Sergio

Terinspirasi dari kisah nyata

Sergio


Sudah dua jam aku berjalan-jalan di sekitar rumahku hari ini.
Olahraga ringan, karena  sejak covid, masih takut untuk masuk gym lagi.
Aku lewati Chinatown. Banyak restaurant murah di sini.
Semerbak aroma makanan menggodaku. Aku lapar, sudah jam 12 siang belum makan.
Tapi aku berusaha agar tidak mampir.
Percuma olahraga kalau makan terus.
China town di sini berada di pusat kota, berbatasan dengan gedung-gedung pencakar langit, pusat perkantoran. Banyak orang lalu-lalang di sini karena jam makan siang.
China town adalah tempat favorite mereka untuk mencari jajanan murah meriah.
Aku beristiharat sejenak di bangku halte bis. Mungkin sudah saatnya aku pulang.
Sambil menimbang-nimbang untuk pulang atau meneruskan jalan,
kulihat seorang pria melintas di depanku, tampan dan atletis.
Kuperhatikan sejenak penampilannya. Tiba-tiba aku teringat seseorang.


Aku ingat saat itu aku tinggal di kota lain. Kota yang jauh lebih kecil dari kota tempat tinggalku sekarang. Penduduk kotanya tidak beragam seperti kota besar. Mayoritas kulit putih. Hanya sedikit yang bukan. Aku ingat saat pertama kali aku datang ke sana, orang-orang memandangi aku seperti melihat alien. Beberapa tahun kemudian sudah agak mendingan, pendatang mulai berdatangan. Walau tidak sebanyak di kota besar.
Saat itu aku sedang dalam masa transisi, sedang proses cerai dengan suamiku.
Umurku saat itu sekitar awal empat puluhan. Karena pekerjaanku saat itu sering lembur, maka aku sudah jarang olahraga. Kecapean karena sering pulang malam.
Lalu aku memutuskan untuk pindah bekerja di tempat lain. Sebenarnya tempatnya lebih kecil. Tapi lebih rilex. Tidak ada lembur.
Sebetulnya penurunan kalau dilihat dari kacamata karir. Tapi bagiku, waktu lebih berharga daripada uang. Aku ingin bisa pergi ke gym lagi setiap hari.
Badanku sudah mulai lembek karena tidak sempat olahraga.
Maklum sedang dalam proses cerai, jadi aku mulai ingin merawat diri lagi.
Lalu aku daftar masuk ke gym baru.

Selama menikah, aku ini tidak pernah memperhatikan pria lain. Dulu kalau ke gym, walaupun banyak yang ganteng dan atletis. Tapi aku tidak pernah mengamati mereka.
Tapi karena sedang dalam proces cerai. Secara alami mataku mulai lebih bebas.
Di gym itu ada seorang pria yang gantengnya kelewatan.
Sebut aja namanya Sergio. Bukan nama sebenarnya. Wajahnya khas latin Amerika.
Kulit gelapnya terlihat menonjol di antara orang kulit putih di sekitarnya. Rambutnya cepak gaya tentara. Matanya dalam dengan bulu mata lentik dan alis tebal. Hidung mancung dan jengkot pendek yang membuatnya semakin maskulin. Tubuhnya tinggi besar. Otot lengannya terlihat besar. Dan sesekali kalau dia mengelap keringat atau berganti baju, kita bisa mengintip otot dadanya yang seperti roti sobek. Terlihat seperti pria purba yang tinggal di gua. Maskulin abis.
Tubuhnya lebih keren dari Arnold Schwarzenegger semasa muda.
Wajahnya bisa membuat Enrique Iglesias iri.
Pokoknya semua wanita di gym itu pasti suka memandangnya. Kutebak dia body building karena dia paling suka mengangkat dumbel paling berat.
Aku biasanya kurang suka melihat tipe pria yang sok atletis, sok ganteng. Mereka biasanya bodoh dan playboy. Banyak yang tipe seperti ini di setiap Gym. Dan biasanya mereka suka tebar pesona ke semua wanita.
Tapi wajah Sergio itu tipe polos, seperti lugu tidak berdosa. Matanya lembut seperti malaikat.
Tidak pernah kulihat Sergio genit dan tebar pesona. Seolah dia tidak sadar kalau dia ganteng. Justru sikapnya yang biasa aja membuat makin banyak wanita di sini mengaguminya.
Jadi mau tidak mau, ya aku  ikut arus dengan para wanita lain yang suka menonton Sergio.
Sering percakapan di kamar ganti Gym kami adalah tentang Sergio.
Mulai dari yang masih remaja di bawah umur, hingga nenek-nenek yang lupa umur, ikut-ikutan suka melihat Sergio.
Walaupun aku sekedar menonton saja. Karena kutebak usianya jauh lebih muda dariku. Mungkin sekitar 25 -35 tahun. Aku bukan tipe tante girang yang suka daun muda. Dulu sewaktu muda pun, aku cuma mau punya pacar yang lebih tua.
 

Suatu hari karena tidak fokus latihan, terganggu pemandangan indah Sergio di depan mata.
Aku lupa mengganti beban di mesin aku. Biasanya kupilih ukuran beban yang agak ringan, sesuai kemampuan aku yang sudah lama tidak  olahraga. Tapi karena lupa diganti, bebanku terlalu berat.
“AUW!” teriakku keberatan.
Sergio langsung datang menyelamatkan aku.
“Terima kasih!” kataku.
Setengah kaget karena selamat dari kecelakaan. Setengah kaget dengan Sergio yang sudah berada di depanku. Tubuh kekarnya yang berkeringat sedang telanjang dada.
“Sini saya ajarin caranya.” kata Sergio.
Sebenarnya aku sudah tahu cara memakai alat itu. Tapi aku dengarkan saja petunjuk Sergio. Karena kesempatan kan. Kapan lagi liat wajah gantengnya close-up begini.
Lalu Sergio membimbing aku melakukan beberapa gerakan. Dia juga memperlihatkan cara memakai mesin lain, yang semuanya aku sudah tau. Tapi aku senang aja Sergio berusaha melatih aku.
“Kamu pelatih di sini?” tanyaku.
“Bukan. tapi kalau kamu mau cari pelatih, nanti aku bilangin sama pelatihnya” katanya.
“Nggak, aku nggak cari pelatih.” kataku. Aku terlalu pelit untuk membayar pelatih.
“Kamu anggota baru ya?” tanyanya.
“Iya, aku sudah lama nggak ke gym. Baru mulai lagi.” kataku.
“Kamu biasanya selalu datang jam segini?” tanyanya.
“Nggak tentu sih, kadang aku datang pagi sebelum kerja, kadang malam setelah pulang kerja” kataku.
“Kalau kamu datang jam segini, aku bisa ngajarin kamu.” katanya, lesung pipitnya menambah manis senyumnya.


Sudah pasti aku langsung datang setiap malam di jam yang sama. Biar ketemu Sergio.
Bukan, aku bukan ingin jadi pacar Sergio. Aku juga nggak mau jadi tante girang.
Tapi segar aja kan ada pemandangan bagus di gym. Jadi semangat lebih giat berlatih.
Dari 3 hari seminggu jadi 6 hari seminggu.
Yang biasanya sehari cukup 45 menit olah raga. Sekarang jadi dua setengah jam setiap latihan.
Tidak terasa, betah, berkat dekat dengan Sergio.
Lama-lama kita semakin akrab.
Seringkali aku melihat pandangan iri dari para wanita lain yang melihat keakraban kami.
Kalau aku pemanasan di treadmill, Sergio akan menggunakan treadmill di sebelahku agar kami bisa bercakap-cakap. Kadang-kadang aku curhat masalahku. Tentang proses perceraian aku. Tentang suamiku yang selingkuh dengan teman dekatku.
“Dia tidak pantas untuk kamu. Dia yang akan rugi kehilangan kamu. Kamu cantik. Semua orang akan merasa beruntung mendapatkan kamu.” kata Sergio.
Aku langsung senang dipuji Sergio.


Beberapa bulan kemudian, ototku mulai terlihat lagi. Tubuhku sudah mulai kencang lagi. Berkat bantuan latihan dari Sergio.
Biasanya aku cuma memakai kaos hitam dan celana panjang yoga hitam. Biar kelihatan lebih kurus. Sekarang aku mulai memakai pakaian yang lebih menarik. Celana senam pendek dan kaos ketat berwarna cerah. Mumpung tubuhku sudah mulai terbentuk lagi.
Kadang kadang Sergio mengajakku pergi. Tapi aku masih menolak. Karena perceraianku belum selesai. Takut jadi omongan orang. Maklum tinggal di kota kecil.
Tapi diam-diam aku mulai suka dengan Sergio. Bukan sekedar mengagumi penampilannya saja.
Sergio ternyata beda dengan tipikal pria berotot lainnya. Orangnya rendah hati. Baik dan pengertian. Dan ternyata dia pintar juga. Wawasannya luas.
Jarang ada pria atletis yang sekaligus pintar.
Dia juga fasih beberapa bahasa karena pernah tinggal di beberapa negara.
Dia fasih bahasa Perancis, Spanyol, Jepang, Mandarin dan bahasa Arab.
Aku yang suka bahasa juga, walaupun tidak fasih, jadi bisa belajar dari Sergio.
“Aku udah lama lupa, nggak dipakai sih. Soalnya di sini jarang ada orang asing. Bahasa kan perlu latihan.” kataku.
“Sini aku ajarin. Latihan sama aku tiap hari.” katanya tersenyum ramah dengan lesung pipit khas-nya yang mengoda.
Baik banget sih Sergio.
Sebenarnya aku berusaha agar aku tidak terlena dengan perasaanku. Sebab perbedaan usia yang cukup jauh diantara kami. Walaupun wajahku masih terlihat lebih muda. Belum ada kerutan. Seringkali bule kanget kalau tahu umurku sebenarnya. Termasuk Sergio juga tidak percaya umurku.
Tapi biar bagaimanapun aku tidak mau lah punya  pacar lebih muda.
Tapi di sisi lain aku menikmati berada di dekat Sergio.
Kadang aku berpikir, kok dia mau melatih aku setiap hari tanpa bayaran?
Jangan-jangan dia naksir aku?
Jangan-jangan dia tipe yang suka wanita lebih tua?

 

Suatu hari tak sengaja aku bertemu dengan Sergio di luar gym. Di Farmer market.
“Hi Shieni, apa kabar?” kata Sergio sambil memeluk dan mencium pipiku.

“Hi Sergio, Tumben kamu nggak keliatan di gym beberapa hari ini?” tanyaku.
Tiba-tiba seorang pria tampan datang menghampiri kami.
“Ah kenalkan, ini Sebastian.” kata Sergio.
“Maklum, Sebastian lagi datang liburan mengunjungi aku. Ada boyfriend datang, nggak sempat ke gym!” katanya.
Aku tersentak. Boyfriend?
Kulirik Sebastian yang mengenakan kaos merah muda. Wajahnya lembut, manis mirip wanita.
Walaupun tubuhnya juga atletis, tapi ramping. Tidak besar seperti Sergio.
Sebastian memeluk dan mencium bibir Sergio.
Aku bengong.
Ya ampun, ternyata aku gede rasa sendiri!
Ternyata Sergio itu penyuka sesama!
Ya Tuhan, kenapa kau ciptakan Sergio jadi gay?

 

Tak kuasa aku tergelak. Aku tersadar di halte bus itu banyak orang melihat aku tertawa sendirian.
Kulihat pria ganteng berotot itu masih berdiri di situ.
Pria ganteng itu memandangku dan tersenyum padaku.
Lesung pipitnya manis, persis seperti Sergio.
Tapi umurnya lebih tua, mungkin sekitar  45 -50 tahun.
Rambutnya sudah bercampur putih. Tapi tidak mengurangi ketampanannya.
Aku membalas senyumnya.
Sekedar sopan-santun saja.
Dia berjalan ke arahku dan duduk di sampingku.
“Ni hao!” Sapanya dalam bahasa Mandarin.
Mungkin karena kami berada di China Town, dia mengira aku Chinese.
Persis seperti Sergio, Pria latin yang pintar berbahasa Mandarin.
“Aku bukan Chinese.” Kataku
“Tapi kamu bisa bahasa Mandarin?” tanyanya.
“Sedikit, pernah belajar.” kataku.
Lalu kami bercakap-cakap sejenak sambil menghabiskan waktu menunggu.
Ternyata percakapannya asik juga, dia pintar dan lucu.
Dia seorang Polyglot, suka belajar bahasa, sama seperti Sergio dulu.
“Boleh minta nomer telpon kamu?” tanya pria itu. 
Tapi aku tidak berpikir macam-macam seperti dulu.
Mungkin dia cuma ingin latihan bahasa Mandarin, pikirku.
Di negara ini, Pernikahan pasangan sejenis bebas dan dilindungi hukum.
Aku harus lebih berhati-hati dengan hatiku.
Jangan gampang gede rasa, ingat tuh!

 

Catatan:
Foto diambil dari internet. Bukan foto Sergio yang sebenarnya.