MENIKAH SIRI SAMA PELACUR BULE

MENIKAH SIRI SAMA PELACUR BULE

Saya mau cerita sebuah kisah nyata yang, jujur saja, sampai sekarang masih bikin saya geleng-geleng kepala. Saya tau di dunia ini banyak orang bodoh, tapi saya gak pernah menyangka ada kebodohan yang bisa dirangkai sedemikian sistematis, rapi, bahkan terasa logis bagi pelakunya sendiri.

Ceritanya bermula dari komunitas kami yang bernama The Writers. Setiap hari Jumat kami punya acara rutin bernama Zoom Out Collabs, bentuknya semacam webinar, tapi suasananya lebih mirip silaturahmi.

Kalau lagi gak ada narasumber, kami sendiri yang gantian bercerita. Ceritanya boleh apa saja. Dari pengalaman hidup sampai cerita-cerita absurd yang kadang lebih masuk akal daripada kenyataan.

Malam itu, yang jadi narasumber adalah Bendot, seorang tour leader berkewarganegaraan Belanda. Aslinya dia orang Indonesia tapi sudah puluhan tahun tinggal di Amsterdam.

Bendot adalah seorang tour leader yang sudah kenyang makan asam garam dunia pariwisata. Meskipun demikian, malam itu dia membawa cerita yang bahkan dia sendiri pun terlihat masih belum sepenuhnya pulih dari keanehannya.

Dia bercerita tentang pengalamannya membawa turis, rombongan anggota DPR dari negara Konoha. Konon katanya mereka sedang melakukan studi banding demi memajukan negara Konoha. Aamiin.

Perjalanan berjalan lancar. Rutenya standar tur Eropa: Belanda, Belgia, Jerman, Perancis, Italia, sampai Swiss, lengkap dengan agenda klasik, kunjungan ke objek wisata, foto-foto, berburu oleh-oleh, dan tentu saja ISOMA: istirahat, sholat, makan, yang dilakukan dengan disiplin khas rombongan pejabat.

Di antara rombongan itu, ada satu orang yang sangat menarik perhatian Bendot, bukan karena posisinya, tapi karena kesalehannya. Sebut saja namanya Pak Ibrahim. Seorang yang setiap masuk waktu sholat selalu sibuk bertanya di mana masjid terdekat, dan kalau tidak menemukan, dia akan sholat di sudut restoran tempat rombongan makan siang, tanpa peduli siapa yang melihat.

Selama berhari-hari, Bendot memperhatikan sosok ini dengan rasa hormat, bahkan mungkin sedikit kagum, karena di tengah perjalanan dunia yang penuh distraksi, orang ini terlihat begitu konsisten menjaga hubungannya dengan Tuhan.

Sampai akhirnya, sehari sebelum tour berakhir, tiba-tiba Pak Ibrahim memanggil Bendot ke kamarnya.

Sebagai tour leader profesional yang selalu mengutamakan kepuasan tamu, Bendot langsung datang, setengah berlari, membayangkan mungkin ada komplain, atau permintaan khusus yang masih dalam batas wajar.

“Ben, besok lusa kan kami pulang ke Konoha. Saya mau minta tolong,” kata Pak Ibrahim dengan nada serius.

“Oh, boleh, Pak. Apa yang bisa saya bantu?” jawab Bendot, masih dengan respek penuh terhadap sosok yang selama ini ia anggap sebagai teladan kesalehan.

Dan kemudian, kalimat berikutnya keluar, pelan, santai, tanpa beban. “Bisa tolong cariin perempuan? Seumur hidup saya belum pernah ML sama orang bule.”

Jantung Bendot seperti berhenti sepersekian detik. Semua asumsi yang ia bangun selama beberapa hari terakhir runtuh dalam satu kalimat.

Ia sempat terdiam, lalu menjawab hati-hati, “Maaf, Pak. Saya ini tour leader… bukan germo.”

Pak Ibrahim terdiam sejenak. Ia terlihat semakin serius, katanya. “Kamu kan punya jaringan. Bisa minta tolong orang lain. Pasti banyak kenalan di sini.”

Bendot mulai merasa ini bukan percakapan biasa. Tapi ia tetap mencoba profesional. “Nanti saya coba tanya teman, Pak. Tapi saya gak janji, ya.”

Sesampainya di mobil, Bendot menceritakan permintaan tamunya pada rekan kerjanya.

Sang rekan langsung nyaut, “Kasih aja kartu nama ini. Di sana banyak pelacur yang cantik.”

“Oh, okay. Tapi gue gak mau nganterin ke tempat pelacuran itu,” kata Bendot sembari menerima kartu nama tersebut.

“Gampang itu mah. Ntar gue yang nganter dia.”

Dengan bergegas, Bendot kembali menemui tamu tadi di kamarnya. Dan masalah baru muncul. “

Saya gak mau main di tempat pelacuran. Saya maunya perempuan itu yang ke sini.” Pak Ibrahim berkata dengan tegas.

“Waduh, saya gak tau bisa atau nggak. Emang kenapa gak mau ke sana, Pak?”

“Berzina itu dosa, Ben. Kamu kan tau saya selalu menjalankan perintah Allah dan tentunya juga menjauhkan apa yang dilarang.”

Bendot langsung pusing kepala. “Tapi kan main perempuan juga dosa, Pak?”

“Nah, itu sebabnya saya mau mainnya di sini. Saya akan nikahi dulu perempuan itu supaya halal.”

Migren di kepala Bendot mendadak semakin parah, “Sumpah saya nggak ngerti, Pak. Bisa diterangin lebih jelas? Kok main di sini bisa jadi halal?”

“Jadi begini. Saya akan menikah siri dulu sebelum main dengan cewek bule itu. Jadinya kan sudah halal hukumnya. Nanti setelah main, baru saya ceraikan lagi.”

Bendot semakin ternganga tapi dia sempat bertanya juga, “eeee, tapi... saya nggak sanggup deh kalo disuruh nyari penghulu buat kawin sirinya.”

“Tenang. Kamu tau Pak Dirman kan yang di rombongan kami?”

“Iya tau. Pak Dirman yang kulitnya item dan selalu pakai baju batik itu?”

“Iya, betul. Dia sebetulnya supir saya. Saya selalu bawa dia ke mana2. Jadi setiap kali saya butuh cewek, dia yang selalu menikahkan saya dan menceraikannya lagi setelah selesai main.”

Kali ini Bendot kena serangan bengong parah. Dia gak sanggup berkata apa-apa lagi. “

"Jadi dengan cara itu, kita bisa melampiaskan libido tanpa harus diganjar dosa. Semuanya dilakukan sesuai dengan perintah agama. Insya Allah kita terhindar dari api neraka.” Pak Ibrahim terus berkhotbah.

Setan lewat. Keduanya terdiam sampe beberapa puluh detik. Setelah menghela napas panjang berkali-kali, barulah dia merasa lebih tenang,

“Gini, deh, Pak. Saya akan suruh rekan kerja saya ke sini ya. Biar dia yang mengurus semua ini. Rasanya saya kurang enak badan. Butuh istirahat.”

Balik ke mobil, Bendot berkata pada rekannya, “Bro, lu urus deh Pak Ibrahim. Nyerah gue.”

“Siap, Boss.” Kata Sang Rekan sambil berjalan menuju kamarnya Pak Ibrahim.

Bendot menyelesaikan ceritanya. Anehnya sampai beberapa menit, gak ada yang bertanya. Ruang zoom sepi. Semua orang shock mendengar cerita Bendot.

Perlahan kami mulai memahami bahwa kebodohan paling berbahaya bukan yang kasar dan terlihat jelas, tapi yang dibungkus rapi dengan pembenaran, sampai pelakunya sendiri percaya, bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang benar.

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.