Teruntuk Generasi Setelahku

Teruntuk Generasi Setelahku

*Teruntuk generasi setelah ku, coretan kecil ini untukmu.

Sejujurnya aku tidak pandai bersajak, apalagi pandai menulis. Saudara perempuan ku seringkali mengejek karena tulisan ku yang sangat jelek katanya. Aku akui, jika dibandingkan dengan tulisannya, tulisanku memang tidak ada nilainya. Tapi, bukan hal itu yang ingin aku ceritakan kepada mu.

 

Sebelumnya perkenankan aku memperkenalkan diriku. Namaku Juli, aku gadis yang periang, lucu dan sering dibilang menggemaskan. Aku tidak sedang mengada-ngada. Itulah kenyataannya. Sebenarnya aku tidak cantik, hanya saja wajahku menentramkan setiap kali dipandang. Suaraku teduh, dan setiap gerak ku menarik. Setiap kali aku berkunjung ke manapun aku selalu memiliki teman baru, tentu saja teman-teman yang mengagumkan. Orang-orang disekitar ku juga seringkali mengaku nyaman denganku. Aku adalah seseorang yang enak diajak bercerita, berdiskusi dan sesekali berkelahi.

Kebetulan, aku lahir di hari Sabtu jika di perhitungan pasaran tepat saat Pahing. Orang Jawa bilang Sabtu Pahing adalah angka pemenang. Angka tersebut berjumlah delapan belas, itu angka yang paling tinggi. Mungkin itulah alasan mengapa aku tidak mau dikalahkan.

Selain itu, zodiak ku adalah Leo yang dilambangkan dengan singa. Banyak orang percaya Leo melambangkan seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, pemberani, berjiwa pemimpin dan tahan banting. 

 

Garis besarnya aku adalah orang yang percaya diri. Itulah alasannya, aku seringkali membuat target dalam hidupku. Beberapa target yang aku buat diantaranya, menulis di media ternama, masuk di komunitas bergensi, menjadi aktivis, memperoleh Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3.9 dan menulis beberapa buku di jenjang strata satu.

 

Jika kamu menyebutku sebagai seseorang yang ambisius, aku setuju. Selama tiga tahun setengah ini aku menghabiskan waktu ku untuk mengikuti banyak kegiatan, banyak organisasi, banyak pelatihan. Aku juga sering mengurung diri dalam kamar hanya untuk menghatamkan sebuah buku. Saudara-saudara ku seringkali ku buat kesal karena buku-buku ku berserakan.

 

Aku tipe orang yang mudah penasaran, dan jika aku penasaran maka aku harus mencari jawaban. Jadi, ketika di salah satu buku yang ku baca menyebutkan "baca buku...." Aku langsung membuka buku yang dimaksud. Hal itu ku lakukan untuk membuktikan ucapan si penulis. 

 

Baiklah, aku akan mulai bercerita. Aku pernah tergila-gila membaca demi menulis sebuah antologi puisi. Aku juga pernah seminggu penuh membaca puluhan jurnal untuk menghasilkan satu jurnal. Dan salah satu tabiat buruk ku adalah ketika aku mengerjakan sesuatu aku sama sekali tidak mau diganggu. Aku membuat beberapa orang kebingungan mencari diriku yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku seringkali tidak mengaktifkan WhatsApp maupun media sosialku, itu menyebabkan orang-orang mencariku. Padahal aku hanya sedang tenggelam dalam buku baru atau sedang fokus dengan sesuatu. Terdengar aneh memang. Namun untuk memenuhi tergetku aku seringkali mengabaikan hal lain.

 

Selain memiliki target aku juga memiliki orang-orang yang mengidolakan ku. Kebanyakan dari mereka adalah angkatan di bawah ku. Aku tipekal orang yang ramah, aku seringkali mengawali pembicaraan dan mengajak jalan-jalan orang yang ku temui. Selain itu, aku juga bisa menyesuaikan frekuensi. Tidak heran jika aku memiliki banyak penggemar. Belum lagi, orang-orang yang lebih tua dariku. Mereka juga menyukai sikapku yang ramah dan penuh etika. Sungguh, sikap yang aku tampakan tidak dibuat-buat. Sekali lagi aku katakan, aku bisa menyesuaikan frekuensi. Jika berbicara dengan yang lebih tua bagaimana dan apa pembahasannya pula saat berbicara dengan yang lebih muda pun sebaya.

 

Maaf jika terkesan pamer, aku hanya sedang bercerita dengan sebenarnya. Aku seringkali mendengar ungkapan "tirulah mbak Juli, belajarlah kepada mbak Juli". Ada perasaan aneh dalam hatiku, aku ingin berteriak "jangan menjadi sepertiku apalagi belajar dariku". Ada juga ungkapan "aku ingin menjadi seperti mbak Juli". Aku ingin berkata aku tidak pantas menjadi idola. Tapi tidak aku lakukan, aku hanya menanggapi semua itu dengan senyuman.

Dari sini, mungkin kamu sudah bisa menerka sosok seperti apa aku. Dan jika kamu bertanya, diantara semua target yang aku sebutkan apakah semuanya berhasil aku wujudkan? Jawabannya tidak, bagaimana mungkin?mungkin saja. Bukankah jika Tuhan berkehendak tidak ada yang tidak mungkin?

 

Inilah hal yang ingin aku sampaikan kepada mu wahai generasi setelah ku. Selama ini aku mengejar target-target yang aku buat. Aku berusaha mati-matian untuk mewujudkan nya. Aku belajar dan berdoa sebagaimana mestinya. Namun aku perlahan lupa, setiap ilmu dan pengetahuan yang diberikan dosen kepadaku hanya ku ukur dengan simbol A. Jika aku tidak mendapatkan simbol tersebut maka aku akan marah kepada diriku sendiri bahkan mengklaim diriku bodoh. Waktu yang ku luangkan untuk membaca buku dan mengerjakan tugas dengan maksimal ku anggap sia-sia. Belum lagi, ketika aku tahu simbol A yang aku dambakan berhasil didapatkan orang lain. 

 

Suatu hari, tepat di malam terakhir input nilai aku melihat simbol A berjajaran. Mulanya, hal itu adalah sebuah keberhasilan untuk ku, hingga esok harinya salah satu nilai A itu berubah menjadi B+. Rasa marah, kecewa dan kembali menyalahkan diri sendiri bercampur. Lalu tiba-tiba ada yang mengatakan "mungkin itu nilai paling tinggi yang bisa diraih, sudahlah nilai bukan ukuran kualitas ilmu yang kamu punya. Memang siapa yang meragukan kemampuanmu. Di kelas kamu yang paling jadi diantara kita. Harusnya kamu bangga ketika nilai mu biasa-biasa saja tapi kualitas mu luar biasa"

 

Aku setuju dengan ungkapan sahabatku, tapi rasa kecewa itu masih saja mengangah. Hingga ketika aku menatap nilai yang ku raih, buku-buku yang berhasil aku tulis, dan tulisan terbaruku yang mengangkat tema syukur aku merasakan hal aneh muncul dari hatiku. Aku merasa ada yang salah, aku merasa selama ini aku keliru. Iya, aku salah besar dengan memberikan goals yang sangat rendah dalam hidupku.

 

Aku bertanya kepada diriku sendiri; memangnya ketika kamu mendapatkan IPK 3.9 kamu hebat? Tidak bukan. Memangnya ketika simbol-simbol A berhasil kamu jajarkan kamu pantas menyandang galar pintar?sama sekali tidak. Untuk apa dan siapa nilai yang kamu agungkan?kamu lupa dengan bersyukur. Kamu juga lupa dengan satu hal yang amat penting bahkan paling penting.

 

Juli, bumi dihuni banyak manusia cerdas dan pintar. Taget-target yang kamu buat mudah saja dipatahkan. Coba ingat-ingat lagi, sudahkah kamu meminta ridho kepada gurumu ? Dan sudahkah dia mau memberikan ridhonya dengan rela? Hal yang selama ini kamu lupakan karena mengejar hal-hal yang sejatinya tidak terlalu penting. Untuk apa nilai sempurna tapi gurumu tidak ridho?untuk apa simbol A yang kamu raih, jika untuk menghargai seorang alim kamu tidak bisa?.

 

​​​​​Wahai generasi setelah ku, sudahkah kamu meminta ridho kepada orang yang menjembatani kau memperoleh ilmu? Mungkin, kau sama seperti ku yang sibuk memastikan simbol A berhasil kau dapatkan, jika tidak berhasil maka kamu protes dan meminta perbaikan nilai. Setelah kamu mendapatkan nya apa yang kamu peroleh?hanya sebuah kesenangan sementara, setelahnya kamu berjuang untuk kembali mendapatkan simbol tersebut pada mata kuliah yang lain. Kamu mungkin lupa berterimakasih untuk ilmu dan waktu yang dosen berikan kepadamu.

 

Wahai....

Hidupmu masih terus berjalan, sayang jika kamu hanya mematok simbol A untuk doa dan kerja keras yang kamu lakukan. Mungkin, setelah membaca coretan ini kamu bisa memulai era baru. Era yang lebih berkelas dari sekadar mengejar simbol A atau nilai sempurna. Kamu ingat bukan salah seorang Sahabat Rasulullah yang ditanya "maukah kau masuk neraka?" Lalu dia dengan tegas menjawab "Aku rela masuk neraka asal Tuhan ridho" dari kisah ini mungkin kamu bisa tahu, ridho sangat penting nilainya.

 

Jika kamu membaca coretan ini dan masih bisa meminta ridho kepada para Alim. Ku ucapkan selamat karena kamu tidak terlambat.

 

Tobe continue..