SENI BERKELUARGA (2)

Banyak hal harus berakhir di meja perundingan; boleh atau tidak, setuju atau sebaliknya hingga sepakat untuk tidak sependapat.

SENI BERKELUARGA (2)

 

Di rumah ada radio pemberian istri yang tergeletak tak berdaya di salah satu sudut ruang tamu samping rak buku,   seakan menjadi  benda  yang  tak  berharga.  Tak  ada  yang  merawat atau bahkan sekadar menyentuh.  Padahal radio itu bersejarah, setidaknya dibeli demi memanjakan saya, sang suami,   agar bisa menikmati kebebasan mendengarkan radio.

 

Awalnya saya begitu surprise mendapatkan hadiah radio. Bagaimana tidak, dulu saat masih lajang, mendengarkan radio menjadi satu-satunya hiburan murah sekaligus menjadi sumber informasi penting  kejadian terkini dari berbagai penjuru dunia. Kerinduan mendengarkan siaran radio BBC atau Suara Netherlands sampai hiburan musik dan ringgit purwa kembali terobati.

 

Saya sudah lupa, berapa lama radio itu saya biarkan tak berguna. Di sela-sela saya bergajet-ria,   sesekali saya melirik ke arah radio yang murung dan cemburu atas perilaku saya yang dianggapnya berubah.

 

Saya memang telah berubah. Sejak menikah, hampir semua kebiasaan yang sebelumnya biasa saya lakukan harus menyesuaikan dengan ritme rumah tangga yang berubah 180 derajat. Mulai dari hobi, kebiasaan, minat, selera sampai pada

 

 

 

cara berpikir yang berbeda dengan istri, membuat segala sesuatu sering terjadi percikan-percikan kecil dan ketidaknyamanan satu sama lain.

 

Tidak hanya soal nasib radio yang nahas itu, yang nyatanya tak bisa saya nikmati karena istri tetap tidak nyaman mendengar suara apapun, termasuk radio di rumah. Tapi banyak hal menarik yang saya rasakan dan nikmati dari suka duka berkeluarga; selera makan yang tak pernah sehati, soal pilihan  warna  baju  yang  dipaksakan,  selera  musik/film dan hiburan lain yang ngalor-ngidul hingga hal-hal kecil yang semua harus berakhir di meja perundingan; boleh atau tidak, setuju atau sebaliknya hingga sepakat untuk tidak sependapat.

 

Intinya, hidup berumahtangga tetap butuh seni tersendiri. Pada awal menikah, untuk bisa menonton televisi di rumah saja, butuh diplomasi cerdik selama setahun demi merayu istri yang tidak suka nonton tv, setuju membeli. Dan saat pilihan membeli jatuh pada tv seken seharga 200an ribu pun tetap saya syukuri.

 

Tidak ada aturan memang, tapi harus tahu diri mana yang boleh dan bisa saya atau istri lakukan dan mana yang tidak. “Intinya kebebasan itu harus rela saya korbankan kecuali di atas ranjang.”