi penampilannya tentu saja tidak sama dengan yang kamu lihat di televisi.”

“Sorry, Yo. It’s not a good joke. I am so stupid.”

Melihat dia salah tingkah seperti itu, saya jadi kasihan padanya. Dan entah karena apa, saya merangkul leher Fuad dan mencium pipinya, “It’s okay. Saya nggak marah, kok.”

Perjalanan yang sangat dekat itu kami tempuh dalam waktu satu setengah jam. Untungnya Suster Aida telah menelpon PMI terlebih dulu sehingga kami tidak perlu menunggu lama. Pegawai PMI telah menunggu dengan 6 kantong darah untuk diserahkan pada saya.

Setelah menyelesaikan pembayaran, kami pun kembali menerjang kemacetan Jakarta untuk kembali ke rumah sakit.

Sesampainya di kamar, Suster Aida dan beberapa orang suster lain tampak sedang merubung di sekeliling ranjang Papa. Selang infus telah dicabut. Ventilator juga sudah dicopot. Salah seorang suster masih memegang nadi dan yang lainnya memeriksa dada Papa dengan steteskopnya.

Hati saya tercekat dan langsung memahami bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.  

Melihat kedatangan kami, semua suster yang berjumlah 6 orang itu menoleh. Suster Aida melangkahkan kakinya  menghampiri kami. Dengan gerakan perlahan dia memeluk saya sambil berkata dengan suara lembut tapi tegas, “Maaf, Yo. Papa kamu sudah pergi.”

Bulu kuduk saya merinding karena teringat omongan Cindy sebelum berangkat ke vihara tadi. Saya terdiam dengan tangan masih memegang 6 kantong darah yang seharusnya untuk ditransfusikan ke tubuh Papa. Keheningan mendominasi dalam kamar itu. Tak ada suara apapun kecuali yang bersumber dari luar kamar.

Entah karena memang sudah mempersiapkan diri, saya sama sekali tidak menangis. Dengan langkah perlahan, saya berjalan ke arah ranjang. Semua suster seperti dikomando menyingkir untuk memberi jalan. Dengan lembut saya memeluk Papa. Meletakkan kepala di dadanya lalu berucap dengan suara lirih, “Selamat jalan, Papa. Semoga Papa bisa  berbahagia di sana bersama Tuhan.”

Fuad juga berdiri di sisi ranjang seberang. Mulutnya berkomat-kamit entah berdoa atau sedang mengucapkan apa. Saya tidak tau.

Tidak lama kemudian, Mama dan Cindy pun pulang. Seperti saya, beliau juga tidak menangis. Saya selalu mengagumi Mama yang senantiasa tegar menghadapi peristiwa apapun. Mama duduk di bangku yang terletak di samping ranjang. Dia meraih tangan suaminya lalu diusap-usapkan ke pipinya. Tidak ada air mata di sana. Kadang air mata memang tidak cukup untuk mewakili sebuah kesedihan yang melampaui batas.

Tanpa mempedulikan apapun, Cindy mendekat ke arah mainan puzzlenya yang masih berserakan di lantai. Dan kali ini dia bersikap normal dan langsung asyik menyusun kepingan puzzle sesuai dengan petunjuk yang terdapat di tutup kotaknya.

Dalam tradisi Budhis, memperabukan jenazah memang merupakan prioritas tertinggi. Dalam Kitab Suci Tipitaka juga disebutkan bahwa Budha dan murid-murid utamanya memilih perabuan. Akan tetapi hal itu bukanlah peraturan yang wajib. Semua berpulang pada yang bersangkutan atau pihak keluarga apakah hendak dimakamkan atau diperabukan.

Setiap mahluk ingin mempunyai cara matinya sendiri-sendiri. Papa pernah berkata pada Mama bahwa kalau dia mati nanti, dia ingin mati sendirian di suatu tempat tersembunyi. Beliau beralasan, dengan cara itu, anggota keluarga tidak perlu repot-repot mencarikan tanah untuk makamnya. Di samping itu, keluarga juga tidak punya kewajiban untuk pergi berziarah. Menurut Papa, kalau memang ingin mendoakan seseorang, kita bisa melakukannya dari rumah.

Saya pernah membaca bahwa memang ada orang-orang tertentu yang ingin mati tanpa disaksikan oleh orang lain. Dan Papa adalah salah satu di antaranya. Berbulan-bulan Papa mengalami koma. Seluruh keluarga besar menunggui dengan harapan ketika Papa menghembuskan napas terakhir, kita semua berada di dekatnya. Tapi Papa terus bertahan. Begitu lamanya Papa dalam kondisi koma sehingga satu persatu seluruh famili kembali ke tempatnya masing-masing. Bahkan A Koh pun pamit untuk pergi. Kemudian Mama pergi ke Vihara. Di saat yang sama, saya pergi membeli darah ke PMI. Dan akhirnya tak seorang pun dari keluarga yang menjaga Papa.

Dan Papa rupanya benar-benar memanfaatkan waktu tersebut. Dia meninggal dunia di saat tidak ada seorang pun anggota keluarga di kamarnya. Sempat terbersit di kepala saya, kalau Papa masih kuat badannya, pasti dia akan menghilang dan memilih sebuah tempat tersembunyi untuk mati sendirian.

Papa dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir. Dan sekali lagi kami sekeluarga terperangah. Begitu banyak orang yang datang untuk mengantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua tamu tak dikenal yang pernah datang ke rumah sakit hadir kecuali Romo Loogman. Menurut A Koh, dia membaca di surat kabar bahwa Romo Loogman telah meninggal dunia. Tapi yang lainnya lengkap. Konglomerat Pak Liem, Franz, petani buah merah dari Papua, Damodar Pande, akupuntur dari Tibet, Kyai dari Pasuruan dan masih banyak lagi.

Pak Liem datang bersama seluruh keluarganya dengan rombongan besar dan bodyguard yang sangat banyak. Konvoi mobil mereka tampak menonjol karena hampir semuanya berupa mobil mewah yang mungkin tidak akan pernah terbeli selama hidup saya.

Sang Kyai dari Pasuruan membawa belasan santrinya dan semua memakai pakaian serba putih. Sepanjang perjalanan mereka membacakan berbagai doa. Yang saya kenali hanya Surah Yasin dan tahlil.

Franz juga datang bersama kelompoknya yang berjumlah sekitar 20 orang. Semuanya berpakaian tradisional Papua. Sambil berjalan mereka menari dan bergerak ke sana ke mari membentuk lingkaran seraya membunyikan alat musik pukul seperti tifa, alat musik tiup yang terbuat dari bambu beruas-ruas dan divariasikan dengan lantunan nyanyian yang ke luar dari mulut mereka.

Bahkan serombongan biksu dan biksuni berkepala botak dan berpakaian coklat muda ikut mengantar. Mereka membuat barisan dan berjalan teratur rapi dengan gerakan kompak seperti telah berlatih dulu sebelumnya. Sambil berjalan mereka juga menyalakan hio dan berdoa dengan suara keras seraya membuat bunyi-bunyian yang mereka bawa berupa kecrekan dan gong kecil.

Dan masih ada beberapa rombongan lain yang juga mengenakan pakaian unik yang kami juga tidak tau dari daerah mana. Pokoknya rombongan pengantar jenazah saat itu ramai dan meriah. Orang-orang yang berpapasan menyempatkan diri untuk menoleh karena mereka mengira kami adalah rombongan karnaval yang sedang melakukan perayaan hari besar tertentu.

Kembali saya membatin, ‘Papa, siapakah orang-orang ini? Kenapa Papa begitu banyak mempunyai teman-teman aneh yang tidak pernah kami ketahui?’ 

Keheranan bukan hanya milik keluarga kami. Sebuah Media Online bahkan membuat berita kecil di kolomnya tentang pemakaman Ayah kami. Isinya seperti berikut;

“Sebuah Fenomena Aneh Di Pemakaman Tanah Kusir.

Kemacetan luar biasa terjadi di Tanah Kusir. Ketika team wartawan kami menyelidiki apa penyebabnya, ternyata hasilnya sangat mencengangkan. Kemacetan tersebut diakibatkan adanya seseorang yang meninggal. Orang tersebut sama sekali tidak dikenal. Tapi anehnya, orang yang mengantar ke pemakaman berjumlah luar biasa besar dengan iringan lautan manusia dan mobil yang panjangnya hampir mencapai satu kilometer. Kami tidak tau siapa dia. Yang pasti dia bukan artis, dia bukan selebriti dan bukan public figure. Tapi jumlah orang yang melayat bisa kami pastikan jauh lebih banyak dari acara pemakaman pejabat sekalipun.”  

Selesai acara pemakaman, satu persatu semua tamu pamitan. Mama meminta kami sekeluarga untuk berkumpul dan bermeditasi bersama di samping makam. 

“Yoyo!” Terdengar suara memanggil.

Saya menengok ke arah suara itu. Seorang perempuan dan seorang bule dengan tergopoh-gopoh menghampiri.

“Cindy!!! Kamu datang juga?” Hampir saja saya tidak mempercayai apa yang saya lihat.

Cindy dan Mark setengah berlari menuju ke tempat keluarga kami berkumpul. Cindy langsung memeluk saya dengan erat. Kami berpelukan lama sekali tanpa terlontar sepatah kata.

Akhirnya pelukan terlepas dan kini Mark yang memeluk saya dengan rasa keprihatinan atas kematian Papa.

“Maaf aku datang terlambat ya, Yo. Kami dari airport langsung ke rumah sakit tapi kalian sudah berangkat akhirnya kami langsung ke sini,” kata Cindy.

“Iya nggak apa-apa, Cin. Bahagia sekali ngeliat kamu datang. Aku nggak menyangka sama sekali,” kata saya terharu bukan main.

Sehabis berdoa di samping kuburan Papa, Cindy kembali memeluk saya. Hampir saja pertahanan saya ambrol. Dengan sekuat tenaga akhirnya saya bisa mencegah airmata keluar dari kelopak mata. 

Masih sambil memeluk erat, Cindy bicara lagi, “Kamu tau nggak, Yo. Belakangan ini aku sering memimpikan papa kamu.”

“Oh, ya? Bagaimana isi mimpinya?” tanya saya antusias.

“Nggak jelas juga. Kadang Papa kamu cuma muncul dan tersenyum lalu menghilang.”

“Oh, ya? Seperti apa lagi mimpinya?” tanya saya penasaran.

“Pernah juga aku mimpi lagi lari pagi di taman bersama Mark. Tiba-tiba ada Papa kamu duduk di bangku taman lalu melambaikan tangan sambil tersenyum.”

“Kamu nggak ketakutan, kan?” tanya saya kuatir Papa menakuti Cindy.

“Sama sekali nggak takut. Justru malah bikin aku kangen sama kamu dan Papa.”

“Baguslah kalau begitu,” kata saya lega.

“Tapi karena mimpi itu datang terus-menerus, akhirnya aku berkesimpulan pasti ada sesuatu yang nggak beres.”

Kali ini saya tidak menyahut dan hanya memeluk teman saya ini lebih erat.

“Jadi aku memutuskan untuk ke Jakarta sekalian nengokin kamu.”

“Kok, kamu tau Papa dirawat di Rumah Sakit Cipto?” tanya saya penasaran.

“Aku telpon kamu tapi nggak pernah diangkat. Jadi aku telpon Mama. Dia yang kasih tau kalo Papa kamu sakit.”

Ah… Papa memang luar biasa. Saya pernah menanyakan, kenapa Papa mendoakan Cindy tapi Cindynya tidak datang. Sementara orang-orang lain yang Papa doakan banyak sekali yang berkunjung. Dan ternyata saya salah. Cindy datang. Saya salah sepenuhnya.

Papa betul! Kalau kita mendoakan seseorang dengan tulus tanpa pamrih, kita akan terhubung dengan orang itu. Ketika hubungan sudah semakin erat, maka tempat, jarak dan waktu sudah tidak memainkan peran lagi. Dan omongan Papa lagi-lagi terbukti kebenarannya.

Peristiwa ini memberi saya pelajaran yang sangat berharga. Papa dengan gamblang telah mengajarkan pada kami sekeluarga bahwa jangan pernah meremehkan kekuatan doa.

I love you, Papaku.

Bersambung...