Prabangkara: Penyembah Pohon

Bukankah pohon berkambium adalah yang terlebih dahulu diciptakan, sebelum manusia?

Prabangkara: Penyembah Pohon
Dokpri.

 


 



Satya melipat tangannya. Aku berjalan menyaruk-nyarukkan ujung jari kaki ke tanah kering tempatku berpijak. Sungguh, kemarau kali ini mendatangkan rasa kering yang begitu kental. Panas. Kering. Angin kencang. Debu.

"Gusti sedang apa?" Tanyanya.

Tanpa menoleh padanya aku menjawab, "Sedang bicara dengan rumput-rumput kering yang mati terinjak-injak lalu menggelepar di tanah kering yang tak juga  tersentuh air hujan walaupun hanya setetes"

Suaraku terbawa angin. Pasti sampai di telinga Satya hanya sebagian. Mungkin hanya kata 'bicara' saja yang menendang gendang telinganya, selebihnya, seperti dimuntahkan lagi oleh angin yang lalu lalang dan gampang beralih haluan. Herannya Satya tetap tersenyum dan melipat tangannya. Langkahku semakin membuat jarak semakin lebar antaraku dan dia.

Dia mengamatiku.

Sesampai aku di pokok pohon Nagasari. Aku berhenti. Telapak kaki dan kesepuluh jari kakiku penuh debu. Kulitku yang semula putih bersemu merah, kini seperti berbedak abu coklat. Hampir seperti buah Kesemek.

Pohon Nagasari di hadapanku belum terlalu tua usianya. Masih bisa kupeluk lingkar pinggangnya. Daunnya indah menjuntai ke bawah. Daun yang muda berwarna kemerahan. Seperti pipi gadis gunung yang ranum tertimpa matahari pukul sembilan pagi di musim kemarau yang dingin. Aku menyentuhkan kulit telapak jari tanganku pada daun-daun merah jambu itu. Mereka berkelit malu ditiup angin. Mataku menyipit karena tawa. Mengerti juga Nagasari ini bercanda.

Kudengar derai tawa di belakangku. Dua warna suara tawa. Saat kucari sumber dua suara tawa itu, kulihat dua makhluk berdiri bersisihan. Yang seorang dengan kulitnya yang kecoklatan gelap, yang seorang lagi lebih cerah dan sewarna denganku. Kaget juga aku melihat Prabangkara ada di sana.

"Gusti Ayu, bercanda dengan angin, atau dengan pohon Nagasari?"
Tanya Satya memecahkan hening yang segera disambut gelak tawa Prabangkara.

"Tentu saja dengan Nagasari, Satya. Angin hanya sekedar nimbrung"
Jawabku tak mau kalah.

Prabangkara menghampiriku. Ia melingkarkan selendang kunyitku di leherku. Selendang itu tanpa kusadari terjatuh saat angin datang di dekat pohon Nagasari. Prabangkara rupanya memungutnya tanpa suara.

"Kau rupanya sudah mulai jadi Penyembah Pohon juga seperti Satya, Dhiajeng...?" Tanya Prabangkara padaku.

"Belum separah dia, Kangmas..." Jawabku ringan. "Belum berani untuk hanya mengandalkan Sang Pohon untuk bertahan hidup, maksud saya." Satya terbahak dengan gelaknya yang khas.

Kami bertiga berjalan beriringan. Aku, Prabangkara, Satya. Kami berada di sebuah situs yang banyak ditumbuhi pohon Nagasari. Satu yang kuhampiri tadi yang masih muda. Ada beberapa yang tampaknya sudah ratusan tahun usianya. Gurat-gurat alur tubuh pohon Nagasari begitu merbawani. Di antara pohon-pohon Nagasari dan pohon berkambium yang tumbuh di situs tua itu, tumbuhan teratai merah jambu terawat rapi di dalam pot-pot tembikar warna coklat tanah yang sudah ditumbuhi lumut.

........

Kami kemudian duduk di bawah salah satu pohon yang paling besar. Naungan dedaunannya meneduhkan.

Prabangkara memperhatikanku yang memperhatikan pohon besar ini. Ada salah satu celah tergelap di batang pohon. Letaknya tepat di bawah kain Rwa Bhineda yang meliputinya. Sisa-sisa dupa dan canang ada di sana. Di sudut, terdapat semacam pelinggih dari bebatuan muda. Namun pada dinding tebing, dimana potensi longsor terjadi, meski talud batu terpasang rapi, terdapat lambang lencana segi delapan dengan sembilan simbol dewa-dewa. Kurasa usianya cukup tua. 

Perlahan aku menoleh ke arah Prabangkara.

Ia diam saja. Hanya bibirnya yang tersenyum. Lalu, katanya,

"Jika kau sudah bisa melihat kemilau dari kelamnya hitam, itulah cahaya yang sesungguhnya...."

Aku kembali memperhatikan pohon besar ini, setelah mengangguk mengiyakan kalimat Prabangkara. Kuikuti arah pandangnya yang juga mengamati celah gelap. Pohon ini tinggi menjulang. Barangkali yang tersembul di permukaan bumi hanya 1/3 bagian tubuhnya saja. Selebihnya, 2/3 bagian tubuhnya, adalah akar yang berada di kegelapan. Setia menjalani tugasnya melata dan menggenggam erat air kehidipan. Barangkali itu lah yang dimaksudkan Prabangkara. Gelap. Hitam. Legam. Kelam. Namun menyimpan kemilau. Hanya bagi orang-orang yang mau melihatnya.

 

Satya menyimak setiap kata yang diucapkan Prabangkara. 

 

Lalu ia sendiri berkata,

"Sahabat bagi langit yang cerah.

Pohon itu begitu tinggi hingga mahkotanya seperti di atas awan.

Embun yang jatuh di lembah meluncur turun dari dedaunan.

Angin kencang sering muncul di puncaknya, tidak ada yang tahu dari mana asalnya.

Tidak seorang pun, kecuali mereka yang dapat melihat kematian sebelum dia mati.

Para roh berkumpul di pohon itu."

 

Kami begitu menikmati bila Satya sudah mabuk kepayang begitu. Mabuk kata-kata. Ia adalah raja kata-kata. Sedangkan Prabangkara adalah raja segala rasa, dan Sang Kelana yang Sesungguhnya. Aku, sangat beruntung memiliki mereka. Seperti layaknya seekor burung Kepodang dengan dua sayapnya yang kuat aku ini.

 

"Lanjutkan, Satya," pinta Prabangkara.

Dengan hidmat, Satya mengangguk, penuh penghormatan. Dikeluarkannya secarik kertas dari saku celananya. Ikat kepalanya ia kencangkan.

 

Lalu, ia membaca tulisan tangannya sendiri, setelah menyalakan tiga buah dupa lagi.

"Sěmbah ni ngwang i jöng bhaţāri Durgā sang amāwak dasāshtra ri sarwamândhala puruşha, asurawinasâ dānawagatha, ring pãncãngga susūkşma buthapati tattwa nira, kālaratri mahöjalwadarirūpa bhāwani sang mahisāsuramardini ri trisūla añirnaa awidya ni nghulūn kadi buddhidharma tumurun agawé jagadhita

Sembah hamba kepada Hyang Bhatari Durga yang berwujud dasāshtra sebagai kekuatan dari segala penjuru arah, pembinasa segala angkara murka dan pembunuh segala kejahatan, yang menjadi lima unsur pembentuk kehidupan, berwarna hitam seperti malam, menyimpan semesta dalam kandungannya sekaligus sebagai sthananya. Ibu dari alam semesta yang membunuh iblis Mahésasura dengan trisula, lenyapkanlah kebodohan hamba seperti Engkau turunkan kebijaksanaan saat menciptakan kedamaian dunia.


Yang memiliki tiga mata sebagai penglihatan di tiga masa. Matahari di saat ini, Bulan di masa lalu dan Bintang seperti nyala api menerawang ke masa depan.
Dengan sepuluh tangan yang menjadi kekuatan dari sepuluh arah.

Di Utara dia memegang gada yang meremukkan tanah dan menggugurkan dedaunan, di Selatan memegang cambuk yang memuntahkan api pegunungan, di Timur dengan bajra dia mengeluarkan kilatan petir yang menakutkan, di Barat menggenggam ular yang menyebarkan racun dibalik awan gelap serta sangkha, di Barat Laut meniupkan badai.

Barat Daya dengan pedang yang keluar dari kegelapan dan hujan, Tenggara sebagai danda yang menggetarkan tanah dan bebatuan, Timur Laut membawa trisula dari tiga guna, Atas pankaja yang akarnya menembus bumi, dan di dasar ujung jarinya memutarkan cakra sudarsana menggerakan isi semesta, melenyapkan segala kejahatan dan ketidakseimbangan dengan karma dan řta.

Ibu dari semua dunia yang menjaga kesejahteraan semua makhluk, penghancur dosa dan ketidakadilan, memusnahkan segala kebodohan, sebagai Kali Maha Usada yang menawarkan zaman kekacauan."

 

Kami bertiga menghela napas. Lega. Tenang. Lalu larut  dalam diam. Lama.

 

"Kita bertiga ini, bukan penyembah pohon, Kangmas. Kita hanya sedang merayakan, dan mengenang perannya untuk kehidupan anak cucu kita," kataku, pada Prabangkara. Saat kuusap lengan kanan atasnya, kulihat masih terbebat kain katun berisi ramuan akar-akar pohon dan dedauan. Aku mengenali luka itu. Aku yang membebatnya. Satya yang meracik ramuannya. Aku menjagainya saat ia demam tinggi. Sekarang bertiga kami di sini. Prabangkara sudah beranjak membaik kesehatannya.

 

Terima kasih, Kakangmbok Wit Witan. 

 

 

Kramat Pela & Makassar, 2019 & 2020.