Penyamun di Sarang Perawan

Catatan pemikiran dan pendapat pribadi setelah nonton film Ari & Ratu Ratu Queens (2021)

Penyamun di Sarang Perawan
Foto tangkapan layar elektronik.
Terus terang, saya bukan orang yang suka dengan film-film Indonesia yang mengambil lokasi di luar negeri. Menurut saya, film-film yang demikian hanyalah menjual eksotisme, jualan keindahan tanah asing. Biar terlihat keren, karena setting-nya di luar negeri. Pemikiran yang terasa jahat ya, tapi begitulah saya. Maafkan…
 
Akibatnya, saya menjadi sangat hati-hati kalau memilih film dengan setting luar negeri. Lihat dulu siapa pemainnya, apa latar belakang ceritanya (kalau cuman cerita cinta, lewat!), dan siapa editornya. Yang terakhir ini kadang menjadi sangat personal. Semakin saya kenal atau 'kenal' editornya, semakin besar kemungkinan saya akan menontonnya.
 
Begitulah yang membuat saya akhirnya menonton film Indonesia Ali & Ratu Ratu Queens (2021). Film yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi dan berdurasi 1 jam 40 menit ini, bergenre drama komedi. Berbahasa pengantar Indonesia dan sedikit Inggris.
 
Editor film ini adalah Aline Jusria. Sosok yang ternyata sempat juga tampil cameo di film. Ya, betul, nama Aline menjadi jaminan bagi saya untuk menonton film yang setting lokasi utamanya adalah di New York, Amerika Serikat. Bersyukur film ini tayang di Netflix, sebab kalau di bioskop pada masa pandemik begini, engganlah saya menontonnya—catatan tak penting hehe…
 
Sungguh, saya suka dengan film ini. Tidak menyesal menontonnya. Kenapa? Karena: bagus! Dalam berbagai hal. Yang kasat mata, pemandangan-pemandangannya banyak tampak menarik. Saya takkan berkata, "jelas saja, kan syutingnya di New York!" Karena, saya yakin tim produksi dan pascaproudksi dalam film ini bisa menghasilkan pemandangan yang menarik di manapun lokasinya.
 
Kostumnya, khusus untuk empat perempuan kelompok Ratu-ratu Queens, sangat menarik perhatian saya. Selain kelihatannya lucu dan seru, kostum yang mereka pakai berhasil menciptakan nuansa kepribadian dari masing-masing empat perempuan tersebut. Sekaligus, menunjukkan kelas sosial mereka.
 
Ceritanya juga bagus. Konflik dibangun dengan baik. Apalagi, bumbu percintaan, yang tak terhindarkan, benar-benar hanya hadir secukupnya. Untuk orang yang tak tertarik dengan cerita romantis seperti saya, sangat menyenangkan bahwa film ini tak berlama-lama bicara tentang cinta antarsepasang remaja, yang kebetulan bertemu di perjalanan film ini.
 
Adegan dalam film ini dibuka dengan...... Ah, sebaiknya saya tidak membicarakan hal ini. Lebih baik kamu nonton saja sendiri. Buat yang berlangganan jasa streaming Netflix, tinggal nonton di situ.
 
Film ini menegaskan pada saya bahwa perseteruan antarpasangan suami istri yang mempunyai anak, akan selalu menimbulkan korban. Siapa lagi kalau bukan si anak tersebut. Ali kecil (diperankan oleh Gamaliel Eleazar) yang baru berusia 7 tahun, menjadi anak broken home setelah ibunya, Mia (Marissa Anita) yang mengejar karir ke New York menolak kembali ke tanah air. Sementara, ayahnya (diperankan Ibnu Jamil) menolak menyusul meski kesempatan untuk itu pernah ada. Sang ayah memilih membesarkan Ali sebagai orang tua tunggal di Jakarta, Indonesia.  Didukung oleh keluarga besarnya, yang punya maksud demi melindungi Ali. Tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan Ali yang sebenarnya.
 
Semua pihak tampaknya memang berpikir bahwa mereka bertindak untuk melindungi Ali. Tanpa sadar bahwa mereka tindakan mereka malah semakin menempatkan Ali sebagai korban. Termasuk Mia sang mama, yang dengan cukup pengecut memaksa kehendaknya melalui Party (Nirina Zubir) agar Ali pulang saja ke Jakarta. Dengan tambahan suruhan supaya melupakan dirinya sebagai ibunya. Duh…
 
Party dan tiga teman serumahnya, Chinta (Happy Salma), Biyah (Asri Pramawati), dan Ajeng (Tika Panggabean); adalah 4 perempuan diaspora asal Indonesia yang menyebut diri sebagai Ratu Ratu Queens. Penamaan eksistensi seperti itu sungguh cara centil khas ibu-ibu rumpi Indonesia. Tapi, juga cara yang pintar dalam memainkan campuran kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang maknanya sama, sekaligus juga menujukkan lokasi tinggal mereka di New York, daerah Queens.
 
Empat perempuan diaspora Indonesia ini, tanpa diucapkan sepakat untuk melindungi Ali, dan dengan tulus. Saya sampai terharu melihat adegan di mana mereka merangkul Ali di jalanan, saat Ali mengkerut sebab ditolak ibunya pada pertemuan pertama mereka.
 
Bagaimana Ali (Iqbaal Ramadhan) yang kini berusia 17 tahun bisa sampai ke New York?  Bagaimana dia bisa menjadi ‘penyamun di sarang perawan’? Hmmm…, nonton saja deh. Rating usia film ini dipatok 13 tahun, tapi saya rasa film ini cocok sebagai film keluarga. Rasanya tak ada bahayanya deh buat ditonton oleh anak yang lebih muda dari usia 13 tahun. Paling-paling ya repot ditanya-tanya mereka saat kita sedang asyik menonton. Hehe…
 
Sebelum mengahiri pandangan mata dan hati ini, saya harus menyebutkan bahwa ada satu tokoh dengan pribadi yang tampak menyenangkan, tapi hanya mampir sebentar di film. Professor Andrea namanya, diperankan oleh Bari Hyman, seorang aktris New York.
 
Kalau ada film Ali lanjutan, sebaiknya Professor Andrea muncul lagi, dan diperankan oleh Bari Hyman juga. Demikian menurut pandangan saya sepihak.   =^.^=