Mereduksi Konflik di Era Digital Dengan Komunikasi Sehat

Mereduksi Konflik di Era Digital Dengan Komunikasi Sehat

Sejatinya setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda dalam mendidik dan membesarkan generasinya. Demikianlah, hadirnya tekhnologi yang akan terus berevolusi, seperti saat ini, tak  ayal menjadikan perubahan pola pikir, perilaku dan budaya manusia secara drastis dan signifikan.

Bisa dipahami, pergeseran tekhnologi sangat layak dikatakan membawa begitu banyak manfaat bagi kita dalam menyelesaikan lalu-lalang kehidupan yang terus bergerak cepat.

Namun demikian, disaat yang bersamaan teknologi turut menjadi ancaman serius. Laksana bom waktu, tekhnologi seketika dapat merusak tatanan keharmonisan dan pergaulan antar sesama, jika kita kurang bijak menyikapinya. Lebih-lebih lagi jika dikaitkan dengan generasi millenial dimana dunia digital sudah mengakar mendarah daging di jiwa mereka.

Masih segar dalam benak kita, sebelum era digital hadir merajai dunia, pola hubungan dalam keluarga, kerabat maupun rekan sejawat terasa lebih rapat dan hangat. Komunikasi serasa booster, tempat menaungkan bermacam rindu dan beban kepada orang-orang terkasih. 

Tapi dimasa sekarang, tak bisa dinafikkan, aktifitas digital telah begitu masif merubah tataran berpikir dan berkomunikasi. Generasi milenial yang notabene merupakan digital netizen dengan generasi sebelumnya yang merupakan digital migrant kerap melahirkan konflik dan ketidak kesalahpahaman yang berujung kepada perpecahan.Maka alangkah mahalnya harga sebuah keharmonisan hari ini.

Memang benar, konflik bisa saja dan akan terus terjadi karena masing-masing memiliki karakter yang berbeda tapi dipaksakan untuk hidup bersama di dalam satu komunitas. Namun demikian, sejatinya adanya konflik menjadi sisi humanis yang semestinya bisa diredam dengan komunikasi sehat, komunikasi yang diwujudkan dalam pilihan kata dan tindakan yang santun dan tidak emosional. Begitupun, para pihak yang berseteru tentunya wajib beritikad baik, berperilaku konstruktif, logis, dan sistematis.

Lantas bagaimana pula dengan konflik dimedia sosial yang kerap menjadi adu banteng, karena komunitas yang berseteru, masing-masing  merasa dipihak yang benar. Berawal dari dunia virtual pula, tidak sedikit terjadi pertarungan kepentingan, konflik sosial, dan pelanggran hukum yang berujung pidana dan dapat menimbulkan keresahan yang mengancam disintegrasi bangsa. 

Disinilah pentingnya empati digital, dimana kemampuan kognitif dan emosional harus menjadi reflektif dan tanggung jawab secara sosial saat menggunakan media digital.

Pakar komunikasi Dr.Yonty Friesem, mengemukakan, pada hakikatnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara “empati digital” dan “empati (konvensional)” di dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sama sama merujuk kepada kemampuan kognitif, emosi, dan afeksi seseorang dengan memosisikan dirinya sebagai orang lain sehingga mampu mengenali perasaan dan emosi yang dialami oleh orang lain. 

Masih menurut Dr.Yonty, literasi digital secara holistik menekankan kepada aplikasi berpikir kritis, berakal sehat dan berempati yakni membuka diri menyelami perspektif lain sehingga mampu memahami dan merasakan dari perspektif berbeda sehingga memunculkan sikap dan karakter yang berintegritas dan humanis. 

Berangkat dari permasalahan di atas, it takes a village to raise a child, dalam konteks era digital ialah bagaimana mendidik dan mengasuh anak sebagai pewaris masa depan bangsa menjadi tugas dan tanggung jawab kolektif semua kalangan mulai dari tataran paling besar yaitu negara (bahkan mungkin warga dunia) sampai kepada unit terkecil yakni individu.

Bagaimana semua terlibat secara aktif dalam mempersiapkan dan membekali generasi millenial di dalam kehidupan sosial dengan merujuk kepada etik, norma dan kearifan baik itu yang bersifat lokal maupun universal. 

Nilai-nilai agama dan kearifan lokal dapat menjadi code of conduct dalam berinteraksi dan bersosialisasi di internet dan media sosial perlu didesain, dikembangkan dan disosialisasikan secara konstan agar dengan mudah diaplikasikan. 
Perlu pula ditekankan bahwa teknologi sejatinya hanyalah alat dan sarana untuk memperoleh informasi yang dikembangkan untuk dijadikan pengetahuan serta menjadikan komunikasi menjadi mudah dan efektif.

Singkatnya menumbuhkembangkan dan memperkuat empati digital harus dilakukan sedini mungkin dalam tataran, keluarga, sekolah dan masyarakat. 

Negara dalam hal ini pemerintah tentu saja harus hadir dan memfasilitasi penguatan literasi digital yang holistik ke dalam undang-undang dan kebijakan.

Pada tataran keluarga, perlu dikembangkan tradisi berdiskusi antar anggota keluarga serta penanam tentang nilai dan tata karma yang berlaku universal dan di mana saja.

Salah satu langkah tepat guna membentuk dan membangun keluarga digital dengan baik adalah dengan digitalisasi keluarga. Keluarga di era sekarang lebih dituntut untuk paham teknologi, khususnya orang tua untuk mengimbangi anak anak mereka yang sudah canggih dengan teknologi digital. Hal ini sangatlah penting, karena literasi digital adalah salah satu dari komponen literasi dasar yang dikembangkan pemerintah dalam Gerakan Literasi Nasional. Pendidikan berbasis keluarga dan literasi digital berbasis keluarga diharapkan bisa meningkat dan berkolaborasi bersama dengan sektor pendidikan lain.

Anak-anak dalam keluarga harus ditanamkan kesadaran, bahwa norma-norma di dunia maya pada dasarnya sama dengan berbagai norma atau kaidah yang ada dalam masyarakat, yakni ada norma agama, kesusilaan, kesopanan dan norma hukum. Pelanggaran terhadap norma- norma tersebut di dunia maya akan membawa efek yang tidak kondusif  bagi masyarakat dan khususnya kalangan sesama pengguna media digital. 

Kemudian pada tataran sekolah, warga sekolah perlunya aplikasi berpikir kritis dan melaksanakan praktik bersosialisasi termasuk sosialisasi di dalam dunia virtual untuk menumbuhkan empati digital.

Lebih jauh, Pada tataran masyarakat perlu dikembangkan sanksi sosial hingga perlindungan hukum. Penegakan hukum dan undang-undang tentang apa itu kejahatan siber dan kriterianya serta sanksi yang tegas perlu diberlakukan kepada mereka yang menjadi pelaku. Membangun budaya debat dan kritik konstruktif didasari dengan sifat tabayun merupakan bagian dari empati digital. 

Dengan melakukan langkah-langkah konstruktif diatas, harapannya, komunitas maupun individu yang terlibat konflik tidak lagi saling bermusuhan, merasa puas atas keputusan bersama, serta mendapat pembelajaran dari konflik yang mereka hadapi.

Dan pada saatnya, dengan terus mengkomunikasikan pentingnya  literasi digital dan juga empati digital khususnya di kalangan generasi millenial, ancaman dan bahaya disharmoni bangsa tidak mustahil dapat diredusir secara signifikan dan dengan membangun komunikasi sehat akan memperkuat karakter dan integritas untuk menghadapi era persaingan bebas.